
Seperti biasa, Pak Asep dan Gema melakukan sambutan sebagai perwakilan 10 bus yang berangkat saat itu. Perjalanan kali ini terlihat berbeda dari sebelumnya karena pemilik Alana Jaya Tekstil tidak ada yang ikut dalam gathering kedua ini. Sambutan Pak Asep selesai dan dilanjutkan doa yang dibacakan Gema. Satu jam keberangkatan, Gema memberikan roti dan air mineral sebagai snack pembuka perjalanan. Ia juga dengan telaten menyiapkan kebutuhan para rombongan seperti memberi obat-obatan, dan memastikan kondisi perjalanan aman dan nyaman.
Pak Asep memutar musik untuk meramaikan suasana, hingga Gema menyusul duduk di sebelah Pak Asep. Mereka juga berbincang-bincang bersama sopir dan asisten sopir, hingga larut malam semua rombongan banyak yang tertidur karena perjalanan masih panjang.
“Gema, gimana hubungan kamu dengan Alana?” Pak Asep tiba-tiba bertanya tentang hubungannya dengan Alana yang baru berjalan dua minggu itu.
“Hubungan kami baik Pak. Beberapa hari yang lalu, Alana sudah saya ajak bertemu Ibu juga.”
“Oh iya. Baguslah, semoga hubungan kalian hingga pernikahan nantinya.” Doa tulus dari Pak Asep untuk Gema.
Dan tak lupa Gema menanyakan tentang Rani, karena setelah perjalanan dari Jogja minggu lalu Rani lebih banyak menemui klien travel di luar kantor. Jadi mereka jarang bertemu bahkan saat tadi berkumpul di pabrik Alana Jaya Tekstil, Rani sudah masuk bus terlebih dahulu.Kabar dari Pak Asep, kini putrinya itu tengah menjalani pendekatan dengan anak rekannya yang tak lain teman kuliah Rani dulu yang sempat dibicarakan Pak Asep. Rupanya perjodohan itu berjalan lancar, terlihat raut wajah Pak Asep yang lebih semangat dari biasanya. Gema lega bukan karena Rani tidak lagi mengejar-ngejar dirinya lagi. Tapi Gema ingin Rani mendapatkan laki-laki yang sepenuh hati mencintainya.
Tiba-tiba Gema ingin mengirim pesan pada Alana, meskipun ia tahu bahwa kekasihnya itu mungkin sudah tertidur. Ia merogoh tas slempangnya dan mengambil ponselnya, ia tersenyum ketika melihat wallpaper ponselnya terdapat wajah manis Alana saat di Jogja beberapa waktu lalu. Kemudian ia mengetikkan sesuatu disana.
Gema : “Selamat tidur Tuan Putriku, semoga mimpi indah, eh salah. Jangan mimpi indah, mimpi aku aja.”
Gema menambahkan emoticon love pada pesan itu, senyum masih mengembang di wajahnya hingga tak disangka Alana masih terjaga dan membalas pesannya.
Alana: “Iya sayang, aku bakal mimpiin kamu. Have fun ya di Jogja.”
Alana malah menambahkan dua emoticon love dalam pesannya pada Gema. Ia memang belum bisa tidur saat itu, jadi untuk membunuh sepinya ia bermain game pada ponselnya hingga ia menerima pesan manis dari Gemanya. Dan Gema membelalakkan matanya ketika membaca kata sayang yang ditulis Alana pada pesan itu. Ia makin melebarkan senyumnya dan segera membalas pesan dari Alana.
__ADS_1
*Gema: “Apa kamu bilang? Sayang? Aku jadi tersipu malu nih. Coba kamu bilang lagi.”
Alana: “Ishhhh, apaan sih. Emang aku mau panggil gitu.”
Gema: “Iya, panggil aku gitu sekali lagi.”
Alana: “Iya SAYANG. Puas kamu*.”
Gema: “Hahaha. Aku jadi pengen dengar langsung dari mulut kamu.”
Alana: “Emang kamu balik lagi ke Bandung hanya untuk mendengar itu dari aku?”
