GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
IBU AYAN IAN


__ADS_3

“Bagaimana, apakah ini cocok denganku?” Tanyaku seraya melihat diriku yang sedang mengenakan Gaun berwarna putih dan biru-biru langit. Gaun yang di pakai oleh seorang Putri, gaun yang sangat indah begitu pula wajahku. Wajahku terlihat sangat berseri-seri di dalam cermin, senyum manis terus mengembang di wajahku.


Seseorang di sampingku mengaguk, dia meneliti pakaian yang aku kenakan dari atas sampai bawah “Ada yang kurang, sebentar.” Eri mengenakan jas berwarna hitam senada dengan celana dan dasinya, lumayan rapi untuk si Bangor yang suka membuat onar. Tak lama Eri masuk kembali membawa sesuatu di belakang tubuhnya, dia mengarahkan sesuatu pada kepalaku “Perfek.”


Aku tersenyum lebar, mahkota ini sangat cantik dan cocok aku pakai. Sempurna, kata yang dapat di sandingkan pada diriku sekarang. Aku memeluk Eri sebentar “Terima kasih.”


Eri mengaguk lucu, kita tertawa bersama-sama. Sampai suara khas dari panglimaku dari negeri Capricorn menghentikan tawa kami, dengan wajah cemberut, bibirnya maju ke depan “Jangan lupakan aku.”


“Ian!” Kami berpelukan sebentar, dia mengenakan pakaian yang sama dengan Eri. Kami bercanda tawa seperti seorang sahabat pada umumnya, aku sangat senang melihat mereka dengan penuh rasa bahagia. Tawa dan canda kami memenuhi ruangan ini, aku bisa merasakan ini adalah hari yang paling bahagia yang pernah aku rasakan.


“Tina!!” Suara mereka berdua berubah, seperti suara kesakitan. Aku melihat Eri yang terdapat luka di perutnya begitu pula dengan Ian, mereka berdua jatuh dalam pelukanku. Aku menaruh kedua kepala mereka dalam pangkuanku, aku terus menepuk pipi mereka yang sudah tak sadarkan diri.


Aku tidak tahu luka itu berasal dari mana, darah mereka keluar begitu deras. Aku menangis sejadi-jadinya, gaun putih yang aku kenakan kini berubah menjadi berwarna merah darah. Aku melihat sekeliling, terdapat bayangan hitam dengan senapan di tangannya, lalu dia menghilangkan begitu saja.

__ADS_1


Aku melihat wajah pias kedua sahabatku, baru saja kamu tertawa dan bercanda bersama, menikmati hari yang penuh bahagia ini. Namun cepat di gantikan oleh kematian dua sahabatku, aku menangis tersedu-sedu. Menelangkup kedua pipi sahabatku “IANN!!! ERIII!!.”


“ERI.” Teriakku kala sadar tadi hanya sebuah mimpi buruk, bukan, mimpi yang amat sangat buruk. Tubuhku penuh dengan peluh keringat, nafasku tersengal-sengal, dan rasa sesak yang aku rasakan tadi, masih sangat terasa. Aku kembali menangis, mengingat terakhir kali aku kehilangan Eri.


Aku melihat ke sekeliling, ruangan berkayu dengan barang-barang yang minim. Aku turun dari kasurku, aku mendengar suara-suara air yang sedang bertabrakan. Aku membuka jendela di kamar ini, mataku melebar kala melihat pantai cantik di depan sana. Rumah yang aku tempati ada rumah panggung, aku tidak tahu sebesar apa tapi ini sangat indah.


“Eri!!, Eri!!, ERIII.” Aku keluar dari kamar ini, dengan jalan tertatih-tatih, aku menahan rasa lemas di seluruh tubuhku. Di pikiranku saat ini hannyalah Eri, di mana Eri, aku harus melihatnya. Karena kakiku terlalu lemas, aku jatuh terduduk, aku menangis mengingat Eri telah tiada. “Eriiii, Maafkan akuu. Maaf.”


