
Tim Bandung Holiday Tour and Travel telah tiba di kantor, mereka segera merapikan peralatan yang dibawa ke Jogja. Gema segera mandi di kamar mandi kantor dan yang lainnya tengah duduk-duduk santai untuk beristirahat sejenak. Mang Didin menyiapkan minuman dan camilan untuk mereka semua dan tak lupa ia juga sudah menerima oleh-oleh dari semua pegawai travel untuk istri dan anaknya di rumah. Mang Didin juga sudah memesankan 11 porsi bubur ayam langganan mereka di depan kantor. Tak lama kemudian Gema sudah keluar dari kamar mandi, lalu bergantian yang lainnya. Mereka semua tidak ada hari libur hari ini karena harus mengerjakan dokumentasi perjalanan kemarin. Dan menyiapkan perjalanan selanjutnya, tidak hanya itu Pak Asep dan Rani siang nanti ada meeting dengan rekan bisnis Pak Asep di luar kantor.
Gema segera menyalakan laptopnya dan memindah foto-foto dan video perjalanan ke Jogja kemarin. Ponselnya bergetar ketika ia sedang sibuk mengedit foto, ia mengambil ponselnya di sebelah laptopnya. Nama “AlanaKu” terpampang di layar ponselnya, nama Alana yang baru ia ganti setelah mereka jadian kemarin. Gema tersenyum dan segera menerima panggilan dari kekasihnya itu.
“Hallo Alana, kamu udah sampai rumah?” tanya Gema.
“Hallo Gema, iya aku barusan sampai rumah. Kamu udah mandi? Udah makan?” tanya balik Alana beruntun. Sekarang ia lebih perhatian ke Gema, kekasih yang baru dua hari dipacarinya itu.
“Udah dong, aku udah mandi, udah makan juga, tadi dipesankan bubur ayam sama Mang Didin. Ini sekarang lagi ngedit foto-foto di Jogja kemarin. Kamu udah mandi? Atau malah udah makan dulu sebelum mandi?” ucap Gema seraya menyunggingkan senyumnya.
“Baiklah kalau kamu udah makan. Ini aku baru mau mandi dan kamu tau banget kalau aku makan dulu. Hahaha.” Alana menjawab seraya tertawa.
“Ya tau lah, meskipun cuma nebak aja sih. Hari ini kamu pergi ke pabrik apa tidak?”
“Sepertinya Kak Alka dulu yang pergi ke pabrik, aku masih mau istirahat. Nanti sore mau nemenin Kak Meta ke butik buat fitting baju pengantin.”
“Oh gitu, ya udah, kamu mandi dulu gih, bau asemnya nyampek sini nih,” goda Gema.
“Ih kamu mulai ngeselin lagi ya. Aku mandi dulu. Bye.” Alana langsung menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Gema senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. Ia masih tidak menyangka Alana telah menjadi kekasihnya saat ini. Sesaat ia teringat untuk memberi kabar pada ibunya kalau sudah tiba di Bandung. Ia mengusap layar ponselnya kembali dan menelepon ibunya. Terdengar nada sambung yang agar lama, dan sudah terdengar suara dari seberang sana.
“Hallo Nak, kamu sudah tiba di Bandung?” tanya ibunya yang senang ketika melihat panggilan dari anak semata wayangnya itu.
“Hallo Bu, maaf Gema baru kasih kabar, tadi subuh Gema sudah tiba dari Jogja dan langsung ke kantor seperti biasa, karena langsung bekerja Gema lupa telepon Ibu,” jelas Gema sedikit sungkan pada ibunya.
“Iya Nak, gak apa-apa, yang penting kamu sudah tiba dengan selamat. Udah biasa juga kan kalau kamu langsung kerja setelah mengantar rombongan.”
Ibunya selalu memahami tugas dan pekerjaan Gema setelah pulang dari perjalanan wisata. Karena begitu tiba di Bandung, tidak ada hari libur karena beberapa hari kantor tutup sementara jika rombongan yang didampingi terlalu banyak. Jika hanya 5 bus masih ada yang jaga di kantor, kalau seperti kemarin, maka semua tim harus berangkat dan hanya meninggalkan Mang Didin seorang untuk menjaga kantor.
