
Duduk menjajar menikmati sunset yang akan tenggelam. Dua matahari itu akan tenggelam secara bersamaan, perpaduan biru, biru tua, jingga, kuning dan merah. Senja ini sangat indah, langit berwarna jingga akan di gantikan dengan langit yang penuh dengan bintang, dua matahari akan tenggelam dan terbitlah dua bulan.
Tidak ada yang berbicara, kamu fokus dengan keindahan alam di depan kami. Tidak terasa sudah sebulan lebih aku berada di Planet ini, tidak terasa juga aku tidak masuk sekolah. Ingin sekali tinggal di sini, indah, nyaman dan tenteram. Andai saja tidak ada penghianat dalam Galaksi Zodiak ini, mungkin saja semua sektor bahkan Planet lain bisa menikmati momen indah ini.
Kini dua matahari tenggelam sempurna, langit jingga sudah langsung di gantikan langit yang gelap dan penuh bintang. Udara semakin dingin dan tubuhku juga semakin menggigil. Bintang-bintang bersinar tanpa di suruh, tapi itulah takdir mereka. Selalu bersinar walau mereka tak ingin. Aku rasa para bintang tidak tahu kalau dirinya indah jika di lihat dari sini, yang mereka tahu, mereka adalah sebongkah batu di angkasa yang sangat luas.
Memikirkan itu, mereka sama sepertiku. Mungkin saja orang lain indah memandangku sebagai seorang Putri, memiliki kerajaan, kemauan selalu di turuti dan masa depan yang terjamin. Tapi yang aku lihat hanya seorang anak perempuan berusia 15 yang sedikit lagi berumur 16 tahun, harus berusaha bersinar seperti yang di pikirkan orang lain.
“Bagaimana cara kamu mengendalikan Air?” Tanyaku pada Ken sembari berdiri.
Ken yang sedang aku pukulan dengan Eri menoleh padaku, dia melepaskan cekalan di kerah baju Eri. Melihatnya aku malas, Eri hanya sebatas dadanya, dia sangat jomplang jika bersama Ken. “Tentu saja berlatih, orang-orang tertentu seperti kita itu bisa mempelajari kekuatan lainnya. Misalnya kamu, kekuatanmu adalah penyembuh diri yang cepat, tapi kamu juga bisa mengendalikan udara dan waktu.”
Mulutku membentuk huruf ‘O’, aku mengangguk mengerti. Aku melirik Eri, dia berjalan sembari menendang-nendang pasir “Kalau Eri juga bisa kan?.”
__ADS_1
“Tentu saja, jika dia ingin berlatih potensi apa saja yang ada di dalam tubuhnya. Mungkin saja dia bisa mengendalikan Air sepertiku, Udara sepertimu, atau Tanah bahkan Api.” Jawab Ken membuat Eri mengangkat wajahnya, dia merangkul Ken dan membisikan sesuatu. Eri tampak senang, dia memperagakan beberapa gerakan silat.
Kami kembali ke rumah masing-masing, kami berpisah, aku dan Eri ke arah kanan, Jian dan Ken ke arah kiri. Kami saling diam sampai rumah, aku memperhatikan Eri akhir-akhir ini. Dia lebih banyak menunduk dan memikirkan sesuatu yang berat di kepalanya.
“Ian!” Panggilku kala melihat Ian sedang memegang pancingan di tangannya. Aku menghampirinya, dia melihatku dan langsung pergi ke dalam begitu saja. Aku berhenti di depan tangga, menghela nafas panjang. Ian menghindariku lagi, padahal aku hanya ingin berbicara hal lain dengannya.
Setalah itu dan seterusnya Ian menghindari kami, tidak ada sapaan pagi atau sebatas senyuman. Kami benar-benar seperti orang asing, bahkan Ibu dan Ayah Ian juga menghindari kami. Eri juga sudah menyerah, kami tidak tahu harus bagaimana lagi membujuknya.
