
Posisi ini lagi, lelah sekali aku selalu ada di posisi ini terus. Terjebak dalam air yang Ken buat, air yang selalu mengikuti arah gerakku. Aku harus mencari kelemahannya, aku tidak bisa terus bertahan dengan situasi ini terus. Kelemahannya adalah aku bisa memperlambat gerakannya dan ruang dan waktuku, tapi tetap saja setelah itu dia berhasil menjebakku ke dalam Air ini.
Syut
Untuk ke sekian kalinya aku menggunakan kekuatan ruang dan waktu, di depan sana gerakan Ken sedikit melambat hingga membuatku mudah keluar dari Air ini. Hal yang paling tidak aku suka keluar dari dalam Air Ken adalah perpindahan pernafasan, dadaku menjadi sesak dan nyeri, serta kepalaku menjadi pusing.
Aku mengangkat tanganku, aku membuat pisau-pisau kecil dari udara yang aku padatkan dan langsung aku arahkan pada Ken. Kali ini aku harus lebih cepat agar seranganku dapat menembus pertahanannya.
Wus wus wus wus
Pisau-pisauku mengarah ke Ken, tetap di saat itu waktu kembali berjalan. Dengan lihai dan lincahnya Ken salto, melompat menghindari seranganku. Namun kali ini berbeda, pisau-pisau yang aku kirim lebih cepat, sehingga Ken lebih sulit menghindarinya. Dan akhirnya, setelah sekian lama aku berlatih dengannya, aku bisa menggores kulitnya.
Aku melompat Yes sembari mengacungkan genggaman tangan ke atas, aku tersenyum lebar, begitu pula dengan Ken. Aku tidak membiarkan rasa senangku mengalihkan perhatianku, aku tetap fokus pada Ken di depan sana. Hal-hal yang aku pelajari sebelumnya adalah Ken yang selalu menyerang kala aku sedang tidak fokus atau belum siap.
__ADS_1
“Hebat sekali.” Ucap Ken sembari mengusap pipinya yang terkena pisauku, dia tersenyum memperlihatkan giginya. Entah kenapa aku selalu merasakan Ken mempunyai kekuatan yang lebih dari ini, dia memiliki kekuatan yang besar namun tidak dia tunjukan padaku. Ken berjalan maju dan aku melangkah mundur “Aku kita naikkan level latihan kita, aku sudah sangat bosan mengurungmu dalam Airku.”
Tuh kan benar, baru saja aku berpikir dia memiliki kekuatan lebih dan sekarang dia ingin menunjukkannya padaku. Mau tidak mau aku harus bisa menahan serangannya, jika aku tidak bisa bertarung dengannya.
Dia mengangkat kedua tangan ke atas, dan di saat itu air di pantai terangkat tinggi. Lalu dia mengarahkan air itu padaku, bisa di bilang ini adalah tsunami. Air itu menggulung tinggi dan siap menghantamku dengan beberapa detik saja. Dengan sigap aku mengumpulkan udara di sekitarku untuk membuat tameng kokoh dan kuat, tidak bisa melarikan diri, sebab air bagai bak tumpah itu sudah berjalan mengarahku.
Crashhhhh
Air pantai mulai menghantam tamengku dengan keras, untung saja tamengku kuat. Namun untuk beberapa saat saja, sekarang aku mulai merasakan kebocoran dalam tamengku. Air yang mulai masuk dari celah-celah tameng merambat naik ke tubuhku, aku merasakan air itu menusuk-nusuk kulitku. Hingga pertahanan tamengku goyah, banyak air yang mulai masuk dari balik tameng.
Semaksimal mungkin aku mengeluarkan kekuatanku dan semakin besar juga arus lilitan Air di sekitarku. “Berpikir-berpikir, pikir, ayo otak jalan.” Kepalaku serasa mau pecah memikirkan jalan keluar. Mungkin saja, jika divisualkan kepalaku sudah mengeluarkan asap. Aku tahu!!!.
Zunnggggg
__ADS_1
Aku arahkan udara memutar membentuk seperti ****** beliung, walaupun kecil ini membuahkan hasil. Pusaran Air Ken akan kalah dengan pusaran udara yang aku buat, dan sekarang Air Ken mengikuti arus udaraku. Akhirnya aku mengetahui kelemahan dari Air Ken, ini benar-benar kemajuan yang sangat signifikan untukku.
Namun ini tidak bertahan lama, aku sudah mulai merasakan kebas di kedua tanganku. Arus udara pun sudah mulai goyah dan tidak sedikit air yang masuk ke dalam pusaran. Ketika tanganku sudah mulai kebas semua, nafasku juga mulai sesak sebab aku sulit menghirup udara.
Crash
Tubuhku hanyut dalam putaran Ken buat, terombang-ambing dalam air. Berputar-putar, di tekan sana-sini. Perpindahan pernafasan pun aku rasakan lagi, kali ini agak sulit bernafas karena tekanan arus yang kuat. Aku juga merasakan beberapa tulangku yang berpindah tempat dan yang patah karena tekanan yang berbeda-beda.
Jika di pikir-pikir lagi, Ken lama-lama seperti Paman Yian, yang suka membuat tulang-tulangku terlepas ataupun patah. Dia senang sekali membuat diriku terluka parah bahkan dia hampir membunuhku. Dan kini, Ken melanjutkan usahanya, rasanya sisa-sisa kesadaranku menipis. Aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku, tubuhku terasa mati rasa.
Beberapa detik kemudian, ketika kesadaranku mulai menipis. Arus dan tekanan Air berkurang, dan lama-lama air itu mulai meninggalkan tubuhku dan kembali ke pantai. Tubuhku terkapar di pasir putih ini, walau sudah tidak ada lagi air yang mengelilingi tubuhku. Tapi tetap saja, tubuhku tidak bisa di gerakan.
Tubuhku sangat lemas, aku juga merasakan semut-semut seperti berjalan di dalam tubuhku dan mulai memperbaiki, menyatukan dan mengobati luka dalam tubuhku. Dari tidurku, aku bisa melihat Ken berdiri tak jauh dari tempatku, dia tersenyum tanpa rasa bersama. Persis seperti Paman Yian. Aku kembali pada kondisiku, aku memejamkan mata, merasakan setiap tubuhku memperbaiki diri.
__ADS_1
“Kali ini kamu apakan dia?”