
Aku bersedekap dada, duduk dengan Eri di sebelah kiriku dan Ian di sebelah kananku. Enak saja, mereka yang membuat masalah tapi aku yang ikut di salahkan. Padahal aku hanya mencoba melerai perkelahian mereka. “Ini semua salah kalian.”
Ruang kubus di penuhi oleh buku yang rapi di raknya. Suasana yang nyaman untuk istirahat namun tidak untuk satu ini. Mereka benar-benar membuatku sangat kesal, ini belum genap dua bulan aku bersekolah namun sudah membuat masalah yang aku sendiri tidak melakukannya.
Aku duduk dengan sopan ketika kepada sekolah memasuki ruangan ini. Dia terlihat tenang di wajahnya yang tegas dan seram. Pikiranku berkelana, aku takut di keluarkan dari sekolah ini.
“Jadi, apa yang membuat kalian berkelahi hingga membuat Kantin kacau?” Kepala sekolah duduk dengan santai di depan kami, namun tidak sesantai perasaanku. Kami tidak ada yang menjawab, tentu saja aku tidak menjawab sebab aku tidak tahu kenapa. Kepala sekolah menghela nafas panjang “Eri, kamu sudah kelas 11, seharusnya menjadi contoh untuk adik-adik kelasmu. Tina, kamu belum genap 2 bulan sekolah di sini tapi sudah membuat kekacauan. Dan kamu Ian, kamu murid baru di sini, bagaimana bisa kamu membuat masalah di hari pertamamu sekolah.”
Ingin sekali aku mencela ucapan Kepala sekolah mengenai diriku, namun aku tahan karena aku tahu itu tidak sopan. Dan yang membuatku terkejut, Ian adalah murid baru. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya. Sedangkan Eri, dia terlihat santai sembari memegang wajahnya yang terluka. Aku tidak mengerti dengan mereka berdua.
__ADS_1
“Tidak ada yang ingin menjawab?” Kepala sekolah bertanya, namun lagi-lagi tidak ada yang menjawabnya.
“Maaf pak, saya benar-benar tidak tahu apa permasalahan mereka, tadi saya hanya ingin melerai mereka saja.” Ucapku dengan penuh sopan santun. Kepala sekolah hanya mengangguk-angguk mengerti, tapi sepertinya dia tidak benar-benar mengerti.
Kepala sekolah menghela nafas panjang lagi “Kalian di hukum atas kelakuan kalian.” Kalian, termasuk aku. Ingin sekali aku membantahnya namun aku tahan karena kepala sekolah lebih tua dariku. Kepala sekolah menunjukkan Eri dan Ian “Untuk kalian berdua, kalian harus memperbaiki kursi serta bangku yang rusak karena ulah kalian. Sedangkan kamu Tina, bertugas memastikan mereka menjalani tugas.”
Melihat dua orang di depanku sedang memperbaiki kursi dan meja yang telah mereka rusak membuatku senang. Tadi setelah dari ruangan kepala sekolah aku mengantar mereka lebih dulu ke ruang kesehatan untuk mengobati luka-luka mereka. Setelah itu ke Kantin mengawasi dengan santai.
“Itu kursi di sebelah sana belum di betulkan.” Aku menunjuk kursi di paling ujung sana. Ian hanya menatapku dengan tajam sedangkan Eri hanya mendumel tidak jelas. Kalo di pikir-pikir lagi, mereka kenapa bisa sampai bertengkar. Ian baru saja tiba, atau karena si Eri memalaknya. “Eri, kenapa kamu bertengkar dengan si tiang itu?.”
__ADS_1
Eri tertawa mendengar perkataanku, di sisi lain Ian hanya menatapku dengan sebal. “Dia seperti kita, aku yakin itu. Tingginya sangat tidak normal untuk anak seusia kita, bahkan tidak normal untuk orang-orang seperti kita. Jadi aku menyuruhnya mengaku.” Jawab santai Eri.
Aku menatap Ian yang super tinggi itu, sepertinya tidak ada yang spesial kecuali tingginya yang melebih rata-rata. “Ian?.” Tapi jawaban Eri sangat tidak logis, bisa-bisanya dia menuduh Ian hanya karena di bertubuh tinggi.
Ian hanya diam saja, rasanya aku mulai bosan hanya melihat mereka berdua. Entah dunia ini di penuhi orang-orang aneh apa lagi, seandainya aku bisa menemukan jawaban yang selama ini berenang-renang di kepalaku. Mungkin jika ibu masih hidup, aku bisa menanyakan hal ini padanya. Dia pasti tahu sesuatu, tidak mungkin aku lahir begitu saja.
Eri dan Ian sudah selesai memperbaiki kursi dan meja yang rusak, sekarang mereka membersihkannya serta merapikannya kembali seperti semula. Ketika Eri menyapu, dia sengaja menyerok debu-debu pada Ian yang sedang merapikan meja-meja. Ian marah dia mendorong meja di depannya ke arah Eri.
Dari tempatku, aku sudah bisa mencium-cium bau perkelahian kedua. “Kalian hentikanlah, aku ingin pulang. Ini sudah petang, lihat.”
__ADS_1