
“Kali ini kamu apakan dia?” Suara Eri, pasti dia sudah selesai latihan dengan Jian. Rasanya ingin menutup kuping, malas sekali mendengar mereka mengolok-olokku. Namun tidak bisa, tanganku tidak bisa di gerakan. Jika aku sudah sehat, akan aku pastikan kepala mereka akan pindah ke tangan mereka.
“Memberikan dia hiburan sedikit, seperti anak-anak bermain air” Jawab Ken, ingin sekali aku berdiri dan menjambak rambut mereka hingga gundul. Bisa-bisanya dia bilang ‘hiburan sedikit’ dan ‘seperti anak-anak bermain air’. Aku rasa dia tidak akan bisa menjadi orang tua, dia saja menganggap latihan barusan sebagai bermain air. Sehari saja anaknya bermain air, aku yakin beberapa menit kemudian anaknya hanya tinggal nama.
Dua sejoli di sana terus saja mengejekku, andai mereka ada di posisiku, aku yakin kesembuhan mereka akan mengalami berbulan-bulan. Apa lagi dengan tulang yang patah dan bergeser, mereka pasti akan berteriak-teriak seperti perempuan. Dan mereka juga bukan teman yang baik, sebab teman mereka yang sedang sekarat saja masih bisa di tertawakan. Mereka tidak lagi berdiri, namun duduk di dekatku berbaring. Setiap tawa mereka membuat rasa jengkelku bertambah, dan setiap kali mendengar celoteh mereka, ingin aku patahkan setiap tulang mereka.
Selama 30 menit aku berbaring tanpa bisa menggerakkan tubuhku, 30 menit juga Eri dan Ken masih menggunjingku. Setidaknya tubuhku mulai membaik, aku sudah bisa merasakan tanganku dan kakiku. Aku mulai bisa menggerakkan sedikit demi sedikit tubuhku, otot-otot mulai menyatu sempurna, tulang-tulang sudah berada di posisi yang seharusnya dan syaraf-syaraf yang aktif kembali.
Aku mulai mengangkat tangan dan kakiku secara bergantian dan perlahan-lahan, aku juga bisa menoleh ke kanan-kiri. Menekuk-nekuk tangan dan kaki secara hati-hati, aku bisa mendengar suara gesekan di dalam tubuhku. Aku juga bisa mendengar suara tawa Eri dan Ken, bukannya di bantu malah tertawa bagai hiburan.
Setelah beberapa menit kemudian, aku juga sudah merasakan kembali setiap denyut nadiku. Ketika semua tubuhku kembali seperti semula, aku mulai duduk dari tidurku. Rasa nyeri dan pegal menyeruak dalam tubuhku, aku meregangkan otot-ototku dengan perlahan. Terdengar suara kretekkan dari di setiap persendianku, akhirnya tubuhku kembali normal.
Ken benar-benar kuat, dia bisa menghabisi lawannya tanpa mengotori tangannya. Aku yakin Ken masih memiliki kekuatan yang sangat besar di bandingkan tadi, mungkin saja Ken bisa membuat tsunami besar atau membuat pusaran besar di tengah laut.
__ADS_1
Aku berdiri dengan kedua kakiku di bantu oleh Jian, setidaknya untuk saat ini Jian tidak ikut-ikutan dengan kakaknya dan Eri. Dari berjalan pelan, kemudian berjalan cepat dan berlari. Aku tersenyum lebar pada Eri, Ken dan Jian “Lihat kan aku sangat hebat.” .
“Hebat apanya, hampir satu jam kita di sini hanya menunggu kamu bangun tidur” Aku memutar bola mataku kala Eri mengucapkan itu, memang dia tidak suka melihatku tersenyum. Eri merangkul bahu Ken yang jelas dia sudah menggapainya “Ayo kita pulang, aku sangat lapar menunggunya bangun.”
Sebelum mereka berjalan melewatiku, aku berjalan lebih dahulu menuju rumah. Eri benar, latihan ini benar-benar menguras tenagaku dan perutku. Aku butuh energi lebih banyak untuk mengalahkan Ken di latihan selanjutnya.
