GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
MENELAYAN 2


__ADS_3

“Berarti kamu termasuk salah satu lima orang yang bertarung di Ring Kekuatan?.”


Aku mengangguk mantap, akhirnya dia tahu siapa diriku. Riz kembali memegang kemudi kapal “Pantas saja ayah menyuruhmu ikut, karena dia tahu kamu mampu. Ayah juga orang yang paling memerhatikan kalian saat bertarung, ayah dan Ibu juga selalu membuatkan makanan untuk kalian. Mungkin dia sudah tahu kamu sejak awal, namun dia pura-pura tidak tahu saja. Karena kamu tadi sore tidak latihan, mungkin ayah ingin melatihmu dengan mencari ikan bercahaya.”


Aku mengangguk setiap ucapan Riz, kalau begitu kakek itu sudah mengetahui identitasku, tapi kenapa dia sangat sinis dan judes padaku. Dan juga, selama ini makanan yang kami makan itu dari keluarga Riz, aku menyesal baru mengetahui ini.


“HEII, KARENA KAMU, AKU HARUS MENGANGKAT KONTAK-KONTAK INI LAGI!!” Teriak Gap dari bawah sana, aku hanya tertawa kecil. Hitung-hitung untuk kesinisan dia padaku.


Semua sudah terkendali, aku menurunkan tekanan udara pada layar kapal. Riz juga banyak cerita tentangnya dan keluarganya. Terkadang aku menganga tidak percaya, menunduk sedih kala cerita Riz sedih dan tertawa kala ceritanya lucu.


Riz mengatakan bahwa dia bukanlah anak kadung dari Kakek dan nenek yang menjadi ayah dan Ibunya, dia bilang, dia hanya korban kejahatan dari prajurit yang dikirim sektor 1. Riz kehilangan keluarganya hingga dia bertemu dengan Kakek dan Nenek yang mengangkatnya jadi anak mereka. Riz juga bilang kalau anak Kakek dan Nenek di culik oleh para Prajurit, sebab anak kandung dari Kakek dan Nenek memiliki kekuatan.


Aku sangat sedih saat mendengar itu, pasti sangat berat kehilangan anak. Apa lagi kehilangan untuk hal yang tidak baik, aku yakin anak mereka menjadi salah satu prajurit di sektor 1. Riz juga bercerita tentang ikan bercahaya, Ikan itu di jaga oleh gurita besar, ikan bercahaya juga sulit di temukan di dasar laut dan ikan bercahaya sangat langka. Jika aku berhasil menemukannya dan bisa membawa ikan itu, berarti aku kuat. Riz serius dengan ombak-ombak di depannya “Aku sana tidak pernah bertemu ikan itu, ikan itu seperti dongeng. Aku pernah dengan kalau ikan itu muncul pada orang yang hatinya bersih dan baik. Aku harap kamu bisa menemukan ikan bercahaya itu.”

__ADS_1


“Iya, semoga saja.”


Dua matahari sudah tenggelam sempurna di balik laut dan di gantikan oleh dua bulan yang besar dan bercahaya. Sedikit lagi kami akan tiba di tempat tujuan, aku masih berpikir. Ini sudah malam, pasti akan gelap di bawah sana, dari mana asal pencahayaan nanti dan juga bagaimana berenang ke dasar laut. Ombak malam akan jauh lebih besar di bandingkan siang hari, jangan sampai kita hanyut terbawa ombak.


Aku menatap wajah Riz yang sedang fokus menatap ke depan, pasti berat menjadi dirinya. Di tinggal oleh kedua orang tuanya, namun Riz cukup beruntung di asuh oleh Kakek dan Nenek yang baik. Pantas saja, aku sempat tidak percaya kakek dan nenek itu memiliki anak yang masih muda, ternyata hanya anak asuh.


“Kamu tenang saja, tidak ada ombak di tengah laut sana dan pencahayaan kita alami dari ubur-ubur. Jika kamu mengkhawatirkan itu.” Riz sepertinya bisa membaca pikiranku, padahal aku tidak bicara padanya sedari tadi.


