
Di perjalanan Alana bergumam sendiri, “Kenapa aku selalu bertemu dengan Gema, gak di apotek, di kantor, dan tadi di toko roti pun masih ketemu. Bandung kan luas, kenapa di setiap tempat selalu ketemu sama dia. Mana ada acara rebutan puding segala, emang gak bisa apa gak ngikutin kesukaan aku”. (Mbak Alana pede banget sih mbak, yang nyuruh ngikutin kesukaan Mbak Alana kan Author, hehehe)
(Oh iya, maap ya Thor, udah nuduh Author, bisa diganti pemeran utamanya nanti sama Author, Alana ikut ngomong lagi. Hahaha).
Alana tiba di rumah 30 menit kemudian, ia memarkirkan mobilnya di garasi dan segera keluar dari mobil. Ia membuka pintu rumahnya dan segera ke ruang makan untuk meletakkan cake yang tadi ia beli. Setelah itu ia berjalan menuju kamarnya dan ingin segera mandi karena tubuhnya terasa lengket semua. Malamnya setelah makan bersama keluarganya, mereka mengobrol sambil bercanda di ruang keluarga sambil menikmati cake yang dibeli Alana tadi sore. Tak lupa, Alka menjelaskan pada orangtuanya tentang perilaku buruk Bobby dan tadi siang Bobby nekat menemui Alana di kantor bahkan Bobby mau menampar Alana. Pak Alex dan Bu Anne terkejut mendengar penjelasan Alka.
“Apa benar yang dilakukan Bobby padamu, Nak?” tanya Pak Alex pada Alana yang tengah malas membahas tentang Bobby lagi.
“Benar yang dikatakan Kak Alka, Pa. Maaf Alana belum cerita ke Papa kalo Alana sudah putus dengan Bobby beberapa hari yang lalu. Alana dari dulu sudah tau Bobby berselingkuh di belakang Alana dan saat Alana mau putus, Bobby menghilang. Setelah dua bulan, tiba-tiba dia menelepon Alana dan menjelaskan bahwa mamanya sedang sakit dan baru meninggal. Padahal Alana tau Bobby masih di Amerika, saat itu juga Alana tidak percaya pada Bobby dan Alana memutuskan hubungan kami, rupanya Bobby tidak terima, dia kembali ke Indonesia dan langsung menemui Alana di kantor, kami bertengkar dan saat dia akan menampar Alana, Kak Alka datang menahan tangan Bobby dan mengancam Bobby agar tidak menemui Alana lagi.” Alana menjelaskan panjang lebar tentang hubungannya dengan Bobby yang tidak pernah diketahui keluarganya bahwa Bobby bukan lelaki yang baik. Pak Alex dan Bu Anne menasehati Alana dan berharap semoga tidak ada laki-laki yang berani menyakitinya lagi. Dan mereka minta maaf karena tidak mengetahui hal tersebut yang menyebabkan putri mereka terluka. Mereka pun berharap lain kali Alana mau menceritakan masalahnya kepada kakak maupun orang tuanya. Malam semakin larut, hingga akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Seminggu berlalu, di kantor Alana menelepon Gema untuk membuat janji bertemu dan ia ingin tahu seberapa jauh persiapan untuk keberangkatan gathering 2 minggu lagi. Ia mencari kontak Gema pada layar ponselnya, setelah ketemu ia langsung menekan tombol warna merah hingga terdengar nada tunggu disana.
“Tut..tut..tut” (bukan lagu naik kereta api ya, hehehe).
“Maaf nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silakan mengulangi beberapa saat lagi.” (Eh malah suara mbak operator yang jawab).
“Kemana sih Gema, gak diangkat teleponnya.” Alana mencoba sekali lagi dan tetap tidak ada jawaban. Alana kesal dan melempar ponselnya ke sofa di dalam ruangannya. Ia menyandarkan kepalanya disana seraya memejamkan matanya sebentar. Tiba-tiba ia teringat kejadian minggu lalu ketika Bobby datang ke kantor. Ia tidak habis pikir Bobby bisa senekat itu menemuinya ke kantor dan untungnya ada Alka yang membelanya. Jika Alka tidak datang mungkin Alana akan merasakan tamparan Bobby dan mungkin Bobby juga akan masuk penjara dengan tuduhan kekerasan. Tapi ia merasa lega sekarang akhirnya benar-benar terbebas dari Bobby, dan jangan sampai ketemu orang seperti Bobby lagi. Dering ponsel menyadarkan lamunan Alana, dan ia segera mengambil ponsel yang ia lempar ke sofa tadi. Terlihat nama Gema di layar ponselnya, Alana segera menerimanya dengan sedikit kesal.
