GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
SIUMAN


__ADS_3

Mataku mengerjap-ngerjap beberapa kali, tempat yang sangat asing bagiku. Hawa yang panas dan pengap. Ruangan persegi dengan kasur tipis dan selimut yang menutupi tubuhku. Ruangan yang di terangi oleh lampu bohlam yang kecil, dengan kipas sebagai pendingin udara.


Aku mendudukkan tubuhku, aku mendengar suara banyak orang yang sedang berbicara di luar sana. Aku mengelap keringat di dahi dan leher dengan tanganku. Aku mengangguk-angguk mengerti sekarang, jadi seperti ini rasanya memiliki dua matahari. Lebih panas di bandingkan bumi.


Aku terkejut, aku baru menyadari apa yang sekarang terjadi. Kemarin tubuh ini menghabisi banyak prajurit, lalu bagaimana dengan para penduduk, Eri dan Ian. Aku mencoba berdiri namun langsung jatuh ke tempat semula, kakiku terasa sangat lemas dan kepalaku sangat pusing. Aku merasa haus, bibir dan tenggorokanku sangat kering, namun di sekitarku tidak ada air minum.


Apa yang terjadi pada prajurit itu kemarin, aku rasa tidak ada yang selamat dari mereka semua. Lalu bagaimana dengan para penduduk, pemerintah sektor 1 tidak mungkin diam begitu saja para prajuritnya tiada. Dia pasti mengancam, atau membunuh para penduduk di sana. Bagaimana ini, aku tidak bisa apa-apa sekarang, bahkan mengeluarkan suara saja sangat sulit.


“Eriii.” Suara serak dari mulutku, aku harus meminum sesuatu. Hanya satu hari saja aku pingsan, sudah seperti ini. Aku melihat bayangan berjalan dari balik pintu dari celah pintu di bawah, seperti banyak orang di luar sana. Atau mungkin aku yang sedang di kurung di sini sebab menghabisi banyak prajurit.


“Masakan sudah matang?” Suara keras dari seorang wanita di balik pintu sana.


“Sudah.” Teriak seorang laki-laki membalasnya.


“Berapa lama lagi kita harus menderita.” Rintih seseorang yang berjalan ke arah kanan, dia menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


“Stttt, tenanglah, ini akan cepat berakhir. Putri dari Kerajaan Leo itu telah datang, tapi entah berapa lagi dia akan sadar” Suara seorang laki-laki yang menenangkannya.


Percakapan mereka membuatku ingat mimpi kemarin, mimpi bertemu dengan Ibu yang melahirkan aku dan Ibu yang merawatku. Rasanya terlalu nyata hanya untuk sekedar mimpi, rasa ketakutan, ketegangan dan kecemasan mereka bisa aku rasakan. Entah sang Ratu itu Ibuku atau bukan, tapi sepertinya iya. Orang-orang selalu mengatakan aku seorang putri.


“Iannn...Eri..” Panggilanku untuk yang ke sekian kalinya. Masih tidak ada jjawaban, entah suaraku yang kuras kencang atau di sana memang tidak ada yang ingin membantuku.


Aku mencoba berdiri namun kaki-kakiku belum berfungsi normal. Perutku sudah mulai mengeluarkan suara, aku merasakan sangat lapar. Ruangan ini pun tidak bisa di andalkan, tidak bagus, pengap dan panas. Aku mencoba berdiri lagi, berpegangan pada kayu di dinding, awalnya memang sulit berjalan namun kakiku sudah mulai kuat walau hanya sedikit.


Berjalan tertatih-tatih menuju pintu, rasa sakit dari kakiku mulai menjalar ke tubuh dan tanganku. Sedikit lagi aku menyampai pintu, namun pintu itu terbuka oleh seseorang. Berbadan tinggi nyaris 200 Senti meter, berbadan tegap, wajah tampan, kulit putih, dan mata berwarna hitam legam.


Sempat kita berdua saling bertatapan tanpa respons, sampai aku lupa berkedip sebab dia sangat tampan. Aku berkedip berkali-kali, menyadarkan pikiranku yang melayang jauh. Pria itu juga sama halnya denganku, lalu dia menghampiriku.


