
“Tidak!, Kalian adalah bawahan para penghianat” Kata-kataku mampu membuatnya geram, dia mengepalkan tangannya. “Suatu saat nanti aku akan kembali bukan sebagai seorang Putri, namun sebagai seorang Ratu. RATU!.”
“Serang mereka, aku tidak peduli lagi jika kita membawanya dalam keadaan tidak hidup” Aku menelan ludah sendiri dengan susah payah akibat mendengar perkataan Rik barusan.
Dor Dor
Satu, dua, tiga, peluru menembus perutku. Tidak sakit, namun tetap saja perutku menjadi berlubang. Eri dan Ian kembali melakukan serangan, aku tidak tinggal diam, aku menembaki seluruh prajurit dengan senjata di tanganku. Walau sering melesat, setidaknya ini membantu perlawanan kami.
“Iann.” Suara Ibu Ian mengalihkan pandanganku, Ian terkena tembakan pada bahu kirinya.
Aku menghentikan waktu dan menghampiri membantu Ian. Eri masih melawan mereka dengan sangar, ini kesempatan emas bagi kami. Aku melihat luka cukup dalam di bahu Ian, aku tidak bisa melakukan apa-apa, Ian bukan diriku yang bisa menyembuhkan diri sendiri. Bahkan 3 peluru yang menembus perutku tadi sudah hilang.
“Aku tidak apa-apa.” Ucapnya sembari memegang luka di pundaknya, dia tersenyum kepada orang tuanya. Walaupun dia berucap seperti itu, namun wajahnya tidak menunjukkan sebaliknya. “Kita harus pergi dari sini.”
Aku mengangguk, kita tidak bisa mampu melawa mereka sebegitu banyaknya. Paman Yian dan Jian pun belum kembali, sedangkan orang tua Ian tidak bisa berdiri karena terlalu lemas. Waktu sebentar lagi kembali berjalan, kami harus berpikir keras untuk mengatasi ini. Sementara Eri sudah mulai kehabisan tenaga, beberapa kali balok besar yang di layangkan terjatuh sebelum mengenai prajurit.
“Biar aku yang menggendong orang tuaku, kalian lindungi kami.” Ucap Ian sembari menyuruh ayahnya menggendong di punggung dan Ibunya di bopong. Melihat Ian seperti itu membuatku terharu, dia berbakti sekali pada kedua orang tuanya. Ian anak yang baik, dia terus tersenyum walau luka di bahunya menyebarkan rasa sakit.
Aku dan Eri mengaguk, aku berdiri di samping Eri. Waktu kembali berjalan, beberapa tembakan lolos mengenai tubuhku. Kami mulai berjalan mundur, dan Para Prajurit bergerak maju dengan senapan di tangan mereka. Aku melihat Eri, keringatnya bercucuran deras, tenaganya sudah terkuras banyak. Di depan sana, Rik dan Jenderal bintang 3 tertawa melihat kami terimpit.
Pesawat-pesawat tempur mulai kembali dengan bom mereka, para prajurit yang tak gentar menembaki kami tanpa ampun. Untung saja Eri membuat tameng dari salah satu bongkahan panjang, aku juga melemparkan apa pun yang bisa aku lemparkan melalui kekuatan angin.
“Tin, cepet gak sadar” Aku menoleh pada Eri yang sedang bertahan dengan balok ini, aku tidak tahu maksudnya aku di suruh tidak sadar olehnya.
“Hah?!” Teriakku, suara senapan dan pengeboman membuat suara kami tidak terlalu terdengar. Aku berkali-kali memegangi dadaku, sudah ada dua peluru masuk dalam dadaku. Tidak sakit, setidaknya ini membuat orang tua Ian dan Ian tidak terkena peluru panas ini.
“Si rambut putih bisa menghabisi mereka dengan mudah.” Teriakan Eri yang tak kalah keras, dia mengeram, menahan agar bongkahan di tangannya tidak jatuh. “Energiku sudah hampir habis, aku tidak bisa menahan ini lebih lama.”
__ADS_1
Aku mengerti sekarang, tapi bagaimana bisa. Biasanya aku harus tidak sadarkan diri untuk membuat si rambut putih keluar, dan sekarang bahkan ada satu peluru menembus kepalaku, aku masih sadar sampai sekarang. “Tapi bagaimana?.”
