
Dor
Satu peluru menembus dadaku dan di saat itu juga penglihatanku hilang. Sempat sebelum aku kehilangan kesadaran, Eri meneriaki namaku. Kini tubuhku sama seperti waktu itu, jiwaku lepas dari tubuhku, dan tubuhku di selimuti asap hitam. Mataku memerah, kali ini agak berbeda dari sebelumnya. Rambutku berubah menjadi warna putih dan tubuhku melayang satu jengkal dari tanah yang kuinjak sebelumnya.
Angin kencang bersiur mengelilingi tubuhku, dedaunan dan debu-debu ikut beterbangan. Ian dan Eri mendekatku, mereka berusaha mencegahku melakukan apa pun. Di sisi lain, para prajurit mengancungkan senjata mereka padaku. Suasana semakin ricuh, orang-orang keluar dari rumahnya. Di kananku, para pemuda terlihat tersenyum, begitu pula dengan yang lain.
Dor Dor Dor
Banyak tembakkan mengarah pada tubuhku. Tubuhku mengangkat tangan kanan ke depan “Berani sekali kalian menembakiku.”
Syut
Waktu terhenti, tidak ada yang bergerak. Daun yang mengambang di udara, tembakan-tembakan yang berhenti meluncur dan orang-orang menjadi patung. Bahkan Ian dan beberapa prajurit yang memiliki kekuatan waktu ikut terhenti, hanya aku, jiwa yang terlepas dari tubuhku yang melihat tubuhku bergerak. Aku melangkah menuju tubuhku, meskipun dia selalu membantuku dalam keadaan sulit, tapi tetap saja tubuhku itu miliku, hanya milikku.
Aku melangkah ke tubuhku di depan sana, namun dengan cepat dia terbang setinggi sejengkal menghampiri para prajurit, melewati begitu saja. Tubuhku mengambil satu bilah pisau dari salah satu rompi prajurit. Dengan tega, dan tanpa rasa takut. Tanganku yang sudah memegang pisau itu mengarahkan ke leher sang prajurit.
Hanya ada sayatan panjang tanpa ada darah yang keluar, mungkin saja itu karena waktu yang terhenti. Jika waktu kembali berjalan, sayatan itu akan menjadi luka yang sangat menyakitkan. Bukan hanya satu prajurit itu, namun semua prajurit yang ada di sini.
Aku menyaksikan dengan mata bulat, aku menjadi seorang pembunuh. Aku melihat tanganku yang transparan, jika memang ini yang harus aku lakukan maka lakukanlah. Mereka yang jahat pantas mendapatkan karma yang setimpal.
__ADS_1
Dalam kurun waktu 5 menit, semua prajurit sudah tersayat. Hingga tunggu waktu berjalan, maka semua menjadi takdirnya. Tubuhku kembali ke posisi semula lalu melihatku dengan tersenyum.
Syut
Waktu kembali berjalan, dan jiwaku kembali ke tubuhku. Semua pandangan hilang, aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mengelilingi ruang kosong nan hampa, tidak ada satu makhluk hidup di sini. Namun tak lama aku melihat diriku dengan tampilan tadi, dia tersenyum dan melambai.
“Kamu siapa?” Tanyaku sembari menghampirinya. Dia tidak berbicara, dia hanya tersenyum dan melambai. “Kenapa kamu bisa mengendalikan tubuhku?, Dan kenapa jiwaku bisa terlepas dari tubuhku?.”
Dia berhenti tersenyum dan melambai. Kini aku sudah ada di depannya, aku hanya berjarak tiga meter darinya. Kami hanya saling menatap, udara di ruangan gelap ini semakin dingin, jangan bersiur dengan kencang.
Dia terbang ke arahku, di saat itu pula angin menjadi sangat kencang. Tak ada ekspresi atau senyum khasnya, dia terbang dengan perlahan menghampiriku. Tepat sejengkal dari depanku, dia menghembuskan nafas panjang. Aku tidak bertanya atau apa, dia membuatku mematung di tempat.
Banyak suara tembakan, teriakan, suara-suara gaduh dan banyak orang yang tergeletak tak bernyawa. Darah mewarnai lantai putih di bawahnya menyisakan saksi biksu atas kejadian besar ini.
