
Alana menghampiri keluarganya, tampak Alka dan Meta tengah bahagia. Begitu juga dengan Pak Alex, Bu Anne dan orang tua Meta yang tak kalah bahagianya. Tanggal pernikahan juga sudah ditentukan, mereka akan menikah dua minggu lagi. Berarti satu minggu setelah perjalanan gathering ke Jogja. Alka dan Meta pun hanya memiliki waktu satu minggu untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Mereka tidak khawatir karena semuanya telah diserahkan pada wedding organizer yang akan mengurus persiapan pernikahan mereka.
Di tengah keluarganya, Alana masih memperhatikan Gema yang masih bersama gadis di sebelahnya. Alana merasa ada yang aneh dalam dirinya, ia merasa tidak suka jika Gema dekat dengan gadis itu.
“Perasaan apa ini Tuhan? Kenapa aku tidak suka melihat Gema dekat dengan cewek lain? Bagaimana jika dia memang pacarnya Gema?” ucap Alana dalam hati yang masih dalam posisi memperhatikan Gema disana.
Gema pun sadar bahwa Alana tengah memperhatikan dirinya meskipun dari jauh, ketika ia menatap wajah Alana, sejenak Alana memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Ada yang aneh dari Alana? Padahal tadi dia baik-baik saja,” batin Gema.
Karena malam semakin larut, Pak Asep, Gema dan Rani berpamitan pulang pada Pak Alex dan Alana beserta keluarganya. Alana mengantar mereka bertiga hingga depan rumah dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka.
“Terima kasih banyak Pak Asep sudah menyempatkan hadir dalam acara Kakak saya,” ucap Alana tanpa menoleh pada Gema dan Rani.
“Sama-sama mbak Alana. Kami pamit dulu ya, sampai bertemu di perjalanan gathering dua hari lagi,” kata Pak Asep seraya menjabat tangan Alana.
“Baik Pak Asep, kami sudah siap berangkat dua hari lagi. Hati-hati di jalan Pak,” kata Alana. Gema juga ingin berpamitan tapi Alana langsung berlalu dari hadapan mereka bertiga.
“Ayo mas Gema, kita pulang. O iya, aku boleh pulang bareng kamu nggak?” pinta Rani yang berjalan di samping Gema.
“Ran, rumah kita kan gak searah, lagian kamu tadi bareng Pak Asep kan? Kenapa pulangnya bareng aku?” Gema yang merasa risih dengan Rani dari tadi pun segera menolak permintaan Rani.
“Rani, ayo pulang, kamu sampai kapan mau ngikutin Gema terus?” kata Pak Asep yang mengerti bahwa Gema sangat risih dengan anaknya. Bukan karena Rani tidak boleh dekat dengan Gema, tapi Pak Asep menyadari bahwa Gema tengah menyukai Alana. Di sisi lain Pak Asep telah menganggap Gema seperti anaknya sendiri. Dari situlah ia tak menyetujui Rani memiliki hubungan dengan Gema. Rencananya Pak Asep akan menjodohkan Rani dengan Bima, putra teman SMAnya dulu, dia juga teman kuliah Rani dan telah menaruh hati pada Rani sejak mereka kuliah. Tapi Rani masih bersikap acuh dengan permintaan ayahnya.
“Baiklah Pa, aku pulang sama Papa aja. Kasihan nanti mas Gema jadi bolak-balik kalau harus nganter Rani dulu,” kata Rani kemudian.
__ADS_1
“Iya sudah, ayo masuk mobil. Gema kami pulang duluan ya, kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut, sampaikan salamku pada ibumu,” ucap Pak Asep seraya masuk ke dalam mobilnya.
“Baik Pak, nanti saya sampaikan salamnya pada ibu. Hati-hati di jalan Pak,” jawab Gema seraya masuk ke dalam mobilnya juga.
Ketika Gema sudah menyalakan mobilnya, tiba-tiba Alana keluar menghampirinya dengan membawa sebuah kotak di tangannya.
“Gema, untung kamu belum pulang. Ini aku titip sesuatu untuk ibumu, semoga dia menyukainya,” kata Alana segera berlalu dari sana tanpa ucapan terima kasih dari Gema. Gema pun hanya diam tak bergeming setelah menerima kotak itu. Terlebih lagi ia belum mengucapkan terima kasih pada Alana.
“Terima kasih Alana, tapi kenapa seakan-akan kamu menghindar dariku?” gumam Gema.
