
Aku dan Eri sedang beradu pandang, kami saling mengerti apa yang kami pikirkan masing-masing. Akan sia-sia pelatihan, pertempuran dan kesakitan banyak orang. Tapi kami pun tidak bisa memaksakan hal ini.
“Ian, mungkin kamu memang mau di sini dengan keluargamu, tapi sebentar saja pinjamkan kekuatanmu untuk negerimu sendiri.” Bujuk ke sekian kalinya dari Eri. Ian sama sekali tidak bergeming, dia tetap dengan pendiriannya. Eri menarik nafas panjang, bukan hanya dia, aku juga sudah berulang kali membujuknya. “Lalu untuk apa kamu membawa kami ke sini?, Latihan kita berminggu-minggu dengan Paman Yian, terbuang sia-sia.”
Aku memegang bahu Eri, dia sudah di ambang batas kesabarannya. Aku bisa melihat urat-urat di wajahnya mulai menimbul, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Tidak tahu harus bagaimana lagi membujuknya, sedangkan untuk melawan Kil membutuhkan lima orang, tanpa Ian, tim kami tidak lengkap.
Aku juga baru menyadari sifat Ian yang lain, dia sangat bertolak belakang dengan aku pikirkan. Ian menjadi orang yang keras kepala dan memikirkan dirinya sendiri, padahal dulu dialah yang selalu mengutamakan kepentingan bersama, dulu dia yang paling pandai membuat strategi. Namun sekarang, Eri sudah menyerah pada Ian, ini bukan kali pertama kami membujuknya. Kemarin, pagi, siang, sore dan malam ini. Sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai, kamu harus segera berlatih lebih serius.
Eri meninggalkan ruang tamu, kini tinggal aku dan Ian. Aku tahu tumbuh sendirian di dunia yang kejam ini tidaklah, maka dia berhak bahagia dengan keluarganya yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Tapi ini bukan perihal tentangnya saja, tujuan awal kamu ke sini untuk membantunya melawan Kil.
Aku menatap lamat-lamat mata hitam Ian, aku juga tidak tahu harus bagaimana dengannya. “Ian, kamu anak yang baik, tolong pikirkan kembali perihal ini.” Ucapku sebelum pergi meninggalkannya yang kini entah memikirkan apa di kepalanya.
Aku menyusul Eri yang sudah terduduk di pantai, membiarkan kaki-kakinya di basahi oleh ombak-ombak air yang mondar-mandir. Dia menunduk di antara kedua kakinya dengan tangan sebagai penyangga. Melihat membuat perkataan Ibu terulang di pikiranku bahwa Eri bahwa dia adalah anak yang kesepian, mempunyai kesedihan yang mendalam dan juga orang yang rapuh.
__ADS_1
Duduk di sebelahnya dan membiarkan setengah kakiku terkena ombak. Keindahan pantai tidak pernah hilang, aku rasa semakin hari semakin indah saja pantai ini. Namun, sungguh sayang, keindahan ini hanya bisa di nikmati oleh orang-orang yang berada di sektor 5 saja, sedangkan sektor lain hanya bisa menetap di tempat mereka. Bertahan walau tempat itu seperti neraka bagi mereka.
“Apa arti keluarga menurutmu?” Tanya Eri sembari menggambar sebuah keluarga di pasir, sama seperti Ian kala itu.
Membahas keluarga menjadi hal sensitif saat ini, aku juga tidak tahu arti dari sebuah keluarga. Yang aku rasakan adalah kesesakan dalam dadaku, aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa namun yang aku rasakan sebuah kesedihan. Aku tidak tahu arti yang benar-benar arti sebuah keluarga, aku hanya memiliki ibu yang nyatanya dia adalah pelayan dari kerajaan.
Lalu seperti apa rasanya memiliki keluarga Cemara seperti Ian, Ian sudah melewati badainya sendirian tanpa keluarga. Dan sekarang, jika dia memilih keluarganya itu masuk akal, dia pasti tidak mau kehilangan ke dua kali keluarganya.
“Menurutmu apa?” Tanyaku membuatnya berhenti menggambarkan, dia menatapku dengan tatapan berbeda dari biasanya. Tatapannya seperti penuh kesedihan, tatapannya penuh dengan luka. Ketika melihat matanya, aku seperti tenggelam jauh ke dasar laut yang gelap, dingin dan sendirian.
Sudut bibirnya melengkung tipis lalu menggeleng “Aku tidak tahu.” Belum aku memahami isi kepalanya, dia berdiri sembari menepuk-nepuk bagian pakaiannya yang terkena pasir. Dia mengulurkan tangannya “Ayo, aku rasa Jian dan Ken sudah menunggu.”
Aku mengangguk dan berusaha meraih tangannya, namun dengan cepat dia menarik tangannya dan menepuk-nepuk seolah-olah ada nyamuk. Baru saja aku merasakan sisi lain dari Eri, kini aku merasakan Eri yang dulu kembali. Dia mengerjaiku lagi.
__ADS_1
Dia berlari kala aku mengejarnya. Kami saling kejar-kejaran, mencipratkan air dan saling mencubit. Aku senang Eri yang seperti ini, penuh tawa, jahil dan pembuatan onar. Kami berkejaran-kejaran sampai kami tidak sadar kalau kami sudah di tempat latihan, terdapat Jian dan Ken. Dua orang yang tampan dan sangat tinggi, rasanya tidak bisa fokus jika berlatih dengan mereka, sebab jantung seperti meronta-ronta meminta keluar.
“Kalian lama sekali.” Ucap Ken kala kami menghampirinya, dia mengenakan pakaian kasual seperti orang-orang Planet Bumi. Eri dan Ken bersalaman ala-ala sahabat karib, mereka saling merangkul dan memukul bahu satu sama lain. “Kalian seperti anak kecil, terkadang bertengkar, berteriak-teriak, tertawa tidak jelas, lalu saling menjahili dan marah-marah.”
Aku dan Eri saling menatap sebal, siapa juga yang mau tertawa bersamanya, dia saja sangat jahil padaku. Seperti jika dia sehari tidak menjahiliku, maka hidupnya tidak akan indah. Lagi pula, jika aku sering marah-marah, itu semua karena dia sendiri.
“Apakah Ian tidak ikut?” Kali ini suara itu berasal dari Jian, sebelumnya aku sudah bilang padanya dan dia menyuruhku untuk membujuknya. Tanpa menjawabnya, hanya lewat tatapan, Jian mengerti apa maksudku. “Dia anak yang kuat dan baik, mungkin karena dia sudah lama tidak bertemu orang tuanya, dia tidak mau kehilangan mereka lagi. Dan juga, orang tua Ian tidak mengizinkan Ian untuk ikut.”
Aku menunduk, menendang-nendang pasir di kakiku. Aku merasa bersalah, Ian adalah sahabatku, pasti aku juga merasakan hal yang sama dengannya.
“Tidak apa, mungkin aku saja yang bertarung dua kali.” Kami semua menatap Ken, dia paling tua di sini dan pasti dialah yang paling kuat di antara kami. Pria idaman sekali, dia kuat dan pintar. Ken merangkul bahu Eri “Baiklah, ayo kita berlatih. Aku akan melatih kalian dari pagi hingga pagi.”
“Baiklah, SEMANGAT!!.”
__ADS_1