
“Aww”
Lenganku terkena goresan dari Air yang Ken kendalikan, dia membuat berbagai posisi dari Airnya untuk menyerangku. Serangannya kali ini lebih cepat dan brutal, aku tidak tahu arah serangannya ingin ke mana. Dia mengunciku dari dalam tamengku, tidak ada kesempatan untuk menyerangnya.
Lagi-lagi seperti ini, kemarin-kemarin juga seperti ini. Aku tidak ada kemajuan dalam latihan, aku terus bersembunyi dalam tameng udara. Tapi setidaknya tamengku sudah sedikit berkembang dari sebelumnya, namun tetap saja, tamengku tidak bisa menahan lama dan banyak serangan dari Ken.
Ini hari kelima, waktu semakin sempit. Aku terus berlatih dengan Ken dan Eri bersama Jian, tidak ada Ian. Pertandingan Di Ring Kekuatan, itu tepat hari perayaan besar di Sektor 1. Siap tidak siap kami harus siap, tidak boleh ada kata mundur, kamu sudah sejauh ini. Anak-anak muda ini hanya ingin kebebasan dan keadilan di negeri ini, kamu hanya mau Planet Capricorn ini menjadi Planet yang damai dan tenteram.
“Ayo Tina, tunjukkan kekuatanmu.” Teriak Ken dari depan sana, dia tidak terlihat kelelahan atau kehabisan tenaga. Dia sangat kuat dan hebat seperti yang aku pikirkan, dan aku juga yakin Ken memiliki kekuatan yang lebih besar di bandingkan ini.
Tangan kananku memperkuat tameng, sedangkan tangan kirinya sedang mengumpulkan tenaga untuk membentuk tombak dari udara-udara di sekitarku. Walau sulit aku sudah mencobanya, aku tidak bisa merasakan kekuatan besar seperti kala aku mengamuk di sektor 3. Apa aku harus melihat Eri terluka dulu baru aku bisa mengeluarkan kekuatan yang besar, ini seperti perasaan emosional. Semua kekuatanku keluar kala aku merasakan ketakutan, kemarahan dan kesedihan yang besar.
Dua tombak sudah siap, tanpa menunggu lama aku langsung mengarahkan tombak-tombakku pada Ken. Ken sepertinya sudah siap dengan serangan yang aku buat, dia tersenyum kala melihat dua tombakku mengarah padanya.
Crash Crash
Lagi-lagi Ken membuat tameng Airnya, seketika dua tombakku menjadi gelembung besar dalam tameng yang dia buat. Keringatku berbaur dengan air pantai yang Ian buat hingga membuat pakaianku basah. Tidak ada yang membantuku, Eri dan Jian juga sedang bertarung tidak jauh dari tempatku. Aku bisa mendengar teriakkan marah dari Eri.
Syut
Aku mencoba menghentikan waktu, Ken memang bisa memasuki ruang dan waktu yang aku buat, namun tetap dia mengalami keterlambatan gerak walau hanya sedikit. Ini adalah kesempatanku keluar dari pisau-pisau Air Ken, dan kesempatan membalasnya.
Luka goresan-goresan sudah memenuhi tubuhku, tidak sakit namun pakaianku penuh dengan noda darah. Aku keluar dari tamengku aku bisa melihat wajah kesal Ken. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyerangnya, aku mengumpulkan tenagaku dan udara-udara dengan tekanan tinggi membentuk sebuah tombak mengarah pada Ken. Dan.
Syut
Waktu kembali berjalan normal, aku menanti hasil dari seranganku. Kupikir Ken akan terkena serangan udara, ternyata salah. Ken tidak bisa secepat itu untuk membuat tameng ketika tombak udara yang aku buat sedikit lagi mengenainya, namun dengan lihat tubuhnya bersalto-salto menghindari seranganku. Sehingga udara-udara itu berhasil melubangi pasir di bekalang Ken.
__ADS_1
“Huft” Aku menghela nafas kesal, tidak mudah menyentuh Ken. Aku menyeka keringat di dahiku, tak lama aku sadar kalau sebuah tubuhku juga basah, jadi itu percuma. Konyol sekali diriku ini.
Nafasku terhenti, tubuhku terselimut air yang sangat banyak. Aku meraih-raih udara di atas, di samping kanan-kiriku, namun nihil. Air ini seperti mengikuti arah gerakkanku. Nafasku mulai sesak, paru-parku membutuhkan oksigen. Aku sudah tidak bisa lagi bertahan, tubuhku mulai terasa lemas.
Aku melihat Ken di sana, dia mengepalkan tangannya sembari menatap tajam di diriku. Aku bisa melihat perubahannya, warna matanya berubah menjadi biru langit yang cerah. Dari telapak tangan hingga sikutnya di penuhi oleh air. Ken menyerangku kala aku sedang lengah.
Blup Blup Blup
Udara keluar dari mulutku. Lalu bagaimana aku sekarang, aku merasa tercekik. Aku tidak bisa mengendalikan udara, mataku mulai kabur. “Haaa hahhh, hah hahhh.” Aku mulai menghirup air dan meminum air. Aku sungguh tidak bisa bertahan lagi, apakah Ken akan membunuhku, kekuatan penyembuhanku tidak berfungsi. Tapi tunggu!.
Ada apa ini, aku, aku tidak merasa sesak lagi. Aku bisa bernafas dengan bebas di dalam ‘Air?’, iya, aku sudah bisa bernafas namun tidak dengan udara. Apa aku juga bisa mengendalikan Air seperti Ken, tidak, aku tidak bisa mengendalikan Air. Tanganku mencoba menyentuhnya, namun air ini tetap seperti air biasa.