__ADS_1
“Hallo Gema. kamu kemana aja sih dari tadi di telepon gak diangkat-angkat?” kata Alana tak bisa menahan amarahnya.
“Hallo Alana, jangan marah-marah terus dong. Maaf tadi aku masih di jalan, ini baru sampai kantor dan saat buka ponsel, ada panggilan tak terjawab dari kamu. Ada keperluan apa kamu meneleponku?” jawab Gema seketika meredakan emosi Alana.
“Ya aku gak tau kalo kamu masih di jalan. Lagian udah jam segini baru nyampek kantor.”
“Iya tadi aku ada urusan sebentar. Ibuku minta diantar ke rumah sakit karena sedang tidak enak badan,” jelas Gema.
“Apapun alasanmu aku gak mau tau. Yang aku butuhkan sekarang, bagaimana persiapan kalian untuk gathering 2 minggu lagi? tanya Alana.
(Bagaimana bisa dia seegois ini, gumam Gema dalam hati).
“Baiklah, aku akan memantau sampai tanggal keberangkatan hingga kembali kesini lagi. Jangan lupa aku juga ikut dalam acara itu, aku juga ingin pelayanan untukku disamakan dengan para pegawaiku, aku tidak mau dispesialkan seperti bos-bos lain,” ujar Alana pada Gema. Seketika Gema melihat sisi baik Alana yaitu tidak mau dianggap bos, yang diberi pelayanan khusus, dan mau membaur dengan para pegawainya.
“Baik Alana, aku akan mempersiapkan semuanya, sesuai keinginanmu,” jawab Gema mengakhiri teleponnya.
(Ternyata Alana juga bisa absen dari galaknya, Gema tersenyum mengingatnya).
__ADS_1
*Di rumah Gema
Sesampainya di rumah, Gema segera menemui ibunya dan memeriksa keadaan ibunya yang terbaring lemah, karena sempat pingsan tadi pagi. Kata dokter ibunya hanya kecapekan, tensi darahnya sangat rendah dan sedang banyak pikiran. Sebenarnya Gema tidak tega meninggalkan ibunya sendirian di rumah, akhirnya pagi tadi Gema minta tolong pada anaknya Mang Dadang, Lita untuk menjaga ibunya. Gema membuka pintu kamar ibunya dan menghampiri ibunya yang terjaga karena mendengar suara vespa Gema. Dan Lita yang berusia 15 tahun itu tengah tertidur di samping ibunya.
“Bu, bagaimana keadaan Ibu sekarang? Apa yang masih sakit? Ibu ingin makan apa Gema buatkan? tanya Gema beruntun dan dibalas senyuman oleh ibunya.
“Ibu sudah tidak apa-apa Gema. Ibu sudah merasa lebih baik dari tadi pagi. Kamu gak usah khawatir,” jawab ibunya masih sedikit lemas.
“Iya udah Bu. Ibu tunggu sebentar ya. Gema mandi dulu, setelah itu Gema suapin makan. Tadi Gema beli bubur ayam di ujung gang,” kata Gema dan ibunya mengiyakan.
Setelah mandi dan ganti baju Gema ke dapur menyiapkan bubur ayam yang ia beli tadi. Lalu ia pergi ke kamar ibunya dan melihat Lita sudah bangun. Tak lupa Gema membelikan kue dan es krim untuk Lita tadi.
“Eh Lita udah bangun juga, makasih ya udah mau jagain ibu, ini ada kue buat kamu,” kata Gema seraya memberikan bungkusan itu pada Lita dan Lita menerimanya dengan senang hati.
“Lita makasih ya Nak, kamu sudah mau nemenin Ibu,” kata Ibu Gema kemudian.
“Iya, gak apa-apa Ibu, mas Gema, Lita juga bosen di rumah terus, ini kan masih liburan sekolah. Ibu semoga cepat sehat kembali ya. Lita pamit pulang dulu. Makasih mas Gema kuenya,” ucap Lita berpamitan pada Gema dan ibunya seraya mencium tangan mereka.
__ADS_1
“Iya, maaf aku gak bisa anter sampai rumah ya Lit,” ucap Gema terkekeh karena rumah Lita tepat di samping rumahnya, hanya berjalan 5 langkah udah sampai. Dan Lita mengiyakan sambil senyum-senyum sendiri.
“Ini Bu, buburnya dimakan dulu. Habis itu minum obatnya ya. Gema suapin nih,” kata Gema seraya menyuapi ibunya dengan telaten. Gema berharap ibunya segera sembuh seperti sedia kala, karena ia tidak tega melihat ibunya sampai pingsan seperti tadi pagi.