
“Ndut, apa kamu lapar?” Aku menowel-nowel ikan di dalam toples, Ndut hari ini tidak banyak gerak, mungkin dia sedang beradaptasi dengan rumah barunya. Ndut sangat lucu, di sampingnya juga ada Ikan Eri yaitu Ire. Ire sangat gesit bergerak dan makannya juga banyak, berbeda dengan Ndut yang makannya sedikit.
Pagi yang dingin ini kami berada di rumah, sebab hujan deras mengguyur wilayah ini, mungkin nanti sore atau siang ketika tidak lagi hujan kami akan berlatih. Di ruangan persegi dengan sofa panjang, kami berempat duduk bersama. Kami sedang membicarakan tentang kelebihan, kelemahan dan apa pun yang harus kami ketahui tentang orang-orang yang akan menjadi lama kami di Ring Kekuatan.
“Ikan itu tidak bicara walau kamu mengajanya bicara sepuluh ribu kali.” Seru Eri yang iri dengan kedekatan aku dan Ndut. Eri memang tidak suka melihatku senang, dan dia selalu saja merusak kesenanganku.
“Yang ada ikan itu mati melihat mukamu setiap hari.” Ujar Ken di samping Eri, mereka berdua tos. Mereka sudah menjadi musuhku, sekarang Ken sudah sama persis seperti Eri yang suka menjahiliku. Terkadang juga mereka merencanakan sesuatu untukku, sehingga aku kesal setengah mana. Dan juga, Jian tidak pernah membantuku, jika saja ada Ian, mungkin dia akan menjadi temanku.
Aku menatap malas mereka, bertengkar dengan mereka tidak akan ada habisnya. Pernah saat aku terlambat bangun untuk berlatih, mereka berdua mengerjaiku. Saat aku ingin keluar pintu rumah ini, tepat pintu terbuka, tubuhku semua menjadi putih karena tepung yang mereka taruh di atas pintu. Alhasil aku mandi dan berganti baju lagi. Belum lagi saat aku bangun dari tidurku, aku sudah tidak ada lagi di kamarku, mereka memindahkanku ke depan pantai. Dan setelah itu, aku demam dua hari.
Kejahilan mereka benar-benar membuatku repot. Eri mungkin benar, menjahiliku adalah bagian dari empat sehat lima sempurnanya. Jadi, jika mereka tidak menjahiliku, maka mereka akan sakit.
“kurang dari dua Minggu lagi kita bertarung, aku dengar petarung dari sektor 1 sudah di siapkan.” Aku menoleh pada Ken yang mulai berbicara serius, wajahnya berubah 180 derajat. Tangannya mengepal kuat di antara kedua kakinya, urat-urat di wajahnya mulai menimbul “Dan nama kita sudah menyebar di seluruh negeri.”
__ADS_1
“Siapa saja yang bertarung di sana?” Wajah Eri tak kalah serius, dia selalu penasaran dan semangat untuk apa pun. Sedangkan aku, aku selalu gelisah saat membicarakan ini. Ingin sekali aku pergi saat mereka mulai membicarakan pertarungan di sektor 1.
“Tentu saja Kil, penghianat negeri ini. Jendral bintang 3, 4 dan 5. Dan yang terakhir adalah Rik, orang suruhan dari Planet Leo untuk menjemputmu.” Jawab Ken dengan sorotan mata yang menusuk, dari mata dia mengeluarkan api kemarahan dan kebencian. Begitu pula dengan Jian, auranya sangat mematikan. Dua kakak beradik ini sangat membenci Kil yang telah membunuh orang tuanya dan juga menghancurkan negeri ini.
Seketika ruang persegi ini menjadi ruangan yang penuh kemarahan, ketegangan dan kebencian. Hujan deras dan hawa yang dingin ini tidak mampu menembus tubuh kami yang panas akan kemarahan dan ruang yang menjadi saksi bisu usaha kami untuk memperjuangkan negeri ini seperti sebelumnya.
Aku kembali menatap Ndut yang sedang berenang santai, aku sedikit merasa kasihan dan bersalah pada ikan di depanku. Dia terkurung di toples kecil, tidak ada terumbu karang dan teman-temannya. Padahal sebelumnya dua berenang bebas di laut yang sangat indah, berenang bebas tanpa hambatan. Sama seperti sektor ini, berarti aku sama saja seperti Kil.
