GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
IKAN BESAR


__ADS_3

“Iya, iya aku janji.”


Setelah bersalaman kelingking Eri melepas baju pelampungnya dan membenarkan corong pernapasannya di mulutnya. Dia menatapku tidak yakin “Pegang tanganku, awas saja kamu meninggalkanku.”


Aku mengulurkan tanganku dengan malas, dia mencengkeram erat lenganku. “Ayunnya pelan-pelan, apa lagi kamu udah pakai sendal kodok jadi gampang, tenang jangan panik.” Ucapku saat melihatnya panik, dia mengayunkan kakinya dengan berantakan dan cepat.


Eri menurut ucapanku, dia tersenyum senang kala bisa mengambang tanpa alat bantuan dan tidak lagi berpegangan di lenganku. Kami masih berambang-ambing arus laut, aku masih menunggu Eri menyesuaikan diri. Seru melihatnya, dia seperti anak kecil yang bisa baru belajar berenang.


Entah kenapa saat bersama Eri dan yang lainnya membuatku lupa dengan keadaanku sekarang, aku tidak lagi memikirkan harus bagaimana melindungi banyak orang, tidak lagi memikirkan pertarungan, dan tidak lagi memikirkan kekuatan apa saja di dalam tubuhku. Aku senang bisa menjadi manusia bisa yang hidupnya penuh canda tawa, walau kenyataan memanggilku sebagai orang besar yang di harapkan banyak orang.


Sejenak aku melupakan beban besar dalam pundakku, semua beban yang aku pikul lebih ringan. Aku tidak tahu lagi jika Eri, Ian dan yang lainnya tidak ada. Mungkin saja aku tidak akan sekuat ini dan tidak akan bisa bertahan dalam dunia yang kejam.


Eri mencipratkan air ke wajahku “Ayo, malah bengong.” Ingin sekali aku mempalu kepalanya, sok sekali dia, seperti sudah handal saja berenangnya.

__ADS_1


Aku sedikit ragu untuk menyelam, aku tidak tahu apa aku bisa lagi bernafas dalam air atau tidak. Tadi pagi saat berlatih dengan Ken, mungkin saja itu kekuatan yang muncul di saat keadaan terdesak.


Eri mencoba beberapa kali keluar dan masuk ke dalam air, dia ingin beradaptasi lebih dahulu. Sekarang giliranku, aku mencoba menyelam dan bernafas dalam air. Rasanya sangat sesak, udara di paru-paru keluar melalui mulut dan hidungku lalu di gantikan dengan air. Aku terbatuk-batuk dalam air dan nafasku masih tersedat-sedat, kupingku berdengung kemasukan air dan kepalaku sedikit pusing kala air memasuki hidungku.


Mataku di suguhkan oleh pemandangan dalam laut yang sangat indah, air jernih, ikan-ikan yang bersembunyi kala melihat kami dan terumbu karang yang sangat cantik. Berat badanku seringan kapas dan laju renangku terbilang ringan sebab aku memakai sendal kodok yang Eri bawa. Di sampingku terlihat Eri sedang melambai, matanya dan mulutnya membulat sempurna. Aku lupa kalau Eri tidak tahu kemampuan baruku, melihatnya membuatku tertawa sendiri.


Aku mengisyaratkan memalui gerakan tubuhku untuk menelusuri tempat ini, dia hanya mengaguk, entah dia mengerti atau tidak. Dia mengisyaratkan padaku lewat gerakannya juga, tangannya menutup lalu menggerakkannya seperti ular, kepalanya menggeleng-gelengkan, lalu tubuhnya menelangkup.


Aku mengangguk, sebenarnya aku tidak mengerti apa yang dia maksud, namun lebih baik aku mengiyakan agar cepat. Aku sudah tidak sabar lagi memegang ikan-ikan di sini, lalu menculik beberapa ikan untuk aku bawa pulang. Eri juga sudah menyiapkan beberapa stoples di kapal, untung saja kami sefrekuensi.


Aku mengayunkan kakiku mengarah terumbu karang, banyak ikan-ikan yang bersembunyi di baliknya. Aku tidak sepenasaran Eri yang memegang hewan dan tumbuhan laut, aku hanya memandangnya tidak berani menyentuh, takut akan ada racun di dalamnya. Lagi pula aku tidak tahu banyak tumbuhan dan hewan laut yang berbahaya.