Eri tidak menjawab, dia fokus mengendalikan balok yang sudah bergetar. Ian sudah tidak mampu melanjutkan jalan dengan menggendong orang tuanya, dia terus memegang bahunya yang terus mengeluarkan darah. Ibu dan ayah Ian menangis di samping anaknya, mereka pasti juga sangat khawatir pada anak mereka.
“Sudahlah Putri, kalian menyerah saja, kalian tidak akan mampu melawan kami.” Si rambut cepak Rik sangat berisik, dia tidak membuat kami lebih tenang. Rik tersenyum miring “Melindungi mereka saja kamu kewalahan Putri, dan kamu berniat melawan Kil? Pemimpin Planet Capricorn? Hahaha kamu terlalu banyak bermimpi.”
Suara tawanya menyambar pada orang di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Jenderal bintang 3. Dia mengambil senapan dari tangan anak buahnya “Biar aku yang selesaikan, urusanku masih banyak.”
Aku memejamkan mata, jika si Rambut Putih bisa, maka aku pula, aku yang lebih pasti bisa. Aku menarik nafas dalam-dalam, membuang pikiran yang tidak penting dan berfokus pada diriku sendiri. Aku sudah berusaha sangat keras, namun gagal, tidak bisa.
Dor
Satu peluru menancap tepat di jantungku, namun aku masih berdiri tegak. Eri sudah kehabisan tenaga, dia sudah tidak mampu mengangkat benda-benda menggunakan kekuatan telekinesisnya sebab energinya sudah terkuras banyak.
Syut
Waktu terhenti, bukan aku dan bukan pula dari Ian. Ruang dan waktu ini di buat oleh Jendral bintang 3 di depan sana, dia tertawa terbahak-bahak sembari melihatku dengan penuh tatapan remeh “Dengan senang hati aku perlihatkan teman-temanmu mati di depan matamu sendiri. Aku tidak menyangka, anak sepertimu bisa memasuki ruang dan waktu yang telah aku buat. Cukup mengagumkan, namun tetap saja kamu tidak bisa melawanku.”
Dor
Dor
Senapan itu berbunyi lagi, kaki ini mengarah pada Eri. Aku berlari secepat mungkin, mendorong tubuhnya hingga kami berdua tersungkur bersamaan. Detik demi detik yang aku rasakan sangat lama, Jenderal muram ‘Muka Seram’ itu, mengerjaiku, dia menembak bergantian Eri dan Ian.
Syut
Waktu kembali berjalan, tidak aku jelaskan pada Eri kenapa dia bisa tersungkur, aku yakin dia mengerti apa yang terjadi. Aku sudah kelelahan berlari, nafasku pun tersengal-sengal. Suara pengeboman pun belum berhenti, Jenderal bintang 3 mengarahkan pada Eri yang sedang sibuk melawan para prajuritnya.
__ADS_1
Dor Dor
Dua tembakan di arah yang berbeda, satu mengarah ke Ian dan orang tuanya, kedua mengarah ke Eri yang tidak sadar akan peluru yang datang. Posisiku saat ini bersama Ian dan orang tuanya, bagaimana ini, aku tidak bisa menyelamatkannya. “ERIIII.”
Satu peluru menancap pada punggungku dan satu lagi menancap pada perut Eri. Dia langsung terjatuh memegang perutnya yang kini mengeluarkan darah hingga tanah dan bajunya di basahi oleh darahnya. Aku menghampiri Eri, terdengar suara tawa kemenangan dari depan sana.
“Erii.” Aku duduk di samping tubuhnya, mulutnya mengeluarkan darah, kesadarannya pun hampir hilang. Aku menaruh kepalanya dalam pangkuanku, aku menangis melihatnya seperti ini. Dia tersenyum ke arahku dan menghapus air mata di pipiku dengan tangan bergetar. Aku melihat luka di perutnya “Tunggu sebentar lagi ya, Paman Yian dan Jian pasti sebentar lagi sampai.”