“Iya Bu, iya udah kalau gitu, Gema tutup teleponnya ya, nanti Gema pulang siang kalau pekerjaan Gema udah selesai. Ibu hati-hati di rumah,” kata Gema.
Gema kembali melanjutkan pekerjaannya, yang lain ada yang menerima reservasi perjalanan baru, ada yang menerima telepon penawaran hotel dan restoran serta harga tiket rombongan yang murah. Mereka semua terlihat sibuk, Pak Asep dan Rani sudah berangkat ke sebuah restoran untuk menemui rekan bisnisnya. Hari ini mereka bekerja setengah hari saja karena Pak Asep masih memaklumi bahwa setelah perjalanan beberapa hari para pegawainya pasti masih merasakan lelah. Jam 2 siang Gema dan teman-temannya sudah boleh meninggalkan kantor. Mereka berpamitan pada Mang Didin.
Gema menyalakan mobilnya setelah memasukkan oleh-oleh yang ia beli untuk ibunya dan Lita. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan 20 menit kemudian ia sudah sampai di depan rumahnya. Ia mengeluarkan semua oleh-oleh itu dari dalam bagasi, dan masuk ke dalam rumah yang tidak dikunci itu.
“Ibu, Gema pulang.”
“Iya Nak, kamu udah pulang. Lita mas Gema udah pulang Lit.” Ibunya tersenyum bahagia seraya memeluk anaknya itu, Lita pun yang ada di dapur segera berlari ke ruang tamu.
__ADS_1
“Mas Gema udah pulang, nggak lupa oleh-oleh buat Ibu dan Lita kan Mas?” Lita juga ikut memeluk Gema. Mereka bertiga berpelukan layaknya keluarga yang telah lama tidak bertemu.
“Iya nggak lupa dong. Kamu kan yang nemenin Ibu sampai aku pulang, ini oleh-olehnya Ibu bagi sendiri ya. Gema haus mau minum dulu.” Gema memberikan beberapa bingkisan itu pada ibunya dan Lita. Ia menuju dapur untuk minum karena dari tadi cuaca begitu panas hingga membuat tenggorokannya kering.
Beberapa saat setelah tiba di rumah ia berpamitan pada ibunya untuk tidur karena lelah yang masih melanda tubuhnya. Malam harinya mereka makan malam bersama namun tanpa Lita karena Lita sudah kembali ke rumahnya sore tadi. Selesai makan malam, Gema ingin memberi tahu hubungannya dengan Alana pada sang ibu.
“Bu, ada hal penting yang mau Gema bicarakan sama Ibu.” Gema memulai pembicaraannya.
“Tumben sekali kamu ingin berbicara hal penting pada Ibu. Apa kamu kemarin tidak jadi ke makam ayah? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu? ,” tanya ibunya beruntun seraya merapikan alat makan mereka.
“Tidak Bu, Gema kemarin jadi ke makam ayah, dan tidak ada masalah dengan pekerjaan Gema. Yang ingin Gema katakan pada Ibu, Gema sekarang sudah memiliki kekasih Bu,” ucap Gema ragu.
“Kamu sekarang sudah punya kekasih? Siapa dia Nak? Rani? Rani kekasih kamu?” Ibunya tersenyum bahagia mendengar penuturan Gema.
“Rani? Bukan Bu, bukan Rani kekasih Gema. Tapi Alana...,” Gema berucap dengan jelas seraya memperhatikan raut wajah ibunya.
“Alana? Alana, gadis cantik yang kita pernah bertemu di taman kota waktu itu?” Ibunya masih tidak percaya bahwa gadis yang amat disukainya itu kini telah menjadi kekasih anaknya.
“Iya Bu, Alana itu. Gema kemarin waktu di Jogja mengutarakan isi hati Gema pada Alana, dan Alana menerima Gema Bu,” kata Gema seraya mengingat kejadian di Taman Sari kemarin.
__ADS_1
“Alhamdulillah, akhirnya keinginan Ibu terwujud, kamu sudah punya kekasih sekarang Nak, dan dia Alana, gadis yang begitu Ibu kagumi. Dia baik, cantik, dan sopan. Gema, Ibu bahagia mendengarnya. Semoga kalian langgeng ya.” Ibunya langsung memeluk Gema. Gema melihat betapa bahagia ibunya mendengar kabar yang dari kemarin tak sabar ingin segera ia sampaikan pada ibunya.