GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
DI BAWAH SINAR BULAN


__ADS_3

“Ayo kita bernyanyi.”


Aku tidak menolaknya, sepertinya sangat menyenangkan bernyanyi di bawah sinar bulan purnama. Ian pun tidak menolak, dia mengambil sebuah gitar, sementara aku dan Eri bernyanyi. Dengan suara pas-pasan kami bernyanyi lagi pop berasal dari bumi, yaitu lagu tulus yang berjudul Manusia Kuat.


Aku dan Eri menyanyikan lagu itu dengan suara yang bisa di bilang jelek, di iring gitar yang di mainkan oleh Ian. Aku sangat menikmati ini, menari-nari tidak jelas, sesekali suaraku dan Eri tidak sampai hingga membuat lagu kami menjadi hiburan tawa mereka yang dengar dan melihatnya.


Kau bisa hitamkan putihku


Kau takkan gelapkan apa pun


Kau bisa runtuhkan jalanku


Kan kutemukan jalan yang lain


Manusia-manusia kuat itu kita

__ADS_1


Jiwa-jiwa yang kuat itu kita


Manusia-manusia kuat itu kita


Jiwa-jiwa yang kuat itu kita


Tepuk tangan sangat meriah untuk kami, Ian, aku dan Eri membungkuk hormat. Kami tidak langsung duduk, para pemuda-pemudi bahkan anak-anak kecil berdiri dan menari mengelilingi api unggun. Malam yang sangat indah. Tanpa aku sadari kesenangan ini akan berakhir beberapa hari ke depan.


***


“Jam berapa ini, masih terlalu pagi Eri.” Aku mengusir Eri dari sampingku, rasanya badanku sangat lelah. Kamu tertidur larut malam dan bangun sangat pagi, bahkan aku belum bisa menyesuaikan waktu di bumi dengan Planet ini. Mungkin saja di bumi sekarang jam 1 malam.


“Matamu pagi, ini sudah jam sepuluh siang. Kami tidur seperti kebo.” Aku langsung terbangun, menyingkirkan selimut dari tubuhku. Aku tidak bisa melihat luar sana karena ini di dalam tanah, aku melihat Eri dengan wajah yang serius. “Cepat bangun, kamu mempermalukan manusia bumi.”


“ERIIIIII!!” Teriakku kala Eri melemparkan kecoak padaku, sedangkan si pelakunya berlari sembari tertawa puas.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri, mengenakan baju anak 10 tahun di sini, yang masih kebesaran ketika aku mengenakannya. Tak terasa saat ini sudah tepat tengah hari, aku mencari Ian dan Eri namun batang hidung mereka masih tidak aku temukan. Aku berkeliling hutan, basah dan licin.


Tadi aku sudah bertanya pada pemudi yang sedang membantu ibu-ibu masak, dan katanya dia melihat mereka di hutan berlatih dengan Jian. Namun sudah 5 menit aku menelusuri tempat ini tapi masih tidak ada tanda-tanda mereka, hanya pemuda yang sedang berburu hewan.


Buk Brakk


Aku mendengar suara itu dari arah sebelah barat, mungkin saja mereka di sana sedang berlatih. Dan benar saja mereka sedang berlatih, 1 lawan 2. Ian dan Eri melawan Jian seorang diri, walau jumlah mereka lebih banyak tapi tetap saja mereka kalah dari Jian yang hebat. Ini pertama kalinya aku melihat Jian berlatih, sepertinya, jika aku berada di sini terus hari-hari akan indah secerah matahari pagi.


Latihan mereka berhenti dan menatapku, aku tidak sadar dengan posisiku saat ini. Tubuh bersender di pohon, dengan kedua tangan menelangkup pipiku, tersenyum-senyum dan memandang kagum Jian. Saat aku sadar aku langsung memosisikan diri tegap sempurna, betapa anehnya aku jika di lihat seperti itu. Aku menetralkan wajahku “Ekhm, kalian lemah sekali, hanya melawan satu orang saja tidak bisa.”


“Melawan satu orang saja tidak bisa.” Eri kembali mengejekku, pagi yang akan suram jika melihat wajahnya setiap hari. “Kalo gitu, coba kamu yang lawan dia sendiri.”


Aku seperti di lempar batuku sendiri oleh Eri. Aku menyibak rambut “Oke, siapa takut.” Aku bohong, sebenarnya aku takut, aku tidak memiliki kekuatan apa pun untuk bertarung dengan Jian.


Jian sedikit membungkuk hormat yang membuatku sedikit kikuk “Suatu kehormatan bisa bertarung denganmu.” Aku tersenyum cengengesan, senyum yang biasanya Eri gunakan. Jian mempersiapkan kuda-kudanya “Ayo Putri.”

__ADS_1


__ADS_2