Saat dia keluar dari kamarku, aku tersenyum malu “Wahh.. Aku seperti melihat oppa-oppa Korea.” Aku tertawa geli, memukul-mukul bantal melampiaskan rasa senangku. Namun detik itu juga aku menggeleng dan menyadarkan kembali pikiranku “Sadar Tina, sadar.”


Menunggu 2 menit akhirnya orang yang aku tunggu-tunggu datang, Eri tampak berlari melewati pintu menghampiriku, begitu pula dengan Ian. Wajah mereka sangat senang, Eri yang sudah di hadapanku memeriksa jidatku dengan tangannya “Syukurlah kamu sudah sadar.”

__ADS_1


“Syukurlah.” Ian yang duduk di sampingku mengucapkan syukur, aku seperti orang yang sudah lama saja tidak bangun hingga mereka senang begitu. Ian memberikan aku minum “Kamu tidak sadarkan diri selama satu Minggu, kami semua khawatir padamu.”


“Uhukk uhukk.” Perkataan Ian membuatku tersedak, aku terbatuk-batuk dengan air yang aku minum sendiri. “Satu Minggu?.”


Ian mengaguk, sedangkan Eri menoyor kepalaku “Aku kira saat kamu sadar aja menyebelinnya, tapi pas tidur lebih menyebalin. Bikin orang khawatir saja.”


Aku memukul bahu Eri dan Ian, tidak sakit hanya untuk menggoda mereka “Ululu, kedua panglimaku sedang mengkhawatirkan aku rupanya.” Aku tersenyum malu-malu kucing yang di buat-buat, pantas saja mereka khawatir karena aku tidak sadar diri selama seminggu. “Tapi kenapa aku bisa gak sadar selama itu?.”


“Mana aku tahu, 2 hari kamu gak sadar diri, kamu sering kejang-kejang. Hari ketiga sampe hari kelima kamu panas tinggi, hari ke enam tujuh, kamu udah membaik.” Aku mengaguk paham, kalau di lihat-lihat Eri terlihat kotor, wajah dan celananya banyak tanah, sedangkan Ian tidak. Eri yang menyadari aku menatapnya secara keseluruhan “Aku habis bermain dengan anak-anak sini.”


Aku mengangguk mengiyakannya. Tak lama pria tampan yang aku lihat sebelumnya datang bersama seorang kakek-kakek yang dia tuntun mengarahkanku. Kakek itu tersenyum, lalu duduk di depanku setelah Eri pindah di sebelahku. Dia mengelus tanganku dan memeriksa keadaanku lewat denyut nadi di pergelangan tanganku.


“Memang sulit sekali mengendalikannya, tapi kamu anak yang hebat nak, kamu bisa menghadapinya dengan cepat” Suara kakek itu terdengar sangat serak, dia mungkin kesulitan berbicara karena usianya.


“Cepat apanya, dia hampir saja mati karena kejang-kejang dan demam tinggi.” Aku menyikut Eri di sampingku, dia sangat tidak sopan berbicara seperti itu. Sekhawatirnya dia, dia tetap harus menghormati orang tua. Eri tampak memutar bola matanya “Siapa yang tenang melihatmu kejang-kejang berkali-kali selama dua hari.”

__ADS_1


Aku merangkul bahu Eri, si Bangor ini ternyata orang yang sangat peduli “Terima kasih, terima kasih karena mengkhawatirkan aku. Ternyata orang pendekar dari Planet Aries ini sangat peduli padaku.” Hubungan aku, Eri dan Ian semakin dekat. Satu persatu sikap dan sifat kami terbuka, aku senang bisa mengetahui sisi lain dari Ian dan Eri. Aku harap, kami bertiga bisa menjadi sahabat yang baik dan semoga pertemanan ini berlangsung sangat lama.


“weweweww” Eri meniru bicaraku, dia tampak kesal. Aku mendorong Eri dari sampingku, dia sangat menyebalkan.


__ADS_2