“Kamu cantik.” Eri merapikan anak rambutku, dia tersenyum lalu terkekeh-kekeh. Kata-katanya tidak membuatku tenang, Eri kehilangan banyak darah, luka di perutnya pun begitu dalam seperti luka di punggungku. “Maafkan aku...”
Tangan Eri terjatuh di tanah, nafasnya seakan berhenti. Aku menamparnya berkali-kali, membangunkannya, namun matanya tak kunjung terbuka. Aku melihat ke sekeliling, mencari bantuan untuk Eri, Ian masih dengan posisi memeluk kedua orang tuanya, namun yang aku temukan seseorang yang sedang tertawa melihat kami. Seakan mereka puas dengan apa yang telah mereka lakukan.
“Eri bangun cepet, bantu aku, bangunnn.” Aku menangis sembari memeluk Eri sudah tak sadarkan diri, aku menggoyangkan tubuhnya, namun tetap tidak ada respons. “ERIII.”
Aku berdiri menatap tajam orang-orang yang jahat di depan sana, aku membenci mereka semua. Kami hanya anak SMA yang ingin membantu negeri ini terbebas dari penghianat yang merugikan masyarakatnya. Tak terasa tubuhku terbang 30 senti dari tanah, rambutku memutih dan mataku memerah. Angin bersiur kencang mengelilingi tubuhku, debu-debu melayang di bawa angin.
“Kalian, MATILAHHH.” Teriak marahku pada kalian sembari mengangkat tanganku pada mereka. Saat itu keluarlah angin yang sangat kencang keluar dari tanganku, menghantam tubuh mereka sampai jatuh jungkir balik. Tidak sampai di situ, aku menghentikan waktu dan membantai habis mereka. Aku mengangkat bongkahan-bongkahan besar dan melemparkannya pada mereka.
Waktu kembali berjalan, aku bisa melihat wajah ketakutan dan khawatir dari jendral bintang 3 dan Rik serta anak buahnya. Mereka membisikan sesuatu dan pergi, aku tidak mau melepaskan mereka begitu saja. Aku berkali-kali mengirim bongkahan-bongkahan bangunan pada mereka, beberapa prajurit yang masih berdiri tegap menembakiku tanpa ampun.
Jenderal bintang 3 menghentikan ruang dan waktu, mungkin dia lupa kalau aku bisa bergerak dalam ruang dan waktu yang di buat siapa pun. Dan kali ini biar aku mengingatkannya tanpa ampun, sama seperti sebelumnya aku menyerangnya dengan mengirim benda-benda berat di sekitarku. Dan entah kenapa mataku menjadi gelap dengan emosi yang meluap-luap.
Aku terus menyerangnya tanpa memikirkan Ian yang sudah meneriaki namaku. Paman Yian dan Jian juga sudah kembali, mereka menarik tanganku. Namun nasi sudah menjadi bubur, mereka harus membayar nyawa dengan nyawa. Aku kehilangan sahabat terbaikku, aku kehilangan panglimaku dan aku kehilangan sesosok anak yang suka bikin onar. Aku menjadi marah pada Paman Yian dan Jian yang terus menarik tubuhku ke bawah, aku sudah melihat Jenderal bintang 3 itu dan Rik serta anak buahnya sudah pergi dengan pesawat mereka. Namun amarahku tidak bisa terbendung lagi, Eri masih tergeletak dengan darah di tubuhnya.
“AAAAAAAAA.”
Teriakku sembari melepaskan semua kekuatan yang ada dalam tubuhku, Paman Yian, Jian dan Ian serta orang tuanya terhuyung ke belakang kala aku melepaskan semua kekuatan udara dari dalam tubuhku. Aku berteriak lagi, mengabaikan Ian yang sedang membujukku. Rasanya satuku sangat sakit, aku kehilangan orang yang berarti untukku, baru saja kami bermain bersama, tapi sekarang Eri, dia.
__ADS_1
“AAAAAAAA.”
Teriakan terakhirku sebelum tubuhku melemas dan kehilangan kesadaranku. Aku terjatuh tepat di samping Eri yang sudah tergeletak tak berdaya, aku menggenggam tangannya. Semoga setelah aku bangun nanti dia ada di sampingku dan meneruskan perjuangan kami bersama.