GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
PENOLAKAN


__ADS_3

“Tina.”


“Tin.”


Aku mulai mendengar beberapa suara, jelas sekali itu suara Jian dan Eri. Mataku mulai membuka dan berkedip beberapa kali dan terlihatlah manusia dengan wajah yang khawatir, di sampingku aku bisa melihat Ken yang sedang mengeluh kesakitan. Aku ingat yang terjadi, Si Rambut Putih sedang bertarung pada Ken dan tiba-tiba semuanya hilang.


“Akhirnya sadar juga, kamu bikin aku khawatir tahu gak.” Wajah khawatir dari Eri, dia marah-marah padahal aku baru saja sadar. Tapi apa katanya, dia khawatir. Eri memalingkan wajahnya “Kita khawatir.”


Aku tersenyum geli, aku bangun dari tidurku dan duduk. Aku melihat Ken di sampingku yang masih tidur di atas pasir. Apa yang terjadi sampai kami berdua seperti ini, sungguh aku ingin melihat semuanya tapi tiba-tiba kesadaranku hilang begitu saja.


“Ken baik-baik saja, dia hanya sedikit terluka di tangannya.” Ucap Jian, dia seperti tahu apa yang aku pikirkan. Aku menatap Ken lalu dia tersenyum, Ken pria yang kuat, kelas dia mampu mengatasi Si Rambut Putih ini.


Aku melihat ke arah pantai, dua matahari ingin tenggelam. Aku menikmati senja ini, sungguh indah, aku tidak tahu jika kekacauan ini di sebabkan oleh aku dan Ken. Aku melihat beberapa pohon kelapa tumbang dan pasir yang berlubang besar.


“Baiklah kita pulang sekarang.” Jian menghampiri kakaknya dan membawanya dalam rangkulannya. Ken berjalan tertatih-tatih dan berjalan lebih dahulu


Aku mengulurkan tanganku ke atas pada Eri, dan Eri hanya melihat dan berjalan begitu saja “ERI, bantu aku berdiri.” Dengan berjalan malas Eri menghampiriku dan membantuku berdiri, aku tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Aku ingat sesuatu, aku mengambil satu kalung di sakuku dan memberikannya pada Eri “Ini untukmu, maaf aku telah melepaskan Ire ke laut.”


“Aku tidak suka memakai kalung.” Jawab sinisnya, ternyata Eri masih marah padaku. Sedih sekali kalung pemberianku di tolak mentah-mentah olehnya, padahal aku sangat berjuang mendapatkan itu.

__ADS_1


“Ihh, terima donk, satu hari kemarin aku berusaha buat dapetin ini tahu enggak?” Aku menyodorkan kalung yang di hiasi bintang laut bermutiara.


“Enggak!, Ini juga kalung jelek, buat apa coba.” Ucapnya mengambil kalung dari tanganku dan langsung melemparkannya ke air pantai dan pergi begitu saja.


Jantung terasa terhenti, aku sangat berusaha keras untuk mendapatkan kalung itu. Aku sedih sekali, padahal aku sangat lelah, pegal sampai demam. Tidakkah dia bisa menghargai usahaku, setidaknya dia tidak membuangnya. Aku menatap marah Eri “ERII, kalo gak mau ya gak usah di buang, gak usah ngehina-hina. Kalo gak mau ya udah bilang aja gak mau, aku udah berusaha minta maaf sama kamu, aku berusaha buat dapetin itu biar kamu gak marah lagi. Gak usah sampe buang ke air, aku bisa kasih itu ke yang lain.”


Eri menatapku dengan terkejut, mungkin ini kali pertamanya dia melihatku marah, tapi ini benar-benar kelewatan. Jantung berdetak kencang, nafasku menjadi pendek, suhu badanku meningkat dan mataku membulat marah padanya. Tak terasa air mataku menetes begitu saja tanpa aku suruh, perasaanku sangat sakit “Emang ya, pembuat onar gak tahu ngehargain usaha seseorang. Kamu peduli sama diri kamu doank, emang pembuat onar kayak kamu gak tahu menjaga hati seseorang.”


Eri dengan wajah tidak terimanya melangkah maju ke hadapanku, dia menatap laut dan menatap aku lagi. “Iya pembuat onar kayak gua gak bisa ngehargain orang, lu yang paling bener, gak ada orang yang paling bener selain lu. Siapa juga yang nyuruh lu buat beli kalung jelek itu.”