Rasa sedih menyeruak masuk dalam tubuhku, ikan ini sama seperti Sina dan masyarakat lainnya. Aku membatasinya berenang bebas dan memenjarakannya. Aku mengetuk toples milik Eri, Ire berenang gesit namun sayang tempat tinggal barunya terlalu sempit. Aku berjanji pada diriku, setelah hujan nanti aku akan melepaskan mereka berdua dan ikan yang lainnya.
“Kita akan ke sektor 1 saat satu Minggu sebelum pertarungan, di sektor satu aku memiliki teman, kita bisa bersama sementara sambil melihat situasi.” Kali ini Jian yang bersuara, pembicaraan serius ini terus berlanjut, di temani rintikan hujan yang cukup deras. “Kalian tidak perlu khawatir tentang apa pun, fokuslah berlatih dan tingkatkan kemampuan kalian.”
Kami semua mengaguk. Lalu Ken menatapku dengan tatapan serius “Aku tidak menyalahkanmu untuk apa yang terjadi di negeriku ini karena ulah penghianat di Planet-Mu, tapi aku dan yang lainnya meminta tolong untuk kamu membantu kami. Aku juga minta maaf karena telah membawa kalian tanpa penjelasan, tapi negeri benar-benar kacau saat ini.”
__ADS_1
“Ken.” Potongku, dan dia diam langsung diam. tidak seharusnya Ken minta maaf, akulah yang seharusnya minta maaf padanya. Aku merasa bersalah karena penghianat di negeriku membuat Planet lain ikut hancur. “Aku yang seharusnya minta maaf, aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya hingga membuat banyak orang menderita dan menjadi korban.”
“Tinn.” Eri berusaha memotong pembicaraanku, dia hanya tidak mau aku terus menyalahkan diriku perihal penghianat ini. Tapi siapa lagi yang mau di salahkan perihal ini, hanya aku, Putri dari Planet Leo. Hanya aku yang dapat di salahkan ataa semua ini, pemimpin yang tidak becus menjaga Planet-Nya hingga Planet lain yang menjadi korbannya.
“Sungguh ini sebuah kehormatan bagiku untuk menebus kesalahan dari Planet-Ku, aku harap usahaku membantu kalian membuahkan hasil” Lanjutku sembari memegang lutut Eri agar dia diam dan percayakan semua padaku. “Semoga Planet ini bisa kembali seperti dulu.”
“Iya, terima kasih.” Ken tersenyum manis, bukan hanya dia tapi kita semua.
Hujan di luar sudah mulai mereda, kami memutuskan untuk ke tempat latihan. Aku berjanji pada diriku untuk berusaha semaksimal mungkin dan lakukan yang terbaik untuk semua orang. Aku keluar paling terakhir sebab aku memiliki misi dan janji.
Tetesan-tetesan air mengalir dari genting, ujung daun dan pasir yang basah. Udara sangat segar yang di dampingi udara yang dingin, apalagi angin dari laut. Aku berjalan santai menuju pantai dengan dua beberapa toples di tanganku. Inilah janjiku, melepaskan ikan-ikan mengemaskan ini kembali ke rumahnya yang seharusnya.
Air pantai mulai membasahi kakiku, aku tidak peduli dengan reaksi Eri saat tidak melihat lagi ikannya. Lagi pula, dia dan Ken terus menggangguku, anggap saja ini adalah balasannya. Air pantai sangat dingin, tidak bosan aku melihat keindahan alam di sini. Sudah cukup jauh aku berjalan dalam ini, ini sudah sebatas lututku. “Sepertinya ini sudah cukup dalam.”
__ADS_1
Aku mulai menuangkan isi toples ke dalam air “Dah Ire, dah Ndut, dan Gape, dan Jono, dan bye Nursinah.” Aku menowel-nowel ikan-ikan ini sebelum aku lepas, sebenarnya sangat sayang jika melepaskan mereka, namun ini lah jalan terbaiknya. “Terima kasih pernah ada di dalam hidupku, semoga kalian hidup bahagia.”
Aku melambai tangan pada ikan-ikan yang mulai berenang jauh, akhirnya misi kehewanan sudah terpenuhi. Aku kembali ke dalam rumah menaruh toples-toples ini di tempat sebelumnya. Aku tidak sabar dengan wajah Eri saat melihat Ire tidak lagi di tempatnya. Dan sekarang, waktunya untuk berlatih. SEMANGATT!.