GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
KALUNG?


__ADS_3

KAKEK.” Aku turun melewati tangga kapal, aku melihat kakek sedang berdiri di dermaga kapal. Aku senang melihat Kakek, walau dia sinis dan judes, tapi dia diam-diam perhatian. Aku berlari menghampirinya dengan memajukan bibirku. “Kakek tahu, tubuhku sangat pegal dan demam.”


Matahari belum terbit, kami sudah sampai di dermaga yang sebelumnya kami berangkat. Dan lagi saat aku bangun badanku 3 kali lipatnya pegal sebelum tidur dan demam memasuki tubuhku. Rasanya ingin segera pulang dan tidur kembali, aku benar-benar sangat lelah dan pusing.


“Lemah sekali, baru seperti itu sudah demam.” Lagi-lagi Kakek masih sinis denganku “Kamu membawa ikannya?.”


Aku menggeleng keras “Aku tidak bisa menangkap ikan itu kek, dia memiliki 5 anak yang masih kecil, kasihan jika aku menangkap ibu mereka.” Aku melihat wajah Kakek yang sedikit berubah namun kembali tegas. Lalu aku merogoh sakuku “Tapi Ibu ikan bercahaya itu memberikan aku mutiara ini, ini untuk Kakek.”


Kakek mengambil mutiara dari tanganku, dia melihat dengan teliti. Mungkin kakek takut aku menipunya. Kakek menatapku dengan serius “Aku menyuruh menangkap ikannya bukan mutiara.” Aku langsung menunduk kala mendengar itu, pasti kakek itu akan memberikan 2 kalung bintang laut itu. Tapi perkiraanku salah, Kakek mengeluarkan dua kalung itu “Ini ambillah, setidaknya kamu berhasil bertemu dengan Ikan bercahaya itu.”


Aku menatapnya dengan tidak percaya, Kakek memberikanku dua kalung itu. Aku langsung mengambilnya, senang sekali, akhirnya selama satu hari kemarin aku berjuang untuk dua kalung ini. “Terima kasih kek.” Ucapku seraya membungkuk hormat dan berjalan pulang, namun langkahku terhenti kala aku ingat sesuatu. Dengan hati-hati aku berbicara pada Kakek “Kakek, apakah Kakek bisa membuat sebuah kalung dari mutiara?, Aku memiliki satu kerang dari temanku, bisakah Kakek membuatnya jadi kalung?.”


Kakek tampak berpikir, dia diam beberapa detik “Bawalah ke rumahku.”

__ADS_1


Ingin sekali aku memeluk kakek judes dan sinis ini, tapi aku urungkan. Jangan sampai dia berubah pikiran. Aku membungkuk sekali lagi pada Kakek “Terima kasih kek, aku pulang dulu.”


“Pegalnya.” Otot-ototku rasanya seperti ke tarik semua, kaki dan tanganku terasa sangat pegal, untung saja demamku sudah menurun. Aku turun dari kasurku, aku tidak tahu ini jam berapa. Setelah dari dermaga fajar tadi, aku langsung istirahat tidur. Aku belum bertemu Eri dan Jian, aku bertemu dengan Ken fajar tadi, dia terlihat buru-buru keluar rumah, bahkan kami tidak sempat saling sapa.


Seperti aku sudah tidur panjang, aku melihat matahari mulai turun. Kala aku membuka jendela, dua matahari terlihat sangat teduh, angin hangat masuk dalam bilik kamarku. Seperti yang lain siap-siap ingin berlatih, sebab aku tidak mendengar suara sedikit pun, biasanya Eri lah yang paling berisik.


“Laparnya.” Aku mengusap perutku kala dia berbunyi panjang, sepertinya cacing-cacing di perutku sudah mulai berdemo keras. Aku keluar kamar dan pergi ke dapur, biasanya Ken selalu memorsikan kami makan, tidak kurang dan tidak lebih. “Yes, Ken memang sangat pengertian.” Ucapku saat melihat di meja ada makanan kepiting dengan kuah pedas, sangat menggugah selera.


