
“Tidak perlu, aku suka ide mu, tim kita adalah ‘Tim Laris Cappucino’” Seru Eri membuat Ian dan Jian menghentikan langkahnya, dengan lantangnya Eri meresmikan nama Tim kami “Ian, Tim kita ada Tim Laris Cappucino. Tina yang memberikan ide itu sendiri, bagaimana?.”
Jawaban Ian di luar dugaanku, dia mengaguk antusias. Seharusnya aku tidak memberikan ide gila itu, aku menjadi menyesal sendiri. Tim ini bisa-bisa menjadi tim yang gila, gila dalam artian tidak jelas. Aku menghela nafas panjang, tapi di sisi lain aku senang. Aku memiliki keluarga baru dan penuh petualangan. Dan semoga saja seluruh Planet kembali normal.
Lama kami berjalan-jalan dan melihat-lihat, Jian menuntut kami ke salah satu bangunan yang masih setengah utuh yaitu perpustakaan terbesar di sektor 3 ini. Gedung ini sebenarnya megah dan indah, namun manusia yang tidak berperasaan itu menghancurkan jendela dunia ini. Rak-rak buku yang terjejer rapi, dan banyak tumpukan buku di sana.
Sempat ketika kami memasuki perpustakaan ini, anak-anak setinggi kami yang awalnya sedang membaca buku, mereka langsung bersembunyi di balik rak-rak buku ketika melihat kami. Pasti trauma mereka sangat berat hingga takut pada siapa pun yang mereka lihat, laku bagaimana dengan negeriku. Apakah mereka juga seperti ini, atau lebih buruk.
Aku mencoba tersenyum pada gadis di balik rak buku di depan sana, dia tidak membalas senyumku, hanya melihatku dengan penuh tanya. Jian di depan sana mengambil salah satu buku dan menaruhnya di meja panjang. Aku melihat buku berdebu itu, buku dengan gambar pola cukup aneh.
“Ini adakah buku tentang segala hal Galaksi Zodiak, semua tentang Planet-planet ada di sini.” Jelas Jian seraya mengambil buku lain dan membacanya di tempatnya sana, aku tahu kenapa Jian memilih di sana, sebab jika bersama kami dia pasti ke berisikan.
Eri mengambil tempat lebih dahulu lalu aku di sebelah kanan Eri dan Ian di sebelah kiri Eri. Halaman pertama bertuliskan Aquarius, itu sudah pasti Planet pertama di Galaksi Zodiak ini. Halaman kedua adalah sebuah gambar, tidak terlalu jelas namun masih terlihat. Gambar Planet yang sebagian besarnya berwarna biru tua dan biru muda, sudah pasti Planet Aquarius dan Planet Pisces adalah Planet yang memiliki banyak air.
__ADS_1
Halaman perjalanan kami balik, mataku di suguhkan oleh pemandangan-pemandangan yang sangat indah dari setiap Planet. Mereka sendiri memiliki ciri khas fisik, pakaian, makanan, budaya dan banyak lagi, bahkan mereka menceritakan pergantian para pemimpin. Namun sayangnya hanya Planet-Ku yang memiliki deskripsi yang singkat dan sedikit.
Sama seperti Ian bilang kala itu, Planet-Ku terdiri dari empat musim, sistem pemerintahannya adalah kerajaan dan tidak di jelaskan lebih lanjut. Sedih sekali aku tidak mengetahui banyak tentang negeriku sendiri, dan Ian benar, negeriku adalah negeri yang jarang di ketahui bagaimana keadaannya.
Setelah membaca buku ini, sampai akhirnya tiba di halaman terakhir yaitu Capricorn. Aku tidak terlalu banyak membacanya sebab aku sudah ada di Planet-Nya. Ian sudah pergi mencari buku yang lain, sedangkan Eri masih dengan buku itu, lalu aku berjalan menghampiri buku-buku di sana. Aku mengambil buku tebal, ini seperti buku novel namun sangat tebal. Dulu cita-citaku adalah menjadi penulis, memiliki banyak karya seperti idolaku, yaitu kak Darwis ‘Tere Liye’.
Setelah aku membuka buku ini ternyata banyak sekali gambar-gambar visual dari isi ceritanya, aku hanyut dalam isi ceritanya ini. Terkadang aku tertawaan sendiri, geram sendiri dan terharu seorang diri. Sampai aku tidak tahu ada seseorang yang sedang mendekat ke arahku.
“Apa kamu Putri Leo dari Planet Leo?” Suara gadis ini membuat terkejut, tingginya sama sepertiku. Perkiraan umurnya dari 9 sampai 11 tahun. Gadis ini yang bersembunyi ketika kami baru pertama kali datang, pakaian yang warna luntur dan rambut berkepang dua di kanan dan kirinya.
“Sina.” Dia mengelap tangan lalu menyalamiku, dan aku melakukan yang sama baru menyalaminya. Dia terlihat grogi dan gugup, Sina memegang buku di tangannya sangat erat. “Kakak, apa kamu yang akan membantu kak Jian nanti?”
Aku mengangguk, Sina terlihat senang dan polos. Wajahnya cantik, kalau di lihat-lihat penduduk Planet Capricorn ini banyak sekali yang tampan dan cantik. “Kak, bagaimana rasanya menjadi seorang Putri?.”
__ADS_1
Aku terdiam, aku tidak tahu bagaimana rasanya namun beban yang aku tanggung sanggatlah berat. Tapi tidak mungkin aku bilang tidak menyenangkan menjadi seorang Putri, di pikiran banyak orang. Seorang Putri adalah anak yang paling beruntung, apa pun yang seorang Putri inginkan pasti terpenuhi dan memiliki banyak orang-orang yang menyayanginya. Tapi berbeda denganku, semua beban datang secara bersamaan dan saling menumpuk.
“Sangat menyenangkan.” Bohongku, maaf jika aku berbohong sebab tidak mungkin aku berbicara pada Sina yang sebenarnya aku rasa. Sina terlihat sangat senang, matanya berbinar. Aku tersenyum maaf padanya, rasanya aku sangat jahat jika berbohong dengannya tapi mau bagaimana lagi, Putri di pikiran Sina sanggatlah berbeda denganku. “Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, makan apa pun dan memakai apa pun yang aku mau.”
“Wahh, enak sekali menjadi seorang Putri, bisakah aku menjadi seorang Putri.” intonasi suara Sina meredup di akhir katanya. Aku sangat mengerti perasaannya.
Aku memegang bahunya “Kamu juga seorang Putri Sina, ayahmu pasti melakukan apa saja yang membuat bahagia dan dia akan melindungimu dengan segenap jiwa.” Sina menoleh ke arahku, dia tersenyum lalu mengangguk. “Banyak di luar sana yang tidak memiliki orang tua Sina, dan seharusnya kamu senang.”
“Kakak benar” Akhirnya senyum manis itu muncul kembali.
Namun tidak untukku, aku tidak pernah melihat Ayah seumur hidupku. Tidak pernah di gendong atau di manja oleh ayah, aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Putri sejati. Ayahku adalah Sang Raja, dia pasti hebat, kuat dan baik. Jika saja aku bisa merasakannya walau hanya satu menit, itu sudah lebih dari cukup aku bisa merasakan menjadi seorang Putri.
“Kak.” Panggilan Sina membuyarkan lamunanku, dia tersenyum manis “Bolehkah aku melihat kerajaanmu?.”
__ADS_1
“Tentu saja.”