“Berisik!!” Suara itu, itu suara Eri, benar, itu suara Eri. Aku menghapus air mataku, melihat sekeliling. Dan mataku membinar kala menemukan sesosok yang aku cari sedari tadi. Eri keluar dari kamar di depanku, perutnya terbalut oleh perban. Aku berdiri dan menghampirinya, aku memeluknya seerat-eratnya “Kamu kenapa sihh?.”


Aku menggeleng, aku memeriksa kembali seluruh tubuhnya. Dia bernafas dengan normal, suhu tubuhnya pun masih terbilang panas, dan juga detak jantungnya berdegup normal. Aku kembali “Kamu bikin khawatir orang tahu gak, pake acara gak sadar segala.”


“Tina, ini tuh masih pagi, jangan berisik, ganggu orang tidur aja.” Eri mendorong tubuhku dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Aku berdiri menganga, bisa-bisanya dia seperti itu, padahal aku seperti orang gila yang menangisnya. Sedangkan dia dengan santai menutup pintunya kala aku menangis, Eri benar-benar “ERIIII.” Aku mengedor-gedor pintu kamarnya, beraninya dia menutup pintu di depan wajahku “ERII keluar, liat aja nanti,biar aku cincang-cincang kamu.”


“Nak.” Panggil suara perempuan, dia mengenakan baju yang sederhana. Wajah yang tidak lagi muda, senyum yang menimbulkan kerutan di wajahnya membuat dirinya cantik. Aku ingat siapa dia, dia adalah wanita yang sangat berharga bagi Ian. Dia adalah Ibu dari Ian. Dia menghampiriku, dan merangkul lenganku “Kamu sudah bangun nak, ayo kembali ke kamar, kamu butuh istirahat.”


Dia menuntunku dengan lembut, dia sangat baik. Dia memberikan aku minum dan memberikanku sarapan sebuah roti. Pantas saja Ian sangat baik, dia memiliki ibu yang hebat seperti ini. Ian pasti sangat menyayangi ibunya, walaupun terkadang dia jahil sedikit padaku, namun dia anak yang baik dan suka memperhatikan orang-orang di sekitarnya.


Ibu Ian menemaniku, dia menceritakan banyak hal tentang Ian. Ibu Ian bilang, Ian dan ayahnya sedang pergi bernelayan tadi malam, dan mungkin pulangnya sedikit lagi. Ibu Ian bercerita kala Ian masih kecil, dia anak yang periang dan banyak tanya, Ian juga anak yang pintar dan kuat. Melihat Ibu Ian bercerita, aku bisa merasakan kerinduan pada anaknya, Ibu Ian orang yang hangat, di beberapa cerita dia mampu membuatku tertawa.


“Selama kamu dan Eri tidak sadarkan diri, Ian selalu bulak-balik menanyakan kondisi kalian padaku. Ian anak yang kuat, pintar, selalu memastikan orang di sekelilingnya baik-baik saja. Ian sampai lupa kalau dirinya tidak baik-baik saja, dia anak yang rapuh namun selalu menutupinya dengan senyuman.” Ibu Ian menitikkan air mata, aku di sampingnya hanya mampu memeluknya dari samping. “Anak itu, dia memilih mengorbankan dirinya hanya untuk orang lain.”


Aku mempererat pelukanku padanya, Ibu Ian terisak kencang. Rasa rindu seorang ibu yang telah meninggalkan anak kecilnya bertahun-tahun dan sekarang anak itu sudah menjadi Pria yang baik dan kuat. Seorang Ibu yang telah melewatkan tumbuh kembang anaknya dan sekarang dia bangga melihat anaknya menjadi seorang yang baik, dan memperjuangkan hak-hak rakyat.


Hampir satu jam kami bercerita dan menangis, si cengeng ini pun tidak bisa tidak menitikkan air mata. Aku menangis kala Ibu Ian menangis, anggap saja aku cengeng, tapi memang aku anak yang cengeng.

__ADS_1


__ADS_2