GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
SERANGAN


__ADS_3

“Baiklah ayo kita mulai!”


Kami sudah bersiap-siap, barang yang kami pilih adalah buah berwarna putih yang Eri panjat tadi pohonnya, kami menaruhnya di kursi yang aku duduki sebelumnya. Sedangkan Sina, barang berharga mereka adalah tali karet yang baru saja kami gunakan dan mereka menaruhnya di pohon yang lumayan tinggi.


Aku sudah membujuk Eri untuk mengganti tempat seperti mereka, sebab di kursi bisa siapa saja yang mengambilnya. Namun jawabannya, ‘Tidak akan bisa, mereka hanya anak kecil’. Anak kecil katanya, padahal tinggi kami berdua sepantar dengan mereka. Sedangkan Ian, hanya diam. Untung saja kami tidak sekelas, yang ada nanti kami terus bertengkar.


Kamu sudah siap di posisi kami, aku bertugas menjaga buah putih, Ian dan Eri bertugas mengambil barang berharga milik Sina. Tanganku mengepal tanda semangat, tidak keras sebab kukukku panjang.


“Mulai!!!”


Suara Sina memulai pertandingan ini,. Eri dan Ian sudah maju bergerak dengan cepat. Sina dan teman-temannya pun menghadang mereka, aku hanya duduk diam menyaksikan mereka. Mereka sibuk sendiri, mana mungkin Sina dan temannya bisa mengalahkan Ian si prajurit dan Eri si Bangor, itu pasti sangat sulit.


Aku menguap kantuk, aku belum tidur dengan nyenyak. Seperti tidak apa jika mereka aku tinggal tidur, lihat sekarang. Kedua kaki dan punggung Ian di pegang oleh teman-temannya Sina, sedangkan Eri sedang bergulat dengan teman laki-lakinya Sina.


Mataku mulai memberat, mataku mengeluarkan air mata sebab menguap beberapa kali. Mataku mengerjap-ngerjap, kepalaku mengangguk-angguk menahan kantuk. Suara bising di gantikan oleh keheningan dan badanku yang terasa mulai lemas.


Tenang dan nyaman aku mulai memasuki alam mimpiku, namun beberapa saat kemudian tanah yang aku pijak bergetar. Mataku yang sudah menutup rapat kini kembali terbuka lebar, rasa kantukku di gantikan dengan perasaan waspada dan khawatir.


Wuss wuss


Beberapa pesawat tempur melintas di atas kepalaku, lalu di susul dengan pesawat lain. Eri dan Ian menghampiriku bersama Sina dan teman-temannya, mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari tempatku aku bisa melihat kepulan asap dari tempat yang jauh sana, ini adalah kabar buruk. Kami harus segera kembali bersama yang lain.


Kami berlari secepat mungkin, para penduduk juga berlari-lari entah ke mana, mencari tempat berlindung di bongkahan-bongkahan bangunan. Sina dan teman-temannya juga sudah kembali ke keluarga mereka, kami bertiga menuju tenda Paman Yian.

__ADS_1


BOMM


Tubuhku terpental jauh, Pesawat di atasku menjatuhkan sebuah bom besar tepat di belakang kami. Ledakan yang besar membuat tempat itu menjadi hancur dan efek dari ledakannya bisa berpuluh-puluh meter. Pakaian dan tubuhku penuh dengan warna putih, debu ada di mana-mana.


Kupingku berdenging, kepalaku pusing sebab terbentur sebuah batu dan tubuhku sakit karena dorongan dari ledakan itu. Eri dan Ian juga sama sepertiku, namun Ian sudah berdiri lebih dulu lalu membantu Eri dan aku. Tubuhnya yang tinggi dan kekuatannya yang besar mampu mengangkatku dengan satu tangan.


BOMM


Bom kembali jatuh jauh di samping kami, kami kembali terjatuh. Ian membuat tameng dengan tubuhnya melindungiku, serpihan-serpihan pengeboman menghantam tubuhnya. Wajahnya memerah, dia meringis menahan sakit. “Kita harus cepat pergi ke tempat Paman Yian.”


Syut


Waktu terhenti, Ian berdiri terlebih dahulu lalu membantuku dan Eri. Waktu kamu tidak banyak, bom akan terus berjatuhan sampai apa yang di inginkan pesawat-pesawat tempur terpenuhi.


