
Eri menghampiriku, dia menarik lenganku hingga aku berada di sampingnya. Dan betapa terkejutnya aku melihat ikan besar di belakangku tadi, ikan bersisik silver, bermulut besar dan siripnya berwarna kuning keemasan. Ikan besar itu melewati kami dengan tenang, sempat matanya melirikku. Jadi ini yang di isyaratkan Eri, dia menyuruhku menyingkirkan sebab aku menghalau jalan ikan besar tadi. Kenapa dia tidak bicara, lagi pun isyaratnya tidak jelas hingga aku tidak dapat mengartikannya.
Lalu tak lama kura-kura sebesar kami berenang melewati kami, dengan anak-anaknya di atas cangkat mereka. Warna hijau lumut, kuat dan kokoh cangkang dari si kura-kura tersebut, dan anak-anak kecil mereka yang sangat lucu. Ingin sekali aku mengambilnya, namun aku takut tidak bisa mengurusnya dengan baik, apa lagi jika kura-kura itu membesar, mau di taruh ke mana, rumahku sangat kecil.
Eri kembali ke permukaan untuk mengambil nafas baru lagi, aku kembali ke terumbu karang yang lain dan lebih dalam. Senang sekali bisa bernafas dalam air, sehingga aku tidak perlu mengambil nafas seperti dan Jian. Aku juga baru tahu ternyata pengendali Air bisa bernafas dalam Air.
Tidak terasa kami sudah lama di dalam air laut, tanganku sudah mulai mengeriput dan kakiku juga sudah pegal karena harus mengayunkan kaki di dalam air. Aku sudah sangat puas mengelilingi seisi laut di sekitarku, tidak jauh dan tidak dalam , tapi ini sudah lebih dari cukup. Mataku juga sudah di manjakan dengan berbagai keindahan laut, aku dan Eri juga sudah mengambil beberapa ikan untuk kami bawa.
“Hmmm hmmm hmm hmm.” Suara dari Eri lagi, aku mulai malas mendengarnya, tidak bisakah dia melihatku yang sedang senang dan tenang. Kali ini wajah Eri penuh dengan ketakutan dia menghampiriku dan langsung menarik tanganku, dia membawaku bersembunyi di salah satu terumbu karang.
Kedua tangan Eri membawa kedua pipiku dan di arahkannya pada tempat awal sebelum dia menarikku. Awalnya aku tidak melihat apa-apa, namun tak lama ada seekor ikan yang sanga besar melewati di atas kami. Ikan yang sangat besar, dengan gigi taring yang tajam, di sana terlihat ikat kecil menyangkut di giginya.
Aku menutup mulutku, walau aku tidak bisa bersuara, namun tetap saja ini sangat mengejutkan. Jantung berdetak kencang, nafasku menjadi sesak, dan rasa takutku menjalar ke seluruh tubuhku. Ken benar, ada hiu di laut ini. Tapi di mana Ken dan Jian, aku tidak melihatnya dari tadi.
Aku dan Eri saling berpegangan, kami berdua sama-sama takut. Ikan bertaring tajam ini tidak berpindah tempat, seolah-olah dia tahu kamu sedang bersembunyi. Yang lebih aku takutkan adalah Eri, aku tidak tahu sampai kapan dia bertahan. Aku mencoba mengendalikan udara di atas sana namun nihil, udara hanya bisa masuk dalam satu meter. Sedangkan kamu berada di 3 meter kedalaman air.
Aku melihat wajah Eri, wajahnya mulai memerah, genggaman tangannya pun mulai mengeras. Aku tidak tahu harus apa, aku sangat panik dan ikan itu belum juga pergi. Ken dan Jian juga tidak terlihat, sedangkan kekuatan kami tidak bisa di gunakan di dalam air.
__ADS_1
“Hmm.” bisikku sangat pelan pada Eri, aku mengisyaratkan padanya untuk ke atas dan aku akan mengalihkan ikan besar bertaring tajam. Eri menggeleng keras, tapi mau bagaimana lagi, Eri akan kehabisan nafas, aku sangat khawatir. “Hmm.” Aku melepaskan genggamannya dan langsung berenang ke arah lebih jauh dari Eri.
Ikan besar itu melihatku dan langsung mengejarku dengan lihai, walau berusaha keras apa pun aku berenang, jelas ikan itu jauh lebih lihai berenang dan lebih cepat. Bagaimana mana ini, ikan itu semakin cepat. Semakin cepat, semakin dekat. Semakin dekat. Aku ingat!.
