GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
BERLATIH 2


__ADS_3

Hari demi hari kami berlatih dengan Paman Yian, hanya kami bertiga. Paman Yian bilang, Jian berlatih seorang diri di hutan, sebab di hutan ada musuh yang sulit di taklukkan, yaitu hewan-hewan raksasa dan ganas. Tapi menurutku Paman Yian lebih ganas di bandingkan hewan-hewan raksasa di hutan.


Buk


Tubuh tinggi Ian menabrakku sehingga kami jatuh bersamaan. Eri berteriak marah, dia melemparkan semua yang ada di sekitarnya dan di arahkan pada Paman Yian. Aku dan Ian berdiri, aku menghentikan waktu dan di saat itu juga secara bersamaan mereka berdua menyerang Paman Yian. Ian memukul Paman Yian di bagian perutnya, lalu di detik terakhir Eri melemparkan Paman Yian dengan batu berukuran sedang.


Waktu kembali normal, Paman Yian mengeluh sakit perut seraya melompat dari tempatnya untuk menghindari serangan Eri. Paman Yian sangat kuat, dia menghentikan waktku dan menyerang aku, Eri dan Ian secara bersamaan, dia mengangkat tiga batu bersamaan dan melemparkannya pada aku, Eri dan Ian. Aku tidak bisa membantu, aku berlari menghindari lemparan batu itu sedangkan ke dua temanku menggaduh sakit kepala mereka.


1 menit yang krusial, Paman Yian pasti sedang mengumpulkan kekuatan telekinesisnya. Itulah kesempatan emas kami untuk melawannya. Eri dan Ian Menyerang Paman Yian secara bergantian dan aku hanya melihatnya dari belakang.


Aku tersenyum dan tertawa meratapi dirimu, setidaknya bergunakah diriku saat ini. Hanya bisa menatap teman-temanku yang sedang berjuang, sedangkan aku hanya bisa berdiam diri menunggu kapan aku di butuh kan.

__ADS_1


Paman Yian sangat lihai bela diri, dia gesit dan lincah menghindari serangan-serangan yang menyerang padanya. Eri mulai kehabisan tenaga, dia terkena tendangan Paman Yian hingga terjatuh. Begitu pula dengan Ian, perutnya di tonjok berkali-kali hingga keluar darah dan tumbang. Paman Yian melihat ke arahku, dia tersenyum “Jangan terus berdiam diri Putri, kamu tidak bisa mengandalkan orang lain. Jangan buat orang lain kehilangan nyawa untuk dirimu yang tidak berguna.”


Kata-kata Paman Yian membuat panas hatiku, dia benar tapi tetap saja, dia tidak berhak dan tidak boleh berbicara seperti itu padaku. Entah kata-kata hanya membuat aku semangat, tapi malah sebaliknya, kata-katanya membuatku marah dan sakit hati.


“Ayo Putri, lawan aku dengan semua kekuatanmu.” Paman Yian tersenyum kala melihat perubahanku. “Lihat mata merah itu, kamu sebenarnya kuat Putri. Kamu hanya egosi mengakui kekuatanmu, kamu selalu arogan pada dirimu. Kamu menjahati dirimu sendiri dengan membohonginya.”


Aku merasakan hawa hangat menyelubungi seluruh tubuhku, dan tanpa aku sadar aku terbang setinggi satu jengkal. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya, namun semua berjalan begitu saja. Hatiku rasanya semakin panas mendengar kata-kata Paman Yian “Paman benar, aku selalu arogan, egois dan berbohong pada diriku sendiri.”


Angin kencang bersiur mengelilingi tubuhku, debu-debu serta daun-daun kering beterbangan. Aku merasa memiliki kekuatan besar di dalam tubuh, namun aku belum tahu apa itu. Jika dulu aku hanya melihat tubuhku bergerak dengan asap hitam lalu membunuh siapa pun lawannya, namun saat ini aku yang merasakannya, dengan penuh kesadaran.


Jari-jari semakin memanas, aku mengarahkan tanganku pada balok yang hampir menabrak tubuhku, balok itu terdiam di udara. Aku tidak mempunyai kekuatan telekinesis, namun aku menggerakkan udara di sekitarku untuk menghentikan laju balok besar itu. Aku menatap nanar, walau kini aku tidak lagi merasakan sakit, namun tetap saja balok itu sangat besar. Yang ada nantinya tubuhku tidak terbentuk lagi.

__ADS_1


“Bagus Putri, sekarang kami lemparkan balok itu ke arahku.” Mendengar itu aku tidak berpikir panjang, aku langsung mengarahkan balik kayu besar itu ke arah Paman Yian yang sudah siap dengan kuda-kudanya.


Buk


Aku menganga tidak percaya, di sisi lain aku mendengar tawa Eri yang keras. Di sus Ian yang tersenyum-senyum melihat aksiku barusan sedangkan Paman Yian dia menepuk dahinya sendiri. Dan aku tidak lagi terbang, tidak ada lagi angin yang mengelilingi tubuh dan mata merah, aku kembali normal.


Balok kayu yang besar itu terjatuh 2 meter dari tempatku, sedangkan tempatku dari Paman Yian sejauh 15 meter. Wajahku memerah kala mereka menertawaiku, namanya juga kekuatan baru, mana aku tahu jika kekuatan itu masih lemah. Dan mereka juga, kenapa harus tertawa seperti itu. “Kalian diamlah!?.


Tawa Eri bertambah keras “Hahaha, tadi mukanya kayak yakin gitu, udah pede banget lagi, tapi pas di lempar cuman segitu.” Ian di sampingnya pula tertawa, begitu juga dengan Paman Yian. Mereka sangat menyebalkan.


Aku bergegas pergi seraya mengentakkan kaki dengan keras, aku sangat malu apalagi mengingat aku terlalu yakin dan percaya diri. Aku memukul kepalaku, tidak keras tapi ya seperti itulah, aku sangat malu. Aku menendang batu di depanku “Ihh, kenapa aku harus sepede itu. Aku bukan Paman Yian, Eri dan Ian yang sudah berlatih bertahun-tahun, tapi tadi, aku sudah seperti pahlawan kemalaman.”

__ADS_1


Aku menggerutu tidak jelas seorang diri, di jalan yang di sisi-sisinya terdapat bongkahan bangunan runtuh. Walaupun tampak kacau setidaknya tidak ada prajurit yang memaksa para penduduk untuk bekerja, setidaknya juga mereka bisa hidup tenang walau banyak keterbatasan.


“Kak Tina.”


__ADS_2