Syut


“Tenda paman Yian lumayan jauh, atau mungkin saja di sana sudah di bom.” Ucap Eri di sela lari kami, bukan hanya dia yang lelah berlari namun aku juga, terkecuali Ian. Eri berhenti berlari di ikuti aku dan Ian, nafasnya tersendat-sendat “Lebih baik kita membantu para warga.”


“Benar” Aku mengambil nafas sampai terbungkuk-bungkuk, aku menoleh ke atas sana. Ada satu pesawat terbang di atas kepala kami, awalnya aku kira mereka akan turun dan berbicara pada kami, namun dugaanku salah.


Syut


Pesawat tempur berwarna perak itu menjatuhkan bom seperti sebelumnya, untung saja aku cepat menghentikan waktu. Eri dengan sigap mengendalikan bom itu dan di buang tepat pada pesawat tempur di atas sana, sampai waktu kembali berjalan kami terus berlari dan bersembunyi, berlindung dari efek ledakan yang akan terjadi.

__ADS_1


Syut


Bom itu meledak keras di atas, pesawat tempur pun menjadi beberapa pecahan dan hancur. Aku terduduk bersandar, pikiranku berkelana pada Sina dan teman-temannya. Berat sekali mereka menghadapi ini, mereka hanya anak berumur 8 sampai 12 tahun. Dan betapa berat trauma mereka tentang kotanya yang hancur, rumah-rumah yang terkena bom dan juga melihat orang yang mereka sayangi tiada.


“Ian, Eri, ayo cepat kita cari Sina dan teman-temannya.” Aku berdiri tegap, menghadapi apa pun di depanku dengan berani. Seharusnya kami tetap bersama, seharusnya kami tidak terpisah tadi. Dan di posisi ini aku tidak tahu mereka berlindung di mana.


“Mereka hanya mencari kita, sebisa mungkin kita tidak tertangkap oleh mereka.” Ujar Ian yang terduduk di sebelah kananku, pelipisnya sedikit terluka dan berdarah.


“Hanya seorang pengecut yang bersembunyi.” Seru Eri sembari menyunggingkan senyumnya, dia seperti meremehkan Ian.


Kini aku mendengar perdebatan mereka, Ian mau kami tetap bersembunyi dan membuat strategi bersama paman Yian, sedangkan Eri meminta melawan secara langsung agar tidak banyak korban yang terkena bom. Tidak ada yang salah satu Ian dan Eri, mereka sama-sama benar, namun hanya pemikiran mereka berbeda. Ian yang suka terstruktur, sedangkan Eri yang sedikit brutal.


“Teman-teman cukup! Di posisi seperti ini kalian bisa bertengkar?” Perdebatan mereka terhenti, mereka terlihat sama-sama gusar, begitu pula denganku. Aku memikirkan ide, mungkin ini sama-sama adil untuk mereka “Lebih baik kita melawan orang dalam pesawat itu, aku yakin Paman Yian sedangkan melawan mereka, jadi kita bisa bertemu dengannya.”


BOM


Rambutku berkibar sebab efek dari ledakan tersebut, ledakan-ledakan terus terjadi. Jarak pandang kamu juga terbatas, akibat debu-debu yang beterbangan. Aku mendengar beberapa pesawat menuju ke arah Utara, arah tenda Paman Yian. Walau sedikit berdebu, aku masih bisa melihat pesawat tempur itu di sana.


“Sekarang.” Eri berdiri, dia membersihkan debu-debu di pakaiannya. Aku dan Ian mengaguk, mereka pasti sedang berhadapan dengan Paman Yian dan Jian.


Aku sudah mengepulkan kekuatanku, sejak sadar dari pingsan siang tadi membuat tubuhku menjadi lebih ringan dan kuat. Aku merasakan gejolak aneh dalam diriku, seperti ada kekuatan besar tersimpan dalam tubuhku.


Kami berlari menuju Utara, jika saja Ian memiliki kekuatan teleportasi dekat, mungkin saja kami tidak perlu berlari jauh. Sayangnya Ian hanya bisa menggunakan teleportasi Jarak jauh. Dari kamu bertiga, akulah yang paling lemah, aku sudah beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan juga istirahat sejenak.

__ADS_1


“Akhirnya yang kami cari datang juga.”


__ADS_2