Lu dan gua, Eri benar-benar marah padaku. Aku menganga tidak percaya apa yang dia ucapkan barusan, kini air mataku benar-benar turun. Wajahnya memerah, urat-urat di dahi dan pelipisnya menimbul keluar “Gitu aja nangis, cengeng banget sih jadi cewe. Lu bilang gua gak ngertiin perasaan lu, lu ngerti gak perasaan gua. Gua ambil ikan-ikan itu dengan susah payah, gua baru belajar menyelam, bulak-balik abis nafas dan lu!, Lu buang ikan gua gitu aja, lo enak bisa nafas dalem air, lu bisa menyelam tanpa takut kehabisan nafas. Lu yang gak bisa ngertiin or-.”


Aku berjalan melewatinya begitu saja menuju rumah sembari menghapus air mata ini, rasanya malas untuk bertemunya lagi, aku tidak mau melihat wajahnya. Aku mendengar Eri berteriak-teriak namaku, mungkin dia tidak sadar apa yang dia katakan tadi, tapi itu sudah membuat hatiku terluka. Aku berlari, rasanya sia-sia aku membersihkan toko berdebu Kakek.


“Tina.” Panggil Ian, dia terlihat sangat khawatir melihatku. Dia sedang bersama jaring-jaringnya, dia menghampiriku dengan wajah cemas. “Kamu kenapa?.”


Aku menggeleng, menghapus air mata dan tersenyum padanya. Aku mengeluarkan kalung satunya lagi dan memberikannya pada Ian, berbicara tersendat-sendat karena tangisku yang menyesakkan ini “Ini untukmu.”


“Wahh indah sekali terima kasih.” Ian menerimanya dengan senang, berbeda dengan Eri. Ian membawaku duduk di depan kursi rumahnya, dia tampak antusias dengan kalung yang aku berikan. Syukurlah, setidaknya Ian bisa menghargai pemberianku. Ian memakainya dan berpose ala-ala model “Bagaimana?.”

__ADS_1


“Sangat tampan.” Aku tersenyum di sela-sela air mataku, tapi memang dia sangat tampan, sangat tampan.


“Ada apa?” Tiba-tiba wajah Ian menjadi serius, ini juga kali pertamanya aku menangis seperti ini. Tidak menyangka yang membuatku menangis seperti ini adalah teman baikku sendiri.


Aku mulai menceritakannya dari awal sampai akhir. Dari aku melepaskan ikan Eri, lalu dia marah, membersihkan toko berdebu dengan pemiliknya yang sinis dan judes dan malamnya mencari kerang bersama Riz. Sampai aku demam dan pegal-pegal di seluruh tubuhku, lalu aku menceritakan tentang pertengkaran baru saja yang aku alami dengan Eri.


Ian mengaguk-angguk mengerti, lalu mengusap rambutku. Dia tersenyum seraya tangannya mengusap-usap bintang laut di kalungnya. “Aku tahu, aku sudah mendengarnya dari Riz. Aku sangat berharap sekali mendapatkan kalung ini dan benar, aku mendapatkan kalung ini. Ini adalah hadiah yang paling spesial di hidupku. Untuk Eri, biarkan dia, besok kita cari bersama-sama kalung itu bagaimana?.”


Aku mengangguk mantap, Ian baik sekali. Beruntung sekali aku memiliki teman seperti dia, tapi sayang dia akan tinggal di sini bersama orang tuanya. Lalu siapa yang akan menjadi penengah antara aku dan Eri jika bertengkar.


“Aku antar kamu pulang.” Ian mengulurkan tangan kanannya, dan aku sambut dengan tangan kiriku dan Ian menyelipkannya di lengannya. Aku rindu sekali dengannya, sudah lama sekali aku tidak berbicara dengannya sedekat ini.


Kala aku berdiri, aku melihat Eri di belakang sana. Aku langsung memalingkan wajahku, entah berapa lama dia di sana, aku tidak peduli dia dengar pembicaraanku atau tidak. Aku dan Ian berjalan sembari bercanda tawa, kami juga menceritakan Gap yang menyebalkan itu. Tidak terasa kami sudah sampai di rumah Ken.


Aku melepas rangkulanku, dan berbalik menghadapnya “Terima kasih, aku udah gak sedih lagi.” Tak lama aku melihat Eri dengan wajah suram dan menunduk, dia mengangkat wajahnya kala melihat aku dan Ian. Aku tidak mau lama-lama dengannya “Ian aku masuk dulu ya, besok jangan lupa untuk membantuku mencarinya.”


Ian memberikan satu jempolnya, kami saling melambai dan aku masuk ke dalam rumah. Aku langsung masuk dalam bilik kamarku sempat aku dengar Eri memanggil namaku, namun tidak aku gubris. Aku merebahkan tubuhku dan menutup bantal di kepalaku agar tidak mendengar ocehan suara Eri. Tapi tetap saja suaranya terdengar dengan jelas, untuk apa pula aku mendengarnya, dia sudah melukaiku.


“Tina, aku minta maaf.”

__ADS_1


__ADS_2