GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
MENEBUS KESALAHAN


__ADS_3

“Kamu jahat!”


“Maaf”


“Maaf-maaf, emang semua bisa balik lagi kayak dulu.”


“Iya aku salah, maaf”


“Terus sekarang gimana?!”


“Ya gimana, udah terlanjur”


“Au ah.” Kesal Eri seraya mengentakkan kakinya berjalan meninggalkan aku, dia kesal perihal ikannya Ire yang aku lepas lima hari yang lalu. Aku sudah meminta maaf dan menjelaskan maksudku, namun dia tetap saja marah-marah padaku. Dia marah seperti anak kecil, selalu saja tidak mau mendengarkan aku.


Ya, aku tahu, aku salah, aku tidak memberi tahu sebelumnya. Melihatnya seperti ini membuatku tertawa sendiri, dia marah tapi tidak benar-benar marah. Kemarin saat dia marah, dia menggembungkan pipinya dan aku tertawa, setelah itu dia semakin marah dan tidak ingin berbicara padaku lagi.


“Dasar kakak kesal yang menyebalkan.” Aku keluar dari rumah langsung di suguhkan pemandangan pantai yang indah, terdapat pulau-pulau kecil yang terpisah. Hari ini jadwal latihan akan di lakukan nanti sore, dan sekarang waktu senggang. Rencanaku hari ini adalah mencari sesuatu untuk menggantikan ikan Eri yang aku lepas.


Berjalan dengan kaki telanjang, menapaki pasir-pasir yang menyelinap di ruas-ruas jariku. Langit yang cerah, sedikit ada awan di atas sana, di dampingi udara sejuk dari laut dan alunan musik alami dari ombak-ombak yang menabrak karang dan pasir.

__ADS_1


Aku tidak tahu harus ke mana untuk mencari ganti ikan Eri yang aku lepas, aku hanya berjalan menjauh dari pantai dan memasuki lebih dalam pemukiman penduduk. Semua rumah di sini hampir sama, tapi terkadang ada beberapa rumah yang berbeda. Kendaraan di sini juga sederhana yaitu sepeda, mungkin akan tidak ada pencemaran udara.


Membungkuk hormat ketika bertemu dengan para penduduk, ada anak-anak sebaya denganku membawa tas di punggungnya, mungkin mereka ingin bersekolah. Ada beberapa Pria dewasa baru saja pulang dari berlayarnya tadi mana dan para ibu-ibu yang sedang mengurus hasil panen mereka.


Lalu aku memasuki jalan besar, di sisi jalan, banyak sekali orang-orang yang sedang berjualan hasil mereka dan beberapa orang yang sedang menghadapi prajurit untuk mendapatkan bagian mereka. Bisa di lihat ini adalah sebuah pasar, sebisa mungkin aku berjalan menjauh dari para prajurit.


Ada beberapa seperti ruko di ujung sana, namun kebanyakan dari ruko itu tutup. Aku berjalan berimpitan dengan banyak orang, sesekali bahuku beradu dengan pejalan arah lain. Mau bagaimana lagi, tubuhku sangat kecil di sini, mungkin sesuaiku tingginya mencapai 180an, tapi tubuhku setinggi 160 kurang.


Berjalan di antara kerumunan orang, sampailah aku di salah satu toko yang terbuka. Kacanya berdebu, bukan hanya kaca, tapi hampir seluruh permukaan toko berdebu dan banyak sarang laba-laba di sudut atap toko. Toko ini seperti sudah lama sekali tidak di urus, namun toko ini masih buka.


Toko ini seperti toko hiasan, terlihat banyak kalung dan gelang yang berjejer di balik jendela. Mungkin saja aku bisa mendapatkan satu untuk Eri sebagai ucapan permintaan maafku padanya, dan semoga saja dia senang dengan apa yang aku berikan.


Srett srett


Pintu terbuka, bukan dengan cara di dorong tapi di geser. Aku menepuk dahiku, aku merasa norak sekali, pasti pemiliknya melihatku tadi, hingga dia memutuskan keluar untuk menyapaku. Pertama kali yang aku lihat setelah pintu ini bergeser sepenuhnya adalah seorang pria tua yang tinggi namun sedikit membungkuk. Wajahnya di penuhi garis-garis kasar, di tangannya terlihat urat-urat yang menonjol. Pasti di masa mudanya dia melakukan pekerjaan berat hingga membentuk urat-urat seperti itu.


