
“Ada apa lagi sih Ran???” Gema terkejut ternyata bukan Rani yang datang lagi. “Eh Ibu, Gema kira Rani lagi yang datang.” Gema kepalang malu ternyata yang datang adalah ibunya.
“Kamu kira yang datang seorang bidadari ya? Padahal yang datang mantan bidadari jaman old.” Ibunya terkekeh melihat wajah Gema memerah karena menahan malu. “Hahaha, Ibu bisa aja sih. Ibu dari mana? Tadi Gema cari di kamar gak ada, di dapur juga gak ada?” tanya Gema beruntun.
“Ibu dari pasar Nak, bahan makanan udah mulai menipis. Tadi Ibu waktu Ibu berangkat ke pasar, Ibu ketemu sama Rani sedang beli bubur ayam di ujung gang. Apa dia kesini jenguk kamu? Kemana dia sekarang?”
“Gema kira Ibu kemana? Iya tadi memang Rani kesini jenguk Gema Bu, tapi udah Gema suruh pulang.”
“Dia kan udah jauh-jauh kesini, malah kamu suruh pulang. Kamu ini gimana sih?”
“Gema geli aja Bu, lihat sikap Rani yang kegenitan kayak gitu.”
“Ya sudah, ayo kita masuk nanti kamu gak sembuh-sembuh lagi,” ajak ibunya masuk rumah.
*Di kantor Alana
Sesampainya di kantor Alana disambut hangat beberapa karyawan. Banyak juga karyawan laki-laki yang mengagumi kecantikan Alana yang natural dan tidak banyak berdandan seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Alana hanya acuh melihat mereka yang terpana saat ia lewat. Ia segera menuju ruang sekretaris ayahnya dan menanyakan agenda hari ini. Sebelum jam makan siang, Alana perlu menemui beberapa kolega ayahnya yang menawarkan berbagai bahan baku tekstil yang dibutuhkan di pabrik. Ia segera menuju ruangannya untuk menyiapkan data-data bahan baku yang saat ini sedang dibutuhkan oleh pabrik. Perlahan Alana mulai mempelajari seluk beluk pabrik tekstil yang telah dikembangkan ayahnya, Alana mulai memahami bagaimana caranya mengelola pabrik itu. Dan tidak lupa dia juga harus menyiapkan kelengkapan data pegawai yang harus disetorkan ke Bandung Holiday Tour and Travel. Tiba-tiba Alka masuk ke ruangannya, dan meminta beberapa berkas kelengkapan untuk tour pegawai.
“Alana, aku mau minta data pegawai yang akan berangkat ke Jogja bulan depan?” tanya Alka nyelonong masuk dan langsung duduk di depan meja Alana dan membuat Alana terkejut seketika.
“Astaga, Kakak, ngangetin aku aja. Kalo masuk ruangan orang itu ketuk pintu dulu dong, jangan asal masuk aja.” Alana membulatkan matanya karena meskipun yang masuk adalah kakaknya sendiri tapi harus punya sopan santun. Alka dan Alana memang jarang bertemu, karena setiap mereka bertemu pasti ada saja yang membuat mereka selalu berdebat. Memang Alka dan Alana terpaut usia hampir 10 tahun, jadi Alka masih menganggap Alana gadis yang masih di bawah umur yang belum mampu mengelola perusahaan.
__ADS_1
“Apaain sih, biasa aja kali. Kamu kan adik aku sendiri bukan orang lain, lagian ini juga masih ruangan Papa, wajar dong aku langsung masuk” jawab Alka santai.
“Kak, memang ini masih ruangan Papa, tapi kan Papa udah nyerahin tanggung jawabnya ke aku. Terutama semua hal yang menyangkut gathering pegawai bulan depan. Jadi biar aku aja yang ngurus. Lagian Kakak gak ada kerjaan lain apa?”
“Bukannya gak ada kerjaan Al, aku cuma mau bantuin kamu aja. Kamu kan masih awam sama pekerjaan di pabrik, Kakak takut kamu gak bisa menghandle semuanya.”
