
“Ihh cepetan!”
“Ya sabar, ini susah.”
“Ya udah deh gak usah pake itu, lama.”
“Enak aja, nanti kalo kenapa-kenapa gimana?”
“Dari pada kayak gitu lama.”
“Ya udah sih, aku pake ini kamu gak usah.”
“Ya udah, ada Ken ini jadi gampang kalo tenggelam.” Ucapku meninggalkan Eri yang sedang mengambil pelampung, kaca mata renang dan yang lainnya di gudang. Toh juga ada Ken, dia bisa mengendalikan Air, jadi gak perlu khawatir.
Siang ini kami di ajak Ken dan Jian menyelam di tengah laut dengan kapal penduduk, kami akan berenang dan menyelam menelusuri keindahan dalam laut. Siang terik ini tidak membuat semangat kami menurun, kami justru senang mengistirahatkan otot-otot kami dari latihan yang berat.
Melihat air biru laut yang sangat jernih dan bersih, aku juga dapat melihat ikan-ikan saling kejar-kejaran. Karang-karang yang indah, ikan-ikan berbagai bentuk dan warna. Aku bergabung dengan Ken yang sedang memandang laut, sedangkan Jian sedang mengendarai kapal ini. Melihat mereka aku jadi ingat Ian, seharusnya dia di sini bersama kami, bersenang-senang dan bermain bersama kami.
Aku menoleh ke belakang ketika mendengar suara gaduh, jelas siapa lagi kalau bukan Eri yang membawa banyak barang di kedua tangannya dan beberapa yang sudah dia pakai. Dia tersenyum sembari menunjukkannya padaku “Lihat, aku mendapatkan pelampung, kacamata renang, sendal kodok, dan corong pernapasan.”
__ADS_1
Aku menutup mulut menahan tawa, aku juga tidak tahu nama asli sendal kodok dan corong pernapasan seperti Eri bilang. Tapi itu dapat membantu pernapasan saat berenang dan sendal kodok untuk mudah berenang di dalam air. Aku mengangguk-angguk mengerti, aku mengambil kacamata berenang, agar mataku tidak perih saat berenang di dalam air asin ini.
Sibuk melihat Eri yang riweuh dengan alat-alat berenangnya, ternyata kapal yang aku naiki ini sudah berhenti di tengah laut yang sangat luas. Aku melihat di sisi kapal, air laut yang sangat menggairahkan untuk aku menyelam di dalamnya.
Kami bersiap-siap untuk menyelam, Jian dan Ken tidak memakai alat renang seperti Eri. Mungkin mereka sudah biasa berenang sehingga mereka tidak membutuhkan apa pun, namun berbeda dengan Eri, dia bilang ini kali pertamanya dia menyelam. Hingga dia tidak pernah berenang di laut lepas, aku juga bisa melihat bahagianya. Dia menggebu-gebu sekali mengajakku dan Ken berenang di bawah sana.
“Apa di bawah sana ada hiu?” Tanya Eri sembari melihat laut di bawah sana, dia terlihat sedikit cemas dan gelisah. Aku tahu perasaannya, ini juga pertama kalinya aku menyelam di tengah laut, yang biasanya aku hanya melihat dari televisi.
“Tentu saja ada.” Aku menoleh cepat pada Ken, mudah sekali dia bilang ‘Ada’. Dia seperti menjatuhkan harapan kami untuk menyelam di sana, apa lagi kami berdua tidak pernah melihat hiu secara langsung, dan jangan sampai. Kem menghampiri Eri dan menepuk pundaknya “Tenang saja, kalian kan memiliki kekuatan, itung-itung untuk latihan.”
‘Itung-itung?’ Katanya, yang ada nyawa kami melayang dengan sekali Hap hiu membuka mulutnya. Aku jadi merasakan takut untuk menyelam, walau aku bisa bernafas dalam air, bukan berarti aku bisa berteman dengan makhluk air.
Byur
“Tina, Ayo!” Ken melambai dari bawah sana, mereka semua sudah turun kecuali aku.
Aku membetulkan kacamata renang di wajahku, rasanya jantungku juga ingin berenang di bawah sana, sebab dia terus berdetak kencang seperti ingin keluar dari tubuhku. Jujur aku tidak bisa berenang, seharusnya aku memakai pelampung tadi, tapi ya sudahlah, ada Ken. Dia bisa mengendalikan Air dengan mudah.
Byurrr
__ADS_1
Seketika kupingku berdengung kala aku masuk dalam air, dan rada sedikit pusing kala ada air yang masuk ke hidungku. Ayunan kaki dan tangan untuk mencapai permukaan “Hah hahhh.” Wajahku sudah mencapai permukaan, yang aku lihat pertama kali adalah Eri yang memegang erat baju pelampungnya. Ide jahil terlintas di pikiranku, hitung-hitung ini membalas kejahilannya.
“TINAAA, DIEM!!!!” Teriak Eri saat aku menggoyang-goyangkan baju pelampungnya, dia berteriak keras seperti perempuan yang ketakutan. Aku tidak berhenti, bagaimana dia bis menyelam kalau dia memakai baju pelampungnya. Rasa penasarannya mengalahkan logikanya. “TINAAA.”
“Berjanjilah tidak menjahiliku lagi.” Ucapku yang tidak berhenti mengganggunya. Senang sekali melihat Eri seperti ini, anak pembuatan onar yang suka memalak anak-anak di sekolah, sekarang ketakutan karena aku. Aku terus menggoyang baju pelampungnya “Ayo berjanjilah.”
“Tidak bisa, itu sudah bagian dari empat sehat lima sempurnaku.” Aku goyahkan lebih kencang baju pelampung Eri, dia terus berteriak dan mencubit-cubit tanganku yang di bajunya. Memang dia kira aku makanan hingga menjadi bagian empat sehat lima sempurna.
Terlaku sibuk aku dengan Eri hingga lupa kalau ada Jian dan Ken, aku menoleh ke seluruh arah namun mereka tidak ada. Aku melepaskan tanganku dari baju pelampungnya, Ken dan Jian pasti sudah lebih dahulu menyelam. Lalu bagaimana dengan Eri, dia tidak bisa menyelam, masa harus aku yang membawanya.
Tapi, mau bagaimana lagi, hanya aku di sini. Toh juga mengerjai Eri tidak buruk, mungkin saja bisa jadi empat sehat lima sempurnaku. “Eri ayo kita menyelam, Jian dan Ken pasti sudah lebih dahulu menyelam.”
Eri menggeleng keras “Tidak, tidak.” Dia mengayun tangannya supaya menjauh dariku, dia terlihat gelisah dan juga takut. “Yang ada aku mati tenggelam karenamu.”
“Ayo, percayalah padaku panglima.” Tatapan seriusku tertuju pada Eri, aku berusaha meyakinkannya. Sayang sekali jika Eri tidak menyelam ke dalam sana, kita sudah jauh-jauh ke sini, belum lagi ini Planet Capricorn. Aku mengulurkan tanganku “Ayo Eri, kita jelajahi laut ini bersama.”
Dia berhenti dan menatapku, aku yakin rasa penasarannya akan kalah dengan logikanya. “Oke-oke, tapi janji tidak menjahiliku.” Eri mengacungkan jari kelingkingnya padaku, dia kira kami anak kecil. “Cepat berjanjilah!.”
Aku menepuk dahiku “Tidak bisa Eri, menjahilimu itu adalah bagian dari empat sehat lima sempurnaku.” Seusai aku berbicara seperti itu, Eri membulatkan matanya dan mencipratkan air padaku. Tertawa geli melihat tingkahnya “Iya, iya aku janji.”
__ADS_1