GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
PENGUNTIT


__ADS_3

“Pelan-pelan.”


“Ihh, dikit lagi, sabar”


“Sabar-sabar, sakit tahu.”


“Ya udah sih tahan sebentar”


“Aww, pelan-pelan ngapa.”


“Stt, dikit lagi sebentar, jangan banyak gerak ihh.”


“Sakit Tina.” Rengek Eri yang selalu bergerak-gerak kala aku mengobati luka di perutnya. Hari ini aku di tugaskan Ibu untuk mengobati dan memperban lukanya, lukanya sudah mengerti, tapi tetap saja. Eri yang selalu banyak tingkah, hingga membuat lukanya yang sudah kering kembali basah.


“Iya ini udah, tinggal di perban.” Ucapku seraya menekan salep pada lukanya, Eri merintih kesakitan. Aku memperban perut Eri dengan sedikit kasar, salah sendiri dia tidak bisa diam ketika si obati. “Itu sudah.”


“Sudah-sudah, kamu gak pantes jadi perawat” Gerutu Eri yang sedang mengenakan baju, aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu, sedikit lucu ketika mengomel-ngomel tidak jelas.

__ADS_1


Kami keluar dari rumah, hari ini aku akan membantu ibu dan warga sekitar untuk mencari kerang. Penduduk di sini lumayan banyak, rata-rata mereka berprofesi sebagai nelayan. Di sini tidak ada prajurit yang berjaga ketat, hanya beberapa orang yang bertugas mengangkut hasil laut para penduduk hingga keberadaan kami tidak di ketahui. Tapi cepat atau lambat pasti mereka akan mengetahui keberadaan kami.


Hari ini kelewat panas, dua matahari bersinar terang. Sepertinya pulang-pulang dari sini kulitku akan menggelap, Eri di sampingku saja sudah hitam. Entah penduduk Planet Capricorn memakai apa, mereka tetap terlihat putih dan cerah walau matahari sangat panas di sini.


“IBUU.” Teriakku kala melihat Ibu Ian sedang mencari kerang, dia memakai caping untuk menahan panas matahari. Aku berlari menghampirinya, aku agak sudah berjalan sebab air tinggi air sebatas betis dan ada beberapa bulu babi sedang berkumpul.


Ibu tersenyum manis padaku “Hati-hati sayang.” Ada beberapa Ibu yang lain, ada pula anak-anak gadis mengikuti orang tua mereka. “Kamu sudah makan?, Bagaimana keadaan Eri?.”


Aku menoleh pada Eri yang sedang duduk di bawah pohon kelapa kala ibu menyebutkan namanya, Eri melambai kala dia melihat diriku. Bola mataku memutar “Aku sudah makan Bu, Eri dia baik, sangat baik. Pembuat onar tidak boleh sakit Bu.”


“Kamu jangan seperti itu, kasihan dia kamu olok-olok terus.” Ujar Ibu sembari memakaikan aku caping, seandainya ibu tahu kalau Eri lebih sering mengolok-olokku dan mengerjaiku. Tiba-tiba Ibu merangkul bahuku supaya lebih dekat dengannya “Tapi kalau di lihat dari matanya, Eri itu seperti menyimpan kesedihan yang dalam, dia terlihat kuat namun sebenarnya rapuh, dia anak yang kesepian.”


“Baiklah mari kita mulai.”


Hari ini aku sangat bersenang-senang, mencari kerang memang sulit namun seru sebab mencari dengan Ibu-ibu nelayan yang baik dan penuh humoris. Dari sini pun aku banyak belajar hewan-hewan laut, dari bintang laut dari berbagai warna dan bentuk, ubur-ubur kecil berwarna ungu dan hitam, dan juga cumi-cumi yang kemarin kami makan. Anak-anak gadis di sini menjelaskannya dengan baik, namun terkadang aku juga tidak mengerti apa yang mereka jelaskan.


Dan yang paling mengesalkan ketika mereka meminta aku untuk mengenalkan mereka pada Eri, mereka menyuruhku untuk menceritakan Eri itu seperti apa, dia bagaimana, apa yang dia suka dan lain-lain. Aku menjelaskan dengan apa adanya, aku tidak terlalu suka topik ini. Eri itu di mana-mana pasti ada yang suka padanya, jika gadis-gadis ini tahu Eri seperti apa di sekolah, mungkin mereka tidak akan suka padanya.