Syutt
Waktu terhenti, Ikan besar itu berhenti, ini waktunya melarikan diri. Aku cepat berenang ke arah sebelumnya, berenang menuju kepal. Aku bisa melihat Eri yang sedang berenang ke arahku, aku menepuk dahiku. Kenapa dia begitu payah, seharusnya dia ke kapal lebih dahulu.
“HMMM.” Aku membentaknya, kenapa di harus kembali, seharusnya dia menyelamatkan dirinya. Eri tersenyum tidak bersalah, dan kami berdua berenang ke arah kapal. Waktu sedikit lagi kembali normal, detik-detik yang krusial. “Hmmm.”
Syutt
Mengayunkan kaki dengan cepat, akhirnya kami sampai ke kapal. Aku bisa melihat ikan besar menghampiri kami dengan cepat, aku sudah menyuruh Eri untuk naik lebih dahulu dan aku kebelakangan. Tapi dia tidak mau dia menggeleng keras, namun tidak ada waktu lagi. Mau tidak mau Eri menaikki kapal lebih dahulu, lalu aku.
Ikan besar itu sedikit lagi sampai padaku, sedangkan Eri masih memanjat dinding kapal. Wajahku muncul di permukaan, memuntahkan semua air dan di ganti udara. Sangat sesak, rasanya satu menit aku tidak bisa bernafas. Aku terbatuk-batuk, hidungku mengeluarkan air yang banyak “Uhukk uhukk.”
“Ayio!!” Eri menarik tanganku begitu saja, padahal aku belum siap. Dia menarik dengan sekuat tenaga, ketika aku melihat ke bawah air. Ikan besar itu sudah membuka mulutnya yang lebar dan besar. Sedetik Eri tidak menarikku, mungkin saja tubuhku tidak lagi utuh.
__ADS_1
“Hahh hahhh hah hahh.” Aku mulai bernafas dengan udara, sesak dada dan kepala sedikit pusing kini aku rasakan lagi. Sedangkan Eri, dia jatuh di samping menghadap langit. Melihat wajahnya yang lelah dan nafasnya yang tersengal-sengal.
Kami saling menatap, sedikit demi sedikit kamu tersenyum lalu tertawa kecil hingga tertawa besar. Kamu tertawa beberapa saat, kamu tidak tahu hal ini akan terjadi. Eri duduk dari tidurnya dia meregangkan otot-otot “Kamu sangat berat, rasanya tanganku ingin patah.”
Aku tidak menjawabnya, tubuhku terlalu lemas akibat perpindahan pernafasan ini. Dadaku dan nafasku mulai membaik, tapi masih terasa nyeri di bagian dada. Aku kembali berdiri, menghampiri Eri yang sedang melihat hasil tangkapan kami.
“Ini milikmu.” Eri memberikanku toples dengan sirip ikan berwarna biru dan matanya berwarna merah. “Dan ini miliku.” Eri memeluk toplesnya, dia sangat senang sekali dengan hasil tangkapannya. Ikannya sama denganku, namun berbedanya, ikan itu lebih besar di bandingkan milikku.
Aku tidak ingin bertengkar dengannya hanya perihal ikan, aku juga senang mendapat ikan ini. Seumur-umur aku hidup, aku tidak memiliki hewan peliharaan. Dan kali ini aku mempunyainya, seekor ikan kecil yang cantik dan menggemaskan.
“Aku namakan kamu Ire” Ucap Eri pada ikannya sembari mengunyel-unyel ikan dari balik toples. Aku ingat dengan Ire, Ire adalah nama belakang dari Eri, dan nama itu juga kebalikan nama Eri. Eri melihatku dengan penuh kesombongan “Nama ikanmu itu marsuti aja.”
Aku mencubit perut Eri, dia sangat menyebalkan. Tidak salah dengan nama itu, tapi menurutku itu kurang cocok. Aku memikirkan nama yang bagus untuk ikanku, tapi apa ya. Karena ini perempuan, namanya harus feminim. Marsha, Milan, atau Rachael. Bukan, bukan, itu kurang cocok. Aku tahu karena badan ikan ini sedikit gempal, jadi aku namakan “Ndut.”
“Kamu itu namain atau ngatain ikanmu sih.” Sempat aku ingin tertawa dengan pernyataan Eri, tapi dia salah, nama Ndut itu bagus.
“Nama kamu Ndut.”
__ADS_1