Aku duduk di kursi meja makan dan makan makanan lezat ini. Ingin sekali aku ke tukang urut, tubuhku benar-benar pegal sekali. Jika boleh, aku ingin sekali tidak berlatih hari ini, tapi Ken, di balik dirinya yang jahil, dia anak yang tegas dan disiplin, kemungkinan susah untuk tidak berlatih.


Selesai makan aku langsung membersihkan diri, dan setelah itu aku akan pergi ke tempat latihan. Memakai kaos berwarna hitam, berlengan pendek dan ada gambar seorang wanita yang tersenyum manis. Di padu dengan celana seperti kulot di Planet Bumi, berwarna senada, serta sendal jepit terbuat dari anyaman.


Aku tidak lupa membawa kerang pemberian Ian dan dua kalung yang aku dapat fajar tadi aku akan ke tempat Kakek memberikan ini dan di jadikan sebuah kalung, lalu ke Eri di tempat latihan nanti dan pulangnya aku akan mampir ke rumah Ian untuk memberikan kalung ini.

__ADS_1


Bau khas pantai, suara-suara ombak yang hilir berganti dan beberapa burung terbang di atas sana. Aku berjalan menuju rumah kakek, di pikir-pikir lagi Kakek tidaklah jahat, dia memang seperti itu tapi dia sangat baik, dia akan membuatkan aku sebuah kalung dari kerang ini.


“Kakek.” Panggilku di depan pintu rumah Riz, tidak ada jawaban ataupun suara dari dalam sana. Ke mana ya mereka, apa mungkin Riz masih tertidur atau Kakek sedang berada di toko. Aku membalikkan badan, aku melihat Nenek sedang tersenyum ke arahku. Aku menghampirinya dalam memberinya salam “Nek, Kakek di mana nek?.”


“Kakek dan Riz sedang di pantai sana, mereka biasa melihat kalian latihan.” Ucap Nenek sembari mengelus rambutku, nenek sangat lembut, aku tidak tahu bagaimana Nenek menghadapi kakek yang sini dan pedas itu. Atau, Kakek yang pedas dan sinis dengan orang lain tapi kalau dengan nenek menjadi pria yang baik dan manja.


Nenek menatapku bingung sebab aku tertawa sendiri, aku pamit pada nenek untuk pergi ke tempat latihan. Tapi jika di pikir-pikir lagi, jika benar Kakek seperti itu, Kakek ada pria idaman para wanita di Indonesia. Dingin, sini dan judes dengan yang lain, tapi ke pasangan sendiri manja seperti anak kecil dan romantis.


Berjalan cukup jauh, jauh dari pemukiman juga sampai aku melihat Kakek dan Riz sedang duduk di kursi kayu menghadap pantai tempat aku dan yang lainnya latihan. Di pantai sana juga aku sudah aku melihat Ken, Jian dan Eri sedang memperagakan latihan-latihan mereka.


Berjalan mengendap-endap mendekati Riz dan Kakek, aku ingin sekali melihat wajah kaget mereka seperti apa. Sedikit lagi, hampir sampai, Dan. “Jangan macam-macam!!” Aku terkejut kala Kakek berucap, aku kira misi ini akan berhasil ternyata gagal. Riz dan Kakek membalikkan badan, Riz tersenyum melihatku, tapi Kakek tidak, dia menatapku dengan sinis.


“Hallo Kek, hallo Riz” Aku melambai pada mereka berdua dan tentu hanya Riz yang membalas lambaianku. Aku tidak ingin berlama-lama dengan mereka, aku menyodorkan kerang pada Kakek “Ini kek kerangnya, tolong buatkan aku kalung yang bagus ya.”

__ADS_1


“Hmm.” Jawaban yang sudah aku duga, Kakek mengambil kerang di tanganku. Lalu dia meneliti dengan saksama, wajahnya berubah-ubah melihat kerang itu. “Sana pergi!.”


__ADS_2