__ADS_1


Kini aku berjalan pulang sendirian, Eri sudah kembali dari tadi dengan Ibu. Aku hanya ingin berkeliling sebentar, mencari udara baru. Tiba-tiba aku ke pikiran tentang Ian, kemarin malam sebelum istirahat kami berdua berbicara serius. Aku bilang padanya, kalau aku tidak ikut dengannya tinggal di sini. Walau Ibu dan Ayah sudah menganggap diriku dan Eri seperti anak mereka sendiri, tapi tetap saja, aku mempunyai peranan penting. Aku tidak ingin lepas tangan begitu saja.


Karena itu Ian mendiamiku, ketika kami bertemu sarapan pagi tadi, Ian menjauhiku dan menghindar. Aku juga sudah berbicara pada Eri, dia bilang, dia akan selalu ikut keputusan yang aku buat. Ya, walau dia memang jahil, tapi dia selalu ada di sisiku dan selalu membantuku.


Dan sekarang aku bingung bagaimana dengan Ian. Jujur, aku sangat sedih Ian tidak ikut dengan kami, dan dia memilih tinggal bersama orang tuanya. Mau aku larang, tapi itu adalah haknya. Aku juga bahagia di sini, aku seperti memiliki keluarga baru yang hangat, tapi takdir memanggilku. Di tanganku ada tanggung jawab besar, aku tidak bisa pergi begitu saja seperti pengecut.


“Aww” Aku memegang kepalaku, baru saja aku menubruk tubuh seseorang. Apakah dia tidak bisa menyingkirkan dari jalanku, dari luasnya pantai, kenapa dia berjalan di jalanku. Kepalaku mendongak, melihat siapa yang baru saja menabrakku. ‘Tampan’ Sesaat aku terengun melihat wajahnya, badanya tinggi dan tegap. Aku menggelengkan kepala, menyadarkan pikiranku “Kamu tuh liat-liat doank kalo jalan, kamu kira ini jalan nenek moyangmu.”


Pria di depanku tertawa, matanya menyipit sembari memperlihatkan giginya. Aku melihatnya dengan jengkel, aku menaikkan satu alisku “Ada yang lucu hah?!.”


Aku menyingkirkan tubuhnya dari hadapanku, aku berjalan marah. Aku memilih kembali ke rumah di bandingkan harus menghadapi pria tadi, perutku juga sudah mulai bernyanyi. Di sela-sela jalanku, aku menoleh ke belakang, melihat pria itu yang mulai menjauh. Namun perkiraanku salah, pria itu berjalan mengikutiku.


Kali ini langkahku lebih cepat menghindari Pria itu agar tidak mengikutiku. “Dasar laki-laki aneh, untuk apa pula dia mengikutiku, aku tahu aku cantik dan dia tampan.” Gerutuku sembari tersenyum manis, namun langsung tersadarkan. Menurutku aku sudah berjalan cepat dan jauh, jika Pria itu masih mengikutiku, pria itu pasti menyukaiku dari pandangan pertama.


Tersenyum manis ke arahku, sudah di pastikan pria itu menyukaiku. Dia pasti mengikutiku, karena ingin tahu aku tinggal di mana. Dia tahu saja wanita cantik, tapi, aku tidak boleh begitu saja menerimanya. Dia harus memperjuangkan aku terlebih dahulu.


Aku berjalan cepat lagi, jika nanti dia masih mengikutiku, maka akan aku labrak dirinya. Aku harus jual mahal, apa lagi aku seorang Putri dari Planet Leo. Sudah cukup jauh aku berjalan, di depan sana rumahku sudah terlihat. Tepat di depan rumah aku membalikkan badan, dan benar saja Pria tinggi itu masih mengikutiku, dan dia tepat berada di belakangku.

__ADS_1


“Kamu mengikutiku ya?” Aku menyipitkan mata menatap curiga, sedangkan dia hanya tersenyum. Jangan-jangan dia pria jahat, tidak-tidak, dia mungkin memang menyukaiku, namun dia gengsi saja. “Kamu memang sengaja mengikutiku kan?.”


__ADS_2