
Di rumah Alana, acara pertunangan Alka telah selesai, Meta dan keluarganya telah berpamitan untuk pulang. Para tamu undangan juga telah kembali ke rumah masing-masing. Rumahnya pun tampak rapi seperti semula karena telah dibersihkan oleh pelayan rumah mereka. Alka juga sudah terlihat masuk ke kamarnya untuk istirahat, begitu juga dengan Pak Alex dan Bu Anne pun telah masuk ke kamar mereka. Alana masih berada di meja makan untuk makan malam, karena ia tadi tidak sempat makan ataupun minum karena banyaknya tamu. Walaupun tengah malam, Alana masih menyempatkan makan karena dia tidak akan bisa tidur dalam keadaan lapar. Ia pun tak takut gemuk karena ia sering berolahraga. Di saat tengah menikmati makan malamnya, Alana termenung, ia masih memikirkan sosok gadis yang berada di dekat Gema tadi.
“Apakah benar dia pacarnya Gema?” gumam Alana pelan.
“Siapa pacarnya Gema, Nak?” Pak Alex mendengar suara Alana barusan.
“Ihh, Papa ngagetin Alana aja. Papa lagi ngapain disini?” tanya balik Alana berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Papa lapar juga sama kayak kamu, tadi Papa gak sempat makan saking banyaknya tamu,” kata Pak Alex seraya mengambil makanan yang dihidangkan di atas meja.
“Aku kira Papa tadi udah makan, Kak Alka dan Mama nggak turun sekalian?”
“Enggak, mereka udah kecapekan, malas mau turun katanya. O iya tadi kamu ngomongin pacarnya Gema?”
“Enggak, emang siapa yang ngomong gitu?” Alana mengelak.
“Jangan bohong deh Al, Papa denger sendiri kok tadi kamu ngomong gitu. Emang Gema punya pacar?” Pak Alex semakin mendesak Alana dan membuat Alana tidak bisa berkutik karena memang ayahnya itu susah sekali dibohongi.
__ADS_1
“Hehehe, iya deh. Alana ngaku emang tadi ngomongin pacarnya Gema. Papa tau kan cewek yang tadi sama Gema dan Pak Asep?” tanya Alana penasaran.
“Oh yang tadi itu anaknya Pak Asep, bukan pacarnya Gema sih kata Pak Asep tadi,” jawab Pak Alex seketika merubah raut wajah Alana yang dari tadi ditekuk kini menjadi sumringah kembali.
“Oooh, kirain pacarnya Gema, Pa. Habisnya nempel terus sama Gema,” kata Alana yang membuat Pak Alex mengernyit keheranan.
“Kamu lagi cemburu Al?” goda Pak Alex yang tengah melihat putrinya itu senyum-senyum sendiri.
“Ishhh, Papa apaan sih? Siapa juga yang lagi cemburu?” Alana berpura-pura lagi.
“Terus, kenapa kamu rasanya gak suka gitu melihat Gema dan gadis di sampingnya tadi?” Pak Alex semakin menggoda putrinya yang tengah merona wajahnya itu.
“Papa apa-apaan sih. Alana udah bilang kalau Alana gak cemburu.” Alana masih bersikukuh dengan pendiriannya.
“Nak, Papa bisa melihat dari sorot mata kamu. Mulut kamu bisa aja bohong sama Papa, tapi mata kamu gak bisa membohongi Papa. Rupanya anak Papa yang manis ini sedang jatuh cinta?” ujar Pak Alex.
“Iya deh, Alana nyerah kalau sedang ngomong sama Papa. Alana emang gak bisa bohong sama Papa. Alana juga masih bingung dengan perasaan Alana sendiri Pa. Awalnya Alana biasa saja melihat Gema, lama-lama Alana merasa nyaman, dan waktu dia sama cewek itu, hati Alana rasanya tidak terima. Apa memang Alana sedang jatuh cinta ya Pa?”