Gema pun melajukan mobilnya menuju rumah, ia lupa belum berpamitan pada ibunya karena ibunya tengah pergi ke pasar saat ia berangkat kerja pagi tadi. Lagi-lagi ibunya pasti khawatir dia pulang malam lagi. Ia segera menginjak gas dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumah. Setengah jam kemudian, Gema telah sampai di depan rumah dan segera memarkirkan mobilnya di samping rumah. Ia turun dari mobilnya dan mengambil kotak pemberian Alana tadi. Dari dalam rumahnya, terdengar sayup-sayup orang tengah berbicara dan sesekali diselingi tawa. Tidak biasanya ada yang sedang bertamu malam-malam begini.
“Ibu sedang berbicara dengan siapa?” kata Gema dalam hati. Ia pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam. “Gema pulang” kata Gema seketika menghentikan percakapan ibunya dengan beberapa orang.,
“Iya Bu, maaf Gema pulang malam lagi, tadi pagi Gema lupa pamit pulang malam karena ada acara di rumah Alana,” jelas Gema seraya menatap mata ibunya yang tidak ada rasa khawatir seperti sebelumnya.
“Iya, memang ibu tadi sedang ke pasar kan waktu kamu berangkat,” jawab ibunya. “O iya, ini kenalin teman-teman ibu di Jogja dulu. Mereka sedang berlibur ke Bandung, kemarin telepon ibu katanya mau mampir,” lanjut ibunya seraya memperkenalkan teman-temannya.
“Lho Nan, ini anak kamu, wah gantengnya, mirip sekali dengan ayahnya,” ucap salah satu teman perempuan ibu Gema.
“Hallo Tante, hallo Om. Kenalkan saya Gema,“ kata Gema seraya menjabat tangan teman-teman ibunya.
“Hallo Nak Gema, salam kenal ya. Wah kamu ganteng persis seperti ayahmu,” kata teman laki-laki ibu Gema.
“Silakan dilanjut lagi ngobrolnya, o iya Bu ini ada titipan dari Alana,” kata Gema seraya menyerahkan kotak yang berisi kue itu pada ibunya. Kemudian Gema berpamitan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya. Ibunya pun kembali bersama teman-temannya dan menyajikan kue dari Alana tadi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, para tamu ibunya pun berpamitan pulang dan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Tak lupa mereka menitipkan salam pada Gema. Gema keluar kamar dan melihat ibunya tengah menutup pintu.
“Lho teman-teman ibu sudah pulang?” tanya Gema seraya mengutak-atik ponselnya.
“Sudah, mereka akan kembali ke hotel karena besok pagi akan melanjutkan perjalanan lagi,” jelas ibu Gema. “O iya ada acara apa di rumah Alana, kok dia ngundang kamu juga Nak?” tanya ibunya seraya mencuci gelas dan piring bekas tamunya.
“Gema dan Pak Asep diundang acara pertunangan di rumah Alana Bu” kata Gema.
“Lho, Alana sudah tunangan Nak?” ibunya terkejut.
“Awalnya Gema juga berpikiran seperti itu Bu, ternyata yang tunangan adalah kakaknya,” kata Gema seraya menyunggingkan senyumnya.
“Ibu kira Alana yang tunangan, gagal jadi mantu Ibu dong. Hehehe.” Ibunya terkekeh, Gema hanya geleng-geleng kepala.
“Ibu apa-apaan sih. Gema merasa nggak pantas untuk gadis seperti Alana, Bu,” ucap Gema seraya menghembuskan nafasnya.
“Eh, jangan bilang gitu dong Nak. Belum usaha udah kalah duluan, cobalah dekati dia dulu, sampai kapan kamu akan sendiri terus. Apa sama Rani aja?” goda ibunya Gema.
“Apa Ibu bilang? Sama Rani? Ih ogah ah Bu, gadis pecicilan gitu. Gema juga udah anggap Rani seperti adik Gema sendiri Bu.” Gema bergidik mendengar ibunya menyebutkan nama Rani.
“Iya udahlah Nak. Ibu sih terserah kamu aja, yang penting dia baik dan menerima kamu apa adanya. Ibu hanya bisa mendoakan jodoh yang terbaik untuk anak Ibu,” kata Ibu Gema seraya mengusap kepala anaknya itu.
“Iya Bu. Terima kasih ibu selalu mendukung apapun keputusan Gema. Gema janji akan membahagiakan Ibu. Sekarang sudah malam Bu, ayo Gema antar ke kamar untuk istirahat,” kata Gema kemudian mengantar ibunya ke kamar, tak lupa ia mengambilkan obat seraya memberikan segelas air pada ibunya.
Seperti biasa, Gema kembali ke kamarnya setelah memastikan ibunya sudah tertidur. Ia pun segera merebahkan tubuhnya ke kasur dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1