Sampai di suatu Pagi, kala Ibu dan Ayah tidak ada di rumah, aku dan Eri membujuk Ian sekali lagi. Jika ini tidak berhasil, maka kami tidak akan membujuknya. Saat ini di ruang tamu, Eri sedang berbicara panjang lebar dengan Ian dan seperti biasa Ian hanya diam tidak bergeming.
Ian tersenyum miring sembari menatap Eri dengan penuh kepayahan “Tahu apa kamu tentang keluarga hah?!.”
Aku menarik-narik lengan Eri agar melepaskan kerah Ian, dia tampak sangat gusar “Aku memang tidak tahu apa-apa tentang keluarga, karena aku tidak pernah tahu siapa keluargaku sebenarnya.” Aku menatap Eri dengan penuh keterkejutan, Eri tidak memiliki keluarga. Eri berdiri sembari bersedekap dada “Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya bahagia di tengah-tengah sebuah keluarga, tapi aku tahu rasa sakitnya seseorang yang tidak memiliki keluarga.”
__ADS_1
“Kalau gitu kamu tidak mengerti kenapa aku seperti ini, kamu tidak memiliki rumah untuk pulang.” Kini Ian berdiri, nada bicara masih terbilang normal, walau aku tahu kata-katanya sedang menyindir Eri. “Kamu tidak akan tahu rasanya tinggal sendirian, di paksa dewasa oleh orang-orang kejam.”
Eri tertawa terbahak-bahak, namun tawanya penuh luka. Dia tidak benar-benar tertawa, aku bisa melihat air mata di sudut matanya. “Kamu benar, aku tidak tahu apa-apa tentang keluarga.” Setelah ucapannya, Eri langsung kembali ke kamarnya.
Aku menatap Ian, aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Di sisi lain aku menyalahkan Ian tapi di sisi lain, aku tidak bisa memaksanya. Dan Eri, tatapan, sorot matanya dan perilakunya. Dia tidak memiliki keluarga, lalu dengan siapa dia hidup, lalu bagaimana caranya dia bertahan dengan semua hal kejam di dunia ini.
Eri keluar dari kamarnya membawa tas, dia berjalan marah ke arah pintu. Sebelum dia hilang di balik pintu, Eri menatapku “Tidak ada gunanya di sini lagi, biarkan si pecundang itu hidup bahagia di atas penderita yang lain.”
BRAKK
Pintu tertutup sangat keras, Eri hilang di balik pintu. Kini hanya ada aku dan Ian, aku sudah tidak berkata apa-apa lagi. Ini yang terakhir kalinya aku dan Eri membujuknya, tapi aku juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Setelah ini aku yakin, hubungan kami dengan Ian seperti orang asing, walau dulu kita seperti sahabat.
Aku pergi ke kamarku dan mengemasi barang-barangku, dari pakaian, dan barang-barang yang lain. Tidak lupa juga pemberian dari Ian, yaitu sebuah kerang di dalam wadah berisi air. Setelah memasukkan semuanya dalam tas, aku pergi meninggalkan rumah ini. Tapi sebelum itu, aku melihat Ian yang masih berdiri bersedekap dada, dia melihatku dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya, aku mengelus-elus lengannya “Senang berkenalan denganmu, aku juga senang pernah menjadi teman baikmu. Jaga selalu kesehatanmu dan jangan terlalu cuek dengan para gadis.” Aku berjalan ke arah pintu dengan hati yang berat, inikah akhir dari pertemanan kami, aku kira kita akan menjadi teman pertualangan yang mengelilingi seluruh Planet dan berjuang melengserkan para penghianat.
Tepat di depan pintu aku menoleh sekali lagi pada Ian, aku tersenyum hangat padanya. Bagaimana juga kami pernah berteman dan juga aku suka dengan keluarganya yang hangat dan baik “Titip salam pada Ibu dan Ayah, bilang pada ibu agar selalu menjaga kesehatan dan Ayah juga, bilang jangan terlalu sering begadang.” Aku melambaikan tangan “Terima Kasih Ian.”