“Kak, percaya sama aku. Aku bakal tanggung jawab sama kerjaan aku, aku gak akan mengecewakan Kakak apalagi Papa. Aku akan bekerja dengan baik dan benar sesuai harapan kalian, aku hanya butuh kepercayaan kalian sama aku. Please Kak, kali ini jangan dibantuin dulu ya. Nanti kalau memang aku butuh bantuan aku akan menghubungi Kak Alka,” ujar Alana yang memang ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu mengelola perusahaan dengan baik.
“Baiklah kalau itu maumu, Kakak pegang kata-katamu. Jika butuh bantuan segera hubungi Kakak. Semoga kamu tetap semangat sampai pabrik Papa makin berkembang pesat sesuai harapan keluarga kita.”
“Baik Kak, terima kasih atas kepercayaan Kakak sama aku. Aku akan memenuhi janjiku.”
*Esoknya
Gema sudah kembali bekerja seperti biasanya, ia sudah terlihat sehat dan lebih segar dari sebelumnya. Ia duduk di kursi kerjanya mengendalikan mouse komputer untuk bergerak kesana dan kemari. Gema terkejut saat ponsel Gema yang berdering dari dalam saku celananya, ia segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang tengah menelponnya di pagi hari. Ia membulatkan matanya tak menyangka Alana menelponnya, karena mereka telah bertukar nomer telepon masing-masing di cafe dua hari yang lalu.
“Hallo Gema. Ini Alana,” sapa Alana dengan suaranya yang merdu. (Cocok nih jadi penyiar radio,hehe).
“Hallo Alana, ada yang bisa aku bantu?” tanya Gema dengan penasaran.
“Aku sudah mengirim daftar peserta yang akan mengikuti gathering ke Jogja. Aku kirim via email, apa kamu udah cek?” sahut Alana memastikan Gema sudah mengecek emailnya.
__ADS_1
“Oh, udah dikirm ke email ya? Maaf kemarin aku gak masuk kerja karena kurang enak badan. Setelah ini aku cek ya.” Gema berusaha mencari email yang masuk di laptopnya.
“Lho kamu sakit apa?” Alana tampak cemas. (Sstt.. Alana khawatir bukan karena suka pada Gema tapi takut persiapan gatheringnya terganggu).
“Maagku kambuh kemarin, tapi sekarang udah baikan kok. Ini aku juga udah bisa balik kerja lagi,” jawab Gema tak ingin Alana khawatir karena kalau sampai ia tidak bisa mendampingi rombongan gathering bulan depan.
“Kamu sakit maag? Kamu sering telat makan ya?”
“Iya.. karena banyak kerjaan yang harus aku selesaikan di kantor saat kami menerima pelanggan yang akan memakai jasa kami untuk mengantar rombongan wisata.”
“Apa kamu gak bisa jaga kesehatan? Gimana kalau gatheringnya gagal gara-gara kamu sakit?” Alana memang mengkhawatirkan kegiatan gathering itu.
“Gatheringnya tetap akan berangkat Alana, kamu jangan khawatir. Bukan karena aku sakit acara gathering nanti bisa gagal, lagian kan masih 3 minggu lagi. Ini juga sudah hampir selesai dan reservasinya malah sudah berhasil.” Gema menjelaskan panjang lebar.
“Baiklah kalau begitu, aku udah dikasih tanggung jawab sama Papa aku untuk menghadle acara ini. Awas aja kalau ini sampai gagal.” (Mulai deh ancamannya keluar, sabar Gema).
“Iya Alana, aku akan pastikan gatheringnya berjalan sesuai perencanaan yang sudah kami siapkan dengan matang,” jawab Gema meyakinkan Alana.
“Oke, kalo gitu kamu cek dulu email dari aku. Nanti untuk kelanjutannya akan aku kabari lagi ya.” Alana mengakhiri teleponnya sebelum Gema menjawab.
(Hmm, belum dijawab udah main tutup aja, dasar cewek aneh).
__ADS_1