“Hmm hmm hmmm hmmm.” Aku menoleh pada Eri yang berisyarat tidak jelas, aku memiringkan kepala. Aku hanya mengangguk untuk mengiyakannya, itu pasti membuatnya bahagia. Namun perkiraanku salah, dia menepuk dahinya.

__ADS_1


Eri menghampiriku, dia menarik lenganku hingga aku berada di sampingnya. Dan betapa terkejutnya aku melihat ikan besar di belakangku tadi, ikan bersisik silver, bermulut besar dan siripnya berwarna kuning keemasan. Ikan besar itu melewati kami dengan tenang, sempat matanya melirikku. Jadi ini yang di isyaratkan Eri, dia menyuruhku menyingkirkan sebab aku menghalau jalan ikan besar tadi. Kenapa dia tidak bicara, lagi pun isyaratnya tidak jelas hingga aku tidak dapat mengartikannya.


Lalu tak lama kura-kura sebesar kami berenang melewati kami, dengan anak-anaknya di atas cangkat mereka. Warna hijau lumut, kuat dan kokoh cangkang dari si kura-kura tersebut, dan anak-anak kecil mereka yang sangat lucu. Ingin sekali aku mengambilnya, namun aku takut tidak bisa mengurusnya dengan baik, apa lagi jika kura-kura itu membesar, mau di taruh ke mana, rumahku sangat kecil.


Eri kembali ke permukaan untuk mengambil nafas baru lagi, aku kembali ke terumbu karang yang lain dan lebih dalam. Senang sekali bisa bernafas dalam air, sehingga aku tidak perlu mengambil nafas seperti dan Jian. Aku juga baru tahu ternyata pengendali Air bisa bernafas dalam Air.


Tidak terasa kami sudah lama di dalam air laut, tanganku sudah mulai mengeriput dan kakiku juga sudah pegal karena harus mengayunkan kaki di dalam air. Aku sudah sangat puas mengelilingi seisi laut di sekitarku, tidak jauh dan tidak dalam , tapi ini sudah lebih dari cukup. Mataku juga sudah di manjakan dengan berbagai keindahan laut, aku dan Eri juga sudah mengambil beberapa ikan untuk kami bawa.


“Hmmm hmmm hmm hmm.” Suara dari Eri lagi, aku mulai malas mendengarnya, tidak bisakah dia melihatku yang sedang senang dan tenang. Kali ini wajah Eri penuh dengan ketakutan dia menghampiriku dan langsung menarik tanganku, dia membawaku bersembunyi di salah satu terumbu karang.


Kedua tangan Eri membawa kedua pipiku dan di arahkannya pada tempat awal sebelum dia menarikku. Awalnya aku tidak melihat apa-apa, namun tak lama ada seekor ikan yang sanga besar melewati di atas kami. Ikan yang sangat besar, dengan gigi taring yang tajam, di sana terlihat ikat kecil menyangkut di giginya.


Aku menutup mulutku, walau aku tidak bisa bersuara, namun tetap saja ini sangat mengejutkan. Jantung berdetak kencang, nafasku menjadi sesak, dan rasa takutku menjalar ke seluruh tubuhku. Ken benar, ada hiu di laut ini. Tapi di mana Ken dan Jian, aku tidak melihatnya dari tadi.

__ADS_1


Aku dan Eri saling berpegangan, kami berdua sama-sama takut. Ikan bertaring tajam ini tidak berpindah tempat, seolah-olah dia tahu kamu sedang bersembunyi. Yang lebih aku takutkan adalah Eri, aku tidak tahu sampai kapan dia bertahan. Aku mencoba mengendalikan udara di atas sana namun nihil, udara hanya bisa masuk dalam satu meter. Sedangkan kamu berada di 3 meter kedalaman air.


Aku melihat wajah Eri, wajahnya mulai memerah, genggaman tangannya pun mulai mengeras. Aku tidak tahu harus apa, aku sangat panik dan ikan itu belum juga pergi. Ken dan Jian juga tidak terlihat, sedangkan kekuatan kami tidak bisa di gunakan di dalam air.


__ADS_2