GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
MENELAYAN


__ADS_3

“Baiklah kek, aku akan ikut Riz.”


“Aku memang ingin mencari kerang, tapi kalau ikan bercahaya itu mustahil, ikan itu sangat berbahaya dan mengambil-“ Ucap Riz terpotong kala Kakek menyikut dengannya, mendengar itu membuat perasaanku tidak enak. Apakah Kakek ingin membunuhku di laut sana, dia tampak tidak suka sekali denganku. Riz mengaguk “Baiklah, ayo, ibuku pasti sudah menunggu. Dan untukmu yah, jangan terlalu pedas dalam bicara, aku khawatir ibu kehabisan cabai nanti..”


“Tidak sopan kamu berbicara seperti itu pada Ayahmu.” Ucap Kakek seraya berjalan meninggalkan kami, Riz berlari kecil menghampiri ayahnya dan merangkulnya.


“Jangan sering marah-marah ayah, nanti cepat tua.” Mereka menghilang di balik pintu dan aku mengekori mereka. Melihat kedekatan mereka membuatku sangat iri, dari kecil aku tidak pernah melihat ayah dan aku tidak tahu rasanya sosok ayah dalam hidupku. Pasti aku akan menjadi putri kecilnya, di sayangi dengan penuh kasih sayang.


Katanya ayah adalah cinta pertama anak perempuan, jadi bagaimana denganku. Apa aku bisa menjadikan ayahku cinta pertamaku walau aku belum pernah melihat sosoknya dan mendapatkan cintanya. Rasanya hati ini sangat sesak, hatiku sangat terluka memikirkan itu. Tapi, pasti ayahku adalah seorang Raja yang hebat, dia mengorbankan dirinya untuk menghadapi para penghianat dan dia gugur menjadi pahlawan di semua hati rakyatnya.


Dan aku akan berusaha lebih baik, lebih hebat dan lebih kuat dari ayahku, agar aku bisa melawan para penghianat di Galaksi Zodiak ini. Aku yakin aku bisa, walaupun banyak orang bilang ini bukan salahku, tapi aku ikut bertanggung jawab atas ini semua. Aku akan mengelilingi semua Planet, berlayar banyak hal dan ketika aku sudah sangat kuat, aku akan pergi ke Planet Leo untuk mengusir dan menghabisi para penghianat di sana.


Tidak terasa kami sudah sampai di kediaman keluarga Riz, aku tidak terlalu memperhatikan jalan sebab pikiranku yang entah ke mana sehingga aku tidak fokus. Rumah sederhana, sama persis seperti rumah Ian. Dari dalam rumah sana, keluarlah seorang Nenek dari balik pintu. Ia tersenyum kala melihat kami datang.


“Bu, apakah semua sudah siap?” Riz menghampiri Ibunya, dia memeluk ibunya sebentar dan Kakek di langsung masuk ke dalam rumah.


Nenek itu tersenyum kala melihatku, aku membalasnya dengan senyuman terbaikku. Melihat ibunya melihatku dengan penuh tanda tanya, Riz berbisik pada ibunya namun aku tidak tahu apa dia bisikkan. Setelah itu nenek melihatku tersenyum, dia mengaguk “Aku kira dia adalah calonmu.”

__ADS_1


“Ibu!” Suara tekanan dari Riz, aku hanya bisa tersenyum kikuk.


“Ibu bercanda, ya sudah sana, jangan pulang terlalu fajar, kasihan gadis itu.” Nenek menyenggol lengan Riz, dia tersenyum gurau pada anaknya. Pemandangan yang sangat di inginkan semua orang, kebahagiaan seorang anak bisa tertawa, bercanda gurau dengan Ibunya. Nenek itu mendorong bahu anaknya “Jaga gadis itu, ayahmu memang sangat pelit.”


“Baik Bu, sampai jumpa.” Riz mencium pipi ibunya dan melambaikan tangannya dan ibunya hanya mencubit perut anaknya. Riz berjalan ke arahku dengan senyum tidak pernah lepas dari wajahnya “Ayo, mungkin kita akan pulang fajar nanti.”


Apa katanya, fajar?. Pekerjaan apa lagi ini. Aku sudah menghabiskan waktu setengah hari untuk membersihkan toko ayahnya dan sekarang mencari kerang dan ikan bercahaya memakan waktu sampai setengah hari pula. Kapan aku bisa tidur dan istirahat.