Byurr
Air yang menyelimutiku pecah, aku kembali menghirup udara namun sulit. Berkali-kali aku terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutku, dadaku sesak, rasanya nyeri menyelimuti dadaku. Setidaknya pernafasanku kembali normal.
“Kamu hebat sekali.” Seru Ken yang sedang berjalan ke arahku sembari bertepuk tangan. Aku sedikit mendongak melihat wajahnya, wajah tanya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Ken duduk di sampingku “Aku tidak menyangka Putri dari kerajaan Leo sekuat ini.”
Aku tersenyum malu, Ken sedang memujiku, rasanya ingin terbang di atas awan. Berkat Ken juga, aku bisa mengetahui kemampuanku yang lain. Aku memiliki kemampuan baru, setidaknya di latihan yang berat ini, kemampuanku yang lain terpancing keluar. “Terima kasih Ken.”
Ken mengaguk, tidak menyangka aku bisa bertemu orang-orang yang hebat. Paman Yian, Jian, Ken dan banyak lagi, mereka mengajarkanku banyak hal dan mengingatku tentang takdirku. Lalu Ian, seharusnya dia ada di sini, berjuang bersama-sama. Rasanya kembali sesak jika aku mengingat Ian.
“Kamu mau jadi risoles?” Suara Eri setiba di tempatku, lebam-lebam di wajahnya bertambah banyak, padahal hari-hari sebelumnya lebamnya sudah penuh. Dia seperti manusia ungu, tubuhnya penuh tanda-tanda latihan. Walau begitu Eri tidak pernah mengeluh tubuhnya sakit atau mengeluh tentang latihannya. Dia seperti menerima dengan senang hati apa yang di takdirkan untuknya.
‘’Risoles?’ Apa maksudnya, Eri sangat aneh. Terkadang aku tidak tahu arah jalan pikiran Eri, dia anak yang random, selalu acak dan susah di tebak.
“Iya, kamu tinggal menggorengnya Eri.” Jawab Ken sembari bersalam dengan Eri dan Jian. Tentu saja Ken dengan Eri sefrekuensi, mereka seperti anak kembar namun beda rupa.
__ADS_1
Eri tertawa sembari menatapku dengan penuh arti, lalu menaik turunkan alisnya pada Ken “Bagaimana?, Apa kita langsung menggorengnya?.”
Ken mengaguk dan langsung berdiri, lalu menghampiriku dengan Eri. Mereka tersenyum psikopat, dengan tatapan yang menyipit ke arahku. Aku yang merasa dalam bahaya langsung duduk dan ingin berdiri, namun dengan cepat Ken memegang kedua kakiku dan Eri memegang kedua tanganku.
Apa yang mereka lakukan, menggorengku seperti apa. Aku meronta-ronta melepaskan diri “Hei!!, Apa yang kalian lakukan, lepasin!!!.” Kalau di pikir yang mereka maksudkan risoles adalah tubuhku yang penuh dengan pasir sebab pakaian dan tubuhku yang basah. “Ken!! Eri!!, Lepasin ihh.”
Mereka seolah-olah tidak mendengarku, padahal aku sudah berteriak-teriak dengan keras dan kencang. Mereka saling beradu pandang, lalu mengaguk “1...2....3.” Mereka mengangkat tubuhku dengan sangat mudah. Mereka sangat tidak sopan pada seorang Putri, apa lagi dari kerajaan yang besar.
“HEI!!! LEPASINNN!” Teriakku yang sangat keras kala mereka berjalan mengarah Air pantai, jadi ini yang mereka maksudkan menggorengku. Aku terus meronta-ronta, namun pegangan mereka sangat kuat. Aku hanya bisa pasrah, aku juga sudah terlanjur letih dan lelah untuk menghadapi keusilan mereka
“1.. 2....3....BYURRR”
Mereka berhasil melemparkan aku ke dalam air, tubuhku yang basah pun basah lagi. Saat mereka berhasil melemparkanku, mereka langsung berlari menjauhiku. Aku yang sempat terseret arus langsung duduk dan berdiri, menatap Ken dan Eri dengan sangat tajam. “KENNN, ERIII.”
Aku berdiri dan mengejar mereka, tentu saja aku tidak bisa mengejar Ken, sebab dia mempunyai kaki yang sangat panjang dan larinya pun sangat cepat. Jika Eri, aku sangat bisa membalas ke usulannya. Lihat saja!.
Syut
Waktu terhenti, hanya Ken yang bisa bergerak lama ruang dan waktu yang aku buat. Aku berlari mengarah Eri, gerakkannya terhenti. Sempat aku tertawa melihat wajahnya yang jelek, dia tersenyum sembari tertawa dan berlari, sangat aneh.
Aku mengamati tubuh Eri dengan kekuatan udaraku, Ken hanya melihat sembari tersenyum. Tentu saja aku membawa Eri ke bibir pantai, senang sekali bisa menjahilinya. Mungkin ini rasanya ketika dia menjahili aku.
Syut
Waktu kembali berjalan normal, Eri meronta-ronta di udara. “Byurr” Tubuh Eri berhasil mendarat tepat di air yang lumayan jauh, tubuhnya hilang di telan air. Sedangkan aku meloncat-loncat sembari tertawa dan bertepuk tangan. Rasakan itu.
“TINAAA.” Teriak marah dari Eri, itu adalah tanda bahaya. Aku segera berlari menghindarinya dan akhirnya pun kami saling berkejaran-kejaran, menyemburkan ke dalam air serta gulat-gulatan menjatuhkan satu sama lain.
__ADS_1