__ADS_1
Alana mulai menyadari apa yang ia rasakan saat ini, mungkin kemarin ia sedang bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Karena ia pun masih bingung dengan perasaannya saat itu. Ia pun masih trauma dengan masa lalunya yang membuatnya sakit hati.
“Nak, kalau memang kamu jatuh cinta sama Gema, Papa setuju-setuju aja. Papa mendukung kamu dengan siapapun, asal anak Papa bahagia. Dan Papa lihat, Gema anaknya baik dan sopan, dia tidak akan mungkin menyakiti kamu,” tutur Pak Alex pada Alana agar putrinya itu dapat membuka hati untuk laki-laki lain. Laki-laki yang tidak akan menoreh luka untuk kedua kalinya. Pak Alex yakin Gema juga memiliki perasaan yang sama pada putrinya itu.
“Alana masih takut Pa. Apa mungkin Gema juga memiliki perasaan yang sama dengan Alana?” Alana berucap dengan ragu.
“Sudahlah Nak, semua sudah digariskan untukmu. Kalau memang jodoh, kalian akan dipersatukan oleh takdir, kalaupun tidak berjodoh, serahkan semua pada takdir.”
“Baik Pa, terima kasih Papa sangat mengerti Alana,” ucap Alana sembari memeluk ayahnya.
Kemudian mereka menyelesaikan makan malam mereka dan kembali ke kamar masing-masing. Setelah mencuci muka, Alana segera merebahkan tubuhnya yang lelah itu di kasurnya. Perlahan ia mulai memejamkan matanya, tapi ada hal yang mengganggu pikirannya.
“Benar kata Papa, aku memang sedang jatuh cinta dengan Gema. Tapi aku masih takut, aku ragu dengan perasaanku sendiri. Ah sudahlah, aku jalani saja. Ku serahkan semuanya pada takdir, seperti kata Papa tadi,” gumam Alana seketika memejamkan matanya.
*Dua hari kemudian
Setelah acara pertunangan Alka yang berjalan dengan lancar, malam ini rombongan gathering pabrik Alana Jaya Tekstil akan berangkat untuk perjalanan ke Jogja. Dengan berbagai persiapan yang telah matang dengan dibantu oleh jasa travel Pak Asep, mereka akan melakukan perjalanan wisata itu menggunakan 10 bus dengan masing-masing 44 penumpang. Perjalanan akan dibagi dalam dua kloter karena memang sebagian karyawan harus tinggal di pabrik dan sebagian lagi melakukan wisata terlebih dahulu. Karena permintaan produk yang terus berjalan, pabrik harus tetap beroperasi agar tidak mengecewakan pelanggan. Kloter pertama diberangkatkan terlebih dahulu, baru seminggu lagi kloter kedua yang berangkat.
__ADS_1
Gema dan rekan-rekannya di travel telah berangkat untuk menjemput rombongan gathering yang akan berkumpul di area parkir Alana Jaya Tekstil. Setiap pegawai travel yang berjumlah 10 orang mendapatkan tugas untuk mendampingi satu bus. Pak Asep dan Gema mendampingi bus yang ditumpangi Pak Alex dan keluarganya, termasuk Alana. Sedangkan yang lain mendampingi para karyawan pabrik yang berada di 9 bus yang berbeda.
Alana dan keluarga telah sampai di area parkir pabrik untuk menunggu bus yang menjemput mereka. Para karyawan yang berangkat di hari itu juga sudah berkumpul dengan mengajak keluarga masing-masing. Tak lama kemudian bus pertama tiba dan memasuki area parkir pabrik, di belakangnya menyusul 9 bus lain yang siap mengantar rombongan itu berwisata ke kota Jogja. Anak-anak bersorak sorai melihat banyak bus yang tengah memasuki area parkir pabrik. Para orang tua pun tersenyum melihat raut wajah bahagia anak-anak mereka yang akan segera menikmati perjalanan wisata itu dengan naik bus. Satu per satu bus berhenti dan membuka pintunya masing-masing, para pendamping dari travel pun turun untuk mengabsen setiap pegawai dan memastikan semua penumpang mendapat tempat duduk yang aman dan nyaman.