Aku tersenyum lebar dan sedikit membungkuk hormat padanya, aku sedikit kikuk. Kakek di depanku menatapku dengan sinis, tidak ada senyum di wajahnya, hanya anggukan untuk membalas hormatku. Dia memandangku dari ujung kepala sampai ujung kaki, mungkin dia berpikir, bocah aneh dari mana yang datang sepagi ini. Aku memandang ke dalam ruangan dari balik pintu, ruangan yang sudah lama sekali tidak di bersihkan.


“Ada perlu apa?” Suara dari Kakek membuat terkejut, suaranya yang berat dan sangat serak serta keras. Terkesan tegas dan berwibawa.

__ADS_1


Aku tersenyum paksa, memperlihatkan gigi-gigiku. Rasanya seperti berhadapan dengan kepala sekolah yang galak, baik namun tegas dan disiplin. “Aku hanya ingin melihat-lihat Kek.” Ucapku dengan penuh kehati-hatian.


Kakek hanya mengaguk dan berjalan mundur mempersiapkan aku masuk. Aku berjalan masuk, tidak lupa aku tersenyum dan mengangguk lagi pada kakek yang tidak berekspresi. Ruangan persegi cukup luas, banyak debu di mana-mana, sangat tidak terurus. Kalung, gelang, cincin, topi dan banyak lagi yang berjejer di setiap rak.


Sebenarnya ini ruangan yang sangat bagus, apalagi aksesorinya yang bagus dan terlihat sangat cantik. Namun karena tertutup boleh debu, maka semua hanya terlihat coklat. Aku memegang dengan telunjukku ke salah satu topi yang tertutup oleh debu di setiap rak dan saat aku lepaskan telunjuk itu dari topi. Ujung jariku terpenuhi oleh debu, sayang sekali, padahal topi itu berwarna biru namun warnanya hilang di tutupi oleh debu yang tebal.


“Toko ini sudah lama tidak dapat pengunjung.” Ucap Kakek seraya mengambil satu topi dan menepuk-nepuknya. Debu itu melayang ke segala arah, Kakek dan aku terbatuk-batuk dan bersin ketika debu itu masuk dalam hidung kami. “Kamu pasti bukan dari Planet ini kan?.”


“Iya kek.” Ucapku lalu kembali bersin. Pantas tidak pernah di bersihkan, mungkin karena penghianat di Planet ini membuat orang-orang di sektor lain tidak bisa bepergian ke sektor lainnya.


Aku beralih melihat kalung-kalung yang tergantung rapi di rak-rak panjang, kalung akan sangat pas untuk ucapan permintaan maaf. Ini juga sangat bagus untuk Eri, menambah kesan onarnya. Aku mengambil satu kalung, bertali hitam dengan bintang laut yang kecil yang di isi mutiara kecil di tengahnya. Ini sangat cocok untuk Eri.


“Dari mana asalnya?” Tanya Kakek sembari mengambil kalung di tanganku, Kakek menyimpan kalung itu di saku bajunya. Belum sempat aku menjawab, Kakek bertanya lagi padaku, dia seperti waswas dengan keberadaanku “Badanmu sangat kecil, tidak mungkin berasal dari Planet ini. Di mana kamu tinggal?, Untuk apa kamu ke Planet ini?, Apa kamu teman si penghianat Kil?.”


Belum aku menjawab pertanyaan yang banyak, lagi-lagi Kakek memberikan aku pertanyaan lain “Kamu sekutu dengan Kil?, Tinggal di mana kamu sekarang?, Apa Kil yang membawaku ke sektor ini?.” Wajah Kakek berubah menjadi sangat garang, di balik keriputnya, matanya membuat dan wajahnya mulai memerah.


“Bukan kek, bukan.” Aku melambai salah pada Kakek untuk menghentikan pertanyaannya, dari pertanyaannya, aku tahu dia sangat membenci Kil. Aku tersenyum paksa “Aku di sini tinggal bersama Jian dan Ken, aku di bawa oleh Ian kek, aku di sini tidak berniat jahat kok kek, aku hanya ingin membantu Jian dan Ken saja.”


Mata Kakek itu menyipit, dia menganalisis wajahku. Apa aku berbohong atau tidak, sampai akhirnya kakek itu memunculkan ekspresi sebelum yang datang “Lalu untuk apa kamu datang ke tokoku?”

__ADS_1


__ADS_2