Kami berdua berjalan ke arah kapal yang tertenggek di dermaga, terlihat juga beberapa laki-laki seusia dan setinggi Riz sedang menyiapkan jaring-jaring dan tombak tembak. Kapal ini cukup besar, wajar saja sebab kita akan pergi ke tengah laut.


“Temanku.” Jawab singkat Riz, dia mengajakku menaiki kapal itu. Di ikuti oleh pria tadi, dia melirikku tidak suka. “Tenang saja dia tidak jahat, dia memang seperti itu, jangan terlalu di pikirkan.”


“Baiklah, urus dia dengan baik, aku tidak mau mendengar menangis minta pulang.” Pria itu menyenggolkan lengannya pada bahuku, dia seperti ingin ajak bertengkar. Jika dia mau, akan aku ladeni, hitung-hitung untuk latihan aku sore ini. “Apa lihat-lihat, ingin bertengkar denganku?.”


Uwah, orang ini sama menyebalkannya dengan kakek tadi. Kalau aku mau, aku bisa saja menunjukkan kekuatanku padanya. Agar dia paham kalau fisik tidak menentukan kekuatan seseorang dan tampilan bukan penentu orang itu lemah atau kuat. “Tidak, aku takut kamu kalah.”


“Susah cukup” Riz menghentikan langkahku untuk menghampiri pria sombong itu, untung saja di hentikan, jika tidak, akan aku cincang dia lalu aku tongseng. Riz menaiki tangga menuju kemudi kapal “Gap ayo kita berangkat.”

__ADS_1


Kapal ini berlayar dengan lancar tanpa hambatan, semua orang di kapal ini berjumlah 7 termasuk aku. Ya, bisa di bilang aku yang paling kecil. Memandang tenggelamnya dua matahari secara dekat, kalau kemarin aku melihat di pesisir pantai, namun sekarang aku melihat dari lautnya sendiri. Satu kata untuk ini adalah menakjubkan, namun segera di rusak oleh Gap, pria menyebalkan tadi.


“Hei kamu, bantu angkat ini ke sana.” Ucap Gap sembari menunjuk kotak-kotak di geladak kapal. Aku menatapnya dengan malas, tapi aku mendekati kotak-kotak itu untuk membantunya. Mungkin saja jika aku membantunya, dia tidak terlalu sinis padaku. Toh juga aku tidak ada kegiatan, kecuali melihat pemandangan menakjubkan.


Berjalan menghampiri kotak-kotak itu, namun aku mendengar Riz bergumam “Hari ini angin tidak terlalu kencang.”


Aku memikirkan ide bagus, di bandingkan membantu Gap, lebih baik membantu Riz. “Riz aku akan membantumu, dari pada aku membantunya.” Aku langsung menaiki tangga dan berdiri di samping Riz, sempat aku melihat wajah Gap yang meremehkan dan tidak suka.


“Membantu apa?” Riz menatapku dengan bingung, wajar saja, di hanya tahu aku anak kecil yang di suruh Ayahnya membantunya mencari kerang.


Tanpa menjawab pertanyaannya, aku menyiapkan kuda-kudaku dan tenang, aku akan mengendalikan udara ke layar kapal. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas pelan-pelan. Aku bisa melihat dari sudut mataku, kalau Riz melihatku dengan kebingungan. Lucu sekali wajahnya.


WUSSS


Aku dan yang lainnya terjungkal ke belakang, kotak-kotak gap yang dia taruh ke depan geladak, kembali ke posisi semula. Aku berpikir ini adalah kapal cukup besar, jadi mungkin membutuhkan angin yang lebih besar. Tapi sepertinya aku terlalu kuat mengirim udara ke layar kapal hingga semua terjungkal ke belakang.


“Wahh, kamu mengeluarkan angin?, Hebat sekali, Ouh iya aku lupa, Ken dan Jian juga memiliki kekuatan namun berbeda.” Ucap Riz sembari berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun. Wajahnya sangat semringah, dia menatapku tidak percaya. Melihatnya seperti ini membuatku senang dan juga bangga, namun ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah serius “Berarti kamu termasuk salah satu lima orang yang bertarung di Ring Kekuatan?.”

__ADS_1


__ADS_2