Siang ini tidak terlalu panas, sebab awan masih berkumpul menutupi sinar matahari. Dan lagi-lagi pakaianku basah semua, menambah dinginnya tubuhku. Jika saja aku bisa mempunyai kekuatan pengendali api, dengan mudah aku bisa menaklukkan Ken.
“Lamban.” Ucap Eri kala berlari melewatiku seraya mengacak-acak rambutku.
“Tangkap aku kalau bisa.” Berlari mengejar Eri, sama seperti mengejar ekspetasi. Jian dan Ken berjalan jauh di belakang kami. Kami berlari sampai tidak tahu kalau kamu tepat di depan halaman rumah Ian.
Aku berhenti berlari kala melihat Ian sedang membawa ikan-ikan di tangannya dengan tali, dia berjalan santai menuju rumahnya “IAN!!.” Aku melambaikan tangan dengan semangat, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Namun tidak ada balasan darinya, di sempat tersenyum sedikit laku memasuki rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Ian sudah berubah, Ian, bukan lagi Ian yang dulu. Aku ikhlas jika dia menjahiliku setiap hari kalau dia tetap bersama kami, tidak apa-apa dia memberikanku makanan asam atau pahit, asal dia selalu bersama kami.
Aku menatap lesu rumah Ian, dulu dia adalah panglimaku, dan sekarang kami bagai orang asing yang saling tidak mengenal. Memutar kembali kenangan lama, ketika kamu semua makan malam di rumahnya, membantu ibu dana ayah. Belum selesai aku memutar semua momenku bersama mereka, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku, siapa lagi kalau bukan Eri.
“Apa!?” Aku melepaskan tangannya dan langsung pergi meninggalkannya. Langkahku terhenti beberapa langkah saat aku ingat tujuanku sebelumnya, aku berjalan lambat hingga berjalan sejajar dengan Eri. Dan “Rasakan, kamu selalu menggangguku.”
“Aaaaa, Tin, Tina lepas.” Teriakan Eri seperti alunan musik yang menyenangkan, dia berteriak karena aku menjambak rambutnya seraya berjalan ke rumah. Dia terus mencubit punggung tanganku di kepalanya, sedikit sakit namun tak apa, yang penting aku senang sekarang. “Tin lepas, nanti rambutku rontok.”
“Biarin, siapa suruh mengejekku tadi.” Ucapku yang terus membawanya ke dalam rumah, puas sekali aku menjambak rambut tebal Eri. Tak lama di susul Jian dan Ken masuk dalam rumah, mereka tertawa puas melihat rambut Eri yang berantakan. Mereka memberikan dua jempolnya padaku.
Kulepaskan tanganku dari rambutnya, aku ingin beristirahat, badanku sudah memulai banyak hal hari ini. Berjalan malas menuju kamarku, berganti pakaian dan langsung merebahkan diri di kasur tipis. Memejamkan mata dan mencari mimpi. Di khayalanku, seorang Putri adalah orang yang paling beruntung, memakai gaun indah, dan semua yang di inginkan di turuti. Sedangkan kenyataan menamparku, aku seorang Putri yang harus berusaha merapikan kembali yang rusak dan menatap kembali yang berantakan.
Mataku mulai memberat dan hampir tertidur. Namun suara ketukan pintu dan suara yang keras mengembalikan kinerja otakku. Eri berteriak-teriak memanggil namaku, aku sepertinya tahu kenapa dia berteriak-teriak seperti itu.
__ADS_1
Dor dorr dor
“TINAA, IRE-KU KAMU TARUH DI MANA!!!” Teriakan Eri seperti toa, mungkin suaranya bisa terdengar satu sektor ini. Aku menatap pintu dengan malas, aku membalikkan diri hingga tengkurap dan menaruh bantalku di atas kepalaku, merendam suara Eri yang sedang kesetanan. ”TINAAA!!.”