Seorang wanita berlari dari arah pintu besar mengarah pintu yang di sampingku. Wanita itu sangat cantik, dia memakai mahkota yang cantik pula, dan memakai gaun yang sangat indah seperti ratu-ratu kerajaan. Berlari dengan tergesa-gesa, banyak sekali noda darah di gaunnya dan dia membawa seorang bayi cantik yang sedang menangis keras.
Tanpa aku harus berjalan atau berlari mengikutinya, semua seperti berjalan sendiri. Aku seperti melihat sebuah film secara langsung, mereka berlari dan tempat yang aku injak berpindah dengan sendirinya. Seperti mimpi yang abstrak. Kalau di perhatikan, ini memang seperti sebuah istana megah dan indah.
Dia membuka setiap pintu yang ada bersama bayinya, wanita cantik itu menangis. Dia meneriaki siapa saja yang ada di setiap ruangan, namun tidak ada satu orang pun yang terlihat. Sampai akhirnya dia berada di dapur istana, wajan, panci dan bahan-bahan makanan berantakan di tempat itu. Para pelayannya sedang duduk meringkuk memeluk lutut mereka sendiri, wanita itu berlari mengarah ke salah satu pelayan di sana.
__ADS_1
“Tolong bawa Putri ke tempat yang jauh, kerajaan ini tidak akan bertahan lama lagi. Dia akan menjadi harapan terakhir bagi kalian, dia adalah keturunan istimewa darah murni Leo, di tubuhnya memiliki kekuatan yang sangat besar. Tolong rawat dia seperti anakmu sendiri, aku tidak mungkin meninggalkan suamiku sendiri menghadapi para penghianat” Suara sang ratu terdengar sangat menyakitkan, melepas anaknya untuk keselamatan anaknya. Dia ratu yang baik, ingin berjuang bersama suaminya. Dan dia adalah ibu yang baik.
Pelayanan wanita itu berdiri, dan bertapa terkejutnya aku ketika melihat wajahnya. Dia adalah Ibuku, ibu yang merawatku selama ini, ibu yang selalu ada untukku, ibu yang selalu merawatku, dan ibu yang selama ini aku sayangi.
Air mataku menetes, selama ini Ibuku hannyalah seorang pelayan istana, dan ratu cantik itu adalah Ibuku. Walau Ibu hanya pelayan istana, tapi tetap saja dia adalah Ibuku. Kedua wanita di depanku adalah kedua ibuku, ibu yang melahirkan dan ibu yang merawatku. Aku mengelus pipi sang ratu namun sayang, semua ini seperti hologram, tidak bisa di sentuhan, hanya bisa menyaksikan.
“Baik ratu.” Ibu menggendongku dari gendongan sang ratu. Ibuku sang ratu mengecup jidat bayinya dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Sang Ratu menghapus air matanya dan tersenyum, dia mengelus bayinya di gendong pelayan istana “Tina jadi anak yang baik ya nak, jaga kesehatanmu, jangan lupa makan, jangan repotkan ibu barumu dan jadilah anak yang pintar dan baik hati.” Dia mengecup pipi anaknya sekali lagi, air matanya jatuh menimpa bayinya. “Jadilah anak yang kuat, balaslah penghianat di Planet-Mu nak, ambil kembali tahta kerajaan ini dan jadilah ratu yang hebat dan baik hati.”
Ibuku yang menggendongku menangis tak kala melihat sang ratunya menangis di hadapannya. Sang ratu membuat sebuah pola di udara hingga membentuk sebuah lingkaran hitam yang mengeluarkan asap putih. Itu sama seperti yang aku lihat saat Ian membuat teleportasi.
“Masuklah ke dalam, ini adalah tempat yang sangat jauh.” Sang Ratu melepaskan kalung dan antingnya. “Juallah ini untuk membiayai hidupnya, tolong jaga anakku seperti anakmu sendiri. Didiklah dia menjadi anak yang kuat, pintar dan baik hati. Jauhi dia dari orang-orang jahat dan para penghianat itu.”
Ibu yang menggendongku mengangguk “Baik Ratu.”
Suara seperti bangunan roboh terdengar jelas, kedua Ibuku terlihat sangat cemas, gelisah, tegang dan takut. Mereka saling menatap, dan sang ratu mengaguk.
Sebelum Ibu yang menggendongku ini melangkah maju ke teleportasi di depannya, Ibu yang melahirkan aku mengecup sekali lagi pipi dan jidatku. Ibu mengelus dengan tangan cantik dan hangatnya itu. “Ibu sangat menyayangimu.”
__ADS_1