Sekali lagi Gema tak menyangka bahwa Alana akan memanggilnya sayang. Memang ini umum untuk orang-orang yang tengah berpacaran, namun tidak bagi Gema karena memang baru pertama kalinya. Entah ia masih deg-degan saat bertatap atau berbicara dengan Alana. Bahkan setiap mereka bertemu, desir ombak di hatinya masih bergejolak dengan betahnya. Seharusnya seorang laki-laki yang bersikap romantis pada pasangannya, Gema masih belum bisa bersikap seperti itu karena ia memang kurang berpengalaman. Tapi ia akan belajar setelah ini untuk menjadi laki-laki yang romantis, meskipun Alana tak membutuhkan itu. Ia terlihat sangat bahagia saat itu, hingga ia tak bisa tidur memikirkan Alana yang jauh disana.
Alana membaca berulang kali kalimat terakhir Gema, padahal niatnya tadi hanya menggoda Gema. Ia juga tak sadar dengan apa yang telah dituliskannya tadi. Pasti ia akan malu saat bertemu Gema nanti, tapi wajarlah karena ia sedang bucin saat ini. Alana meletakkan ponselnya di atas nakas, dan mencoba memejamkan matanya pelan-pelan hingga ia tertidur.
Pukul 4 pagi, rombongan telah sampai di Pantai Parangtritis untuk transit dan beristirahat kembali di penginapan area Parangtritis. Sebelum sarapan, semua rombongan berjalan-jalan di sekitar pantai, Gema memotret sunrise saat itu dan ia mengirimkannya pada Alana. Ia menambahkan kalimat pada foto yang dikirimnya.
“Kamu dapat salam dari Jogja."
__ADS_1
Begitu Gema menuliskan sisi puitis pada hasil jepretannya, lalu ia kembali mendampingi rombongan dan mengarahkan untuk berfoto bersama.
Di Bandung, Alana yang baru saja bangun dari tidurnya segera menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian rapi untuk ke kantor, ia memasukkan ponselnya di tas kecilnya itu dan bergegas turun ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Terkadang ia lupa kalau ia sudah punya kekasih, hingga ia tak menyadari ponselnya dari tadi kelap kelip tanda ada pesan yang belum terbaca.
“Alana, Gema dan rombongan udah sampai di Jogja?” tanya Pak Alex di tengah-tengah aktivitas sarapan mereka.
“Astaga, aku lupa kalau Gema sekarang di Jogja. Sebentar Pa, aku belum lihat ponselku dari tadi.”
Pak Alex hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu. Alana melihat beberapa pesan dari Gema mulai ia sampai hingga kini sedang bersama rombongan di Pantai Parangtritis.
“Gema dan rombongan udah sampai jam 4 pagi tadi Pa,” kata Alana setelah melihat beberapa pesan masuk dari Gema. Tak disadari,ia tersenyum-senyum sendiri setelah mendapat kiriman foto dari Gema.
“Ehemm, ada yang senyum-senyum sendiri tuh Ma, Pa.” Alka yang sedari tadi memperhatikan adiknya itu bisa menebak bahwa adiknya sedang bucin saat ini, maklumlah baru punya pacar.
“Kakak, selalu deh. Mau tau aja urusan orang.” Alana mencebikkan bibirnya kesal. Selalu saja kakaknya itu tak bosan menggodanya.
“Bukannya mau tau urusan kamu, emang kamu lagi bucin kan sekarang ini. Wajar kok dan aku udah pernah ngalami itu,” ujar Alka sambil tertawa dengan lebarnya.
“Sudah-sudah kalian ini selalu, nggak pagi, nggak siang, nggak malam, berantem mulu. Udah habisin sarapannya, kalian terlambat nanti.” Bu Anne selalu menjadi penengah bagi anak-anaknya ketika mereka hanya mempermasalahkan hal sepele seperti tadi. Mereka pun melanjutkan sarapan kembali tanpa suara, yang terdengar hanya denting sendok dan piring yang menggema di ruang makan itu.
Tak lama kemudian, setelah sarapan Alana dan Alka berpamitan pergi ke pabrik dengan mengendarai mobil masing-masing. Karena rencananya Alka akan bertemu Meta untuk reservasi gedung dan catering untuk acara pernikahannya minggu depan. Dan Alana beniat mengunjungi Ibu Gema yang tengah di rumah sendiri saat Gema mengantar rombongan ke luar kota.
__ADS_1