Agak susah di pahami, tapi aku coba mengerti. Ini dunia di luar akal sehatku, jadi jika ada hal-hal di luar logika, itu wajar. Aku tidak mau berpikir keras ‘Bagaimana bisa’, sebab itu hanya akan membuatku pusing. Menurutku ini juga sangat menyenangkan, memiliki teman baru, menjelajahi tempat-tempat baru, dan banyak lagi.


Gap melihatku turun dengan sebal, kini dia terlihat dengan sendal kodok, oksigen pernafasan untuk menyelam dan jaring serta tombak di tangannya. Riz. Menyodorkan barang-barang yang sama padaku, namun yang aku ambil hanya jaringan dan sendal kodok. Riz melihat tangan yang terdapat oksigen pernafasan “Kamu harus memakai ini, tekanan air dalam dasar laut terbilang besar. Kamu membutuhkan ini untuk bernafas.”


“Jika tidak mau ya sudah, kalau di mati, ya kita tinggal” Ucap Gap sembari melewatiku dan turun menggunakan tangga, kenapa ada orang yang seperti itu.

__ADS_1


Yang menyelam ada 5 orang termasuk aku, dan 2 lagi berjaga di kapal. Sudah 4 orang yang sudah turun, tinggal aku sendiri yang belum. Aku juga bisa melihat Gap, Riz dan yang lainnya sedang menunggu aku turun. Mungkin mereka takut anak kecil ini tidak bisa berenang dan takut tenggelam.


Byurrr


Aku memutuskan untuk melompat di bandingkan turun dengan tangga, karena itu sangat lama. Yang aku lihat pertama kali saat menyebur adalah pasir yang terang di bawah sana, aku bisa melihat seisinya dengan mudah. Aku mengayunkan tangan dan kakiku untuk mencapai permukaanya “Hahhh haaaaa.” Aku tersenyum kala melihat wajah Riz dan Gap yang tanpa ekspresi itu.


“Kamu benar tidak mau memakai tabung oksigen?” Tanya Riz dan aku hanya mengangguk. Suhu air ini sangat dingin, yang lain sudah mulai menyelam dan Riz akan mengajariku bagaimana cara memburu kerang. “Baiklah, mari kita mulai.” Riz memasang alat pernapasannya di mulutnya dan mulai meninggalkan permukaan.


Aku menarik nafas panjang, aku akan mengalami perpindahan pernafasan lagi dan aku malas dengan itu. Aku mulai meninggalkan permukaan dan menyelam, aku mulai menghirup air menggantikan udara di paru-paruku. Aku bisa melihat ekspresi wajah Gap, Riz dan yang lainnya terkejut melihatku. Aku terbatuk-batuk dalam air, dada yang sesak, kepalaku menjadi pening dan kupingku menjadi berdengung.


Semua mematung melihatku, mereka tidak berekspresi apa-apa, hanya diam dengan mulut dan mata mereka yang membulat. Merasa pernafasanku sudah beradaptasi, aku melambaikan tanganku pada Riz. Isyarat untuk memulai mencari kerang. Riz menggeleng menyadarkan dirinya, dia menyuruhku mengikutinya.


Mengayunkan kaki hingga mencapai dasar laut, tidak jauh, hanya 6 meter dari permukaan. Riz memperagakan bagaimana cara mencari kerang, dengan tombak di tangan kanannya dia arahkan pada pasir bercahaya di bawah, ibaratnya seperti mengorek-ngorek pasir. Aku melihat sudah hampir 5 menit namun belum ada yang kami cari-cari.

__ADS_1


Aku malah fokus dengan terumbu karang yang lumayan besar, terumbu karang yang berdapat banyak ikan-ikan kecil bersarang di sana. Terumbu karang itu bercahaya, indah sekali, mengeluarkan cahaya berbagai warna. Dan makhluk-makhluk air di sini sangat berbeda dengan yang aku lihat ketika menyelam bersama Jian, Ken dan Eri kala itu.


“Hmmm.” Aku menoleh pada Riz, dia melambai-lambai tangannya dan menunjuk sesuatu di pasir. Dengan tombaknya dia menunjukkan sesuatu di pasir, itu kerangnya. Saat aku ingin mengambil itu, Riz melarangku.


__ADS_2