GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
SERANGAN


__ADS_3

Aku menggerutu tidak jelas seorang diri, di jalan yang di sisi-sisinya terdapat bongkahan bangunan runtuh. Walaupun tampak kacau setidaknya tidak ada prajurit yang memaksa para penduduk untuk bekerja, setidaknya juga mereka bisa hidup tenang walau banyak keterbatasan.


“Kak Tina.” Suara Sina dari belakangku, dia berlari menghampiriku. Dia tersenyum di sela nafasnya yang tersengal-sengal “Kakak sudah latihannya?.”


“Iya.” Aku tersenyum paksa padanya, mengingat kejadian tadi membuat suasana hatiku buruk.


“Ayo kak ikut aku, kita masak di dapur umum untuk makan nanti malam.” Sina menarik tanganku tanpa persetujuan dariku, awalnya aku enggan namun setelah dipikir ini ide yang bagus untuk menyingkirkan pikiran memalukan aku tadi.


Sina menarik tanganku melewati bangunan yang sedikit rusak atau masih utuh tapi ada beberapa bagian yang rusak. Kami masuk melewati pintu yang cukup besar, dari tulisan palangnya aku bisa menebak kalau gedung ini adalah gedung pabrik makanan. Pertama kali aku masuk, aku langsung di suguhkan oleh karung-karung makanan, dari beras dan juga sayur dan buah-buahan.


“Sina sini.” Seorang wanita tua memanggil Sina dan Sina bergegas menghampirinya sembari menarik tanganku. Aku baru tahu isi dari dalam gedung ini, biasanya aku hanya melewatinya saja.

__ADS_1


Ruangan besar ini di penuhi oleh perempuan-perempuan yang sedang memasak, banyak gadis-gadis sedang memotong sayur-sayuran, ada pula pemuda yang sedang mengangkat wajan dan karung. Mereka saling bergotong royong, bahu membahu untuk kepentingan bersama.


“Ini Putri itu ya Sin?” Wanita tua yang tinggi itu berbisik pada Sina sembari melirikku dan Sina mengaguk-angguk.


Aku hanya tersenyum pada semuanya, aku sudah menyadari sedari awal aku masuk telah menjadi pusat perhatian. Sina menarikku untuk membantunya mengupas sayur sayuran bersama dengan yang lainnya. Aku tidak tahu ini sangat menyenangkan, aku mendapatkan teman baru, dan melupakan perihal tadi.


Setelah mengupas, aku berlanjut memasak sayuran di wajan besar bersama Sina dan temannya. Tidak menyangka sudah hampir petang semua makanan sudah jadi, aku kembali ke tenda untuk membersihkan diri. Rasanya badanku sangat lengket karena keringat dan juga tanganku sangat pegal. Aku kira, tubuhku bisa menghilangkan pegal-pegal juga, tepat ternyata tidak.


Kami berjalan bersama-sama menuju sungai, dengan mereka aku sampai lupa kalau aku lebih tua 5 tahun dari mereka. Mereka anak yang menyenangkan, mereka merangkul siapa saja, namun juga mereka trauma bertemu dengan orang baru mereka lihat.


Sungai mengalir dengan deras, angin melambai membawa embun air ke wajah kami. Suara gemercik air yang saling timpa menimpa dan suara burung-burung yang saling bersahutan. Ini kali pertamanya aku melihat sungai seindah ini, kalau di dekatku adanya kali yang penuh sampah dan airnya berwarna coklat. Aku tidak mengira akan ke sini bersama orang-orang yang baru aku temui.

__ADS_1


Kami berkumpul di satu pohon, karena aku tidak membawa pakaian ganti jadi pakaian ini yang akan aku pakai nanti. Di kanan sana sudah ada pemuda yang sedang berenang, di kiri sana ada ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian.


“Kak ayo ke sini.” Sina dan teman-temannya sudah ada di bawah sana. Aku menghampirinya dan kita bermain air bersama-sama, kami saling mencipratkan air satu sama lain, berkejar-kejaran hingga kami lupa waktu.


Di sela-sela kami bermain air, ada kalanya para wanita bergosip tentang pria yang mereka sukai. Aku mendengarkan dengan saksama, rata-rata mereka menyukai Jian karena tampan dan baik hati, ada juga yang menyukai Ian sebab dia gagah dan kuat. Dan yang paling aku bingung kan adalah wanita berambut pendek bergelombang itu menyukai Eri, katanya Eri itu lucu dan baik, dia juga pernah di tolong waktu dia jatuh dan dia mulai menyukainya. Agak aneh mendengar ada yang menyukai Eri, tapi ya sudahlah, sesenang hati mereka saja.


Tidak terasa dua matahari hampir tenggelam, kami segera menyudahi bermain air dan kembali ke tenda masing-masing. Dengan pakaian basah aku buru-buru ke tendaku yang jauh itu, sedangkan Sina sudah kembali dengan keluarganya. Aku tidak tahu kalau malam akan seseram ini, penglihatanku sangat terbatas sebab hanya ada beberapa titik pencahayaan.


“Tina!” Teriak Eri di depan tenda, dia bersedekap dada dan wajahnya terlihat marah. Melihat wajah Eri membuat moodku menjadi buruk kembali, seharusnya aku yang marah, tapi dia yang seolah-olah yang marah padaku. “Kamu habis dari mana?, Kamu tahu aku, Ian dan Jian mencarimu berkeliling sektor ini. Dan kenapa bajumu basah seperti itu?.”


Saat Eri mengatakan Ian dan Jian, aku langsung menoleh ke arah mereka. Wajah Ian terlihat serius, mungkin itu wajah marahnya. Sedangkan Jian, dia hanya tersenyum ketika aku melihatnya. Melihat Jian perasaanku mulai membaik, Jian memberi warna pelangi di hatiku, namun Eri, dia memberikan badai hebat.

__ADS_1


Aku berjalan masuk ke dalam dan melewati Eri. Dia terus mengoceh tidak jelas. Lagi pula, mana mungkin aku pergi dari sektor ini, ini saja pertama kalinya aku ada di planet Capricorn. Eri seperti emak-emak jaman dulu, ketika melihat anaknya baru pulang petang dan tubuhnya penuh kotoran. Maka gagang sapulah yang bertindak, sangat menyeramkan, untung saja ibuku dulu tidak seperti itu.


__ADS_2