Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Gema Pulang


__ADS_3

Dua hari kemudian Gema sudah tiba di Bandung, tepatnya pagi itu ia berada di halaman parkir pabrik Alana Jaya Tekstil untuk mengantarkan rombongan kembali sesuai tempat keberangkatan. Hari masih gelap karena ia tiba saat adzan subuh berkumandang. Setelah memastikan semua rombongan sudah turun dari bus, dan mereka telah membubarkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing. Gema kembali masuk ke dalam bus bersama tim untuk kembali ke kantor.


Sesampainya di kantor, ia segera mandi dan melaksanakan sholat subuh bersama tim lainnya. Pukul 5 pagi, ia duduk di meja kerjanya sambil menyalakan laptop untuk mengedit foto dan video perjalanan. Karena ia pulang cepat hari ini, jadi ia harus menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu, kalaupun belum selesai ia akan melanjutkannya di rumah. Saat fokus menatap layar ponselnya, ponselnya berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk.


“Sayang, apa kamu sudah sampai di Bandung?”


Alana


Gema segera membalas pesan itu, ia tak mau menelepon Alana karena hari masih terlalu pagi, dan dia pun mungkin baru bangun tidur.


“Iya, aku udah sampai di Bandung subuh tadi. Aku selesaikan pekerjaan aku dulu ya, nanti sore aku ke jemput kamu.”


Gema


“Baiklah, aku tunggu kamu. Miss you 🤗."


Alana


Gema tersenyum membaca kalimat terakhir yang ditulis Alana, Alana merindukannya. Begitupun sebaliknya, ia pun sangat merindukan gadis manisnya itu karena beberapa hari ini semesta tengah memisahkan jarak mereka untuk sejenak. Dan kini waktu akan mempertemukan mereka berdua kembali, walaupun harus menunggu masih beberapa jam lagi.


Gema kembali fokus pada pekerjaannya sampai ia tak menyadari semangkuk bubur ayam dan secangkir kopi telah dihidangkan di mejanya. Ia pun menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menikmati sarapan sederhana itu. Teman-temannya yang lain pun melakukan hal yang sama dengannya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Gema berpamitan terlebih dulu dan teman-temannya. Ia melajukan vespa kesayangannya menuju kantor Alana. Hari masih siang, ia ingin segera sampai rumah untuk merebahkan tubuhnya yang terasa remuk itu.


Sesampainya di depan rumah, ibunya tengah menata bunga-bunganya yang sedang bermekaran. Ia menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu dengan senang. Gema mencium tangan ibunya dan tak lupa oleh-oleh untuk ibunya ia berikan saat itu juga, ia membelikan gamis batik panjang dengan corak warna biru dan putih serta terdapat gambar merak di bagian depan dan belakangnya. Ibunya menerima dengan senang hati oleh-oleh dari anaknya itu.


“Bu maaf Gema hanya bisa belikan ini, oleh-oleh yang kemarin aja masih banyak. Jadi Gema nggak beli lagi.”


“Iya Nak, nggak apa-apa. Ibu nggak minta oleh-oleh terus kok. Uangnya kamu tabung aja. Iya udah kita makan siang dulu terus kamu istirahat pasti capek kan?” kata ibu Gema.

__ADS_1


“Iya Bu. Ibu tampak lebih segar aja?” Gema memperhatikan ibunya, ada perubahan pada wajah ibunya yang tampak lebih gemuk dan badannya sedikit berisi.


“Iya lah, Alana ngajak makan terus, gimana ibu nggak tambah gemuk.” Gema seketika melepaskan tawanya. Ia tak menyangka Alana memberikan perhatian lebih pada ibunya.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah, Gema meletakkan tas ranselnya di kamar dan ia segera kembali ke meja makan untuk menemani ibunya makan siang. Setelah itu, Gema mengistirahatkan tubuhnya sejenak sampai saatnya ia harus ke kantor Alana nanti. Lumayan satu atau dua jam saja sudah cukup untuk melenturkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama duduk di dalam bus.


Jam 5 sore, Gema sudah tiba di kantor Alana, ia minta ijin ke resepsionis untuk bertemu Alana. Sang resepsionis yang sudah mengetahui siapa Gema, langsung saja mempersilahkan Gema untuk masuk ke dalam ruangan Alana. Ia mengetuk pintu pelan hingga terdengar suara dari dalam.


“Masuk,” kata Alana yang masih fokus menatap layar monitornya.


“Selamat sore Tuan Putriku,” ucap Gema lembut hingga mengalihkan perhatian Alana untuk menoleh ke arahnya.


“Kamu...” Alana membelalakkan matanya. Betapa senangnya melihat sang kekasih telah kembali, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghamburkan pelukan untuk kekasihnya itu.


“Apa kabar sayang?” Gema mengusap pelan rambut Alana, ia masih sedikit canggung mengucapkan kata itu pada Alana.


“Kamu bilang apa barusan? Aku nggak dengar, coba ulangi sekali lagi,” goda Alana sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap mata Gema.


“Hahaha, akhirnya kamu mau mengucapkan kata itu sekali lagi. Kabar aku baik sekali, bahkan sangat baik saat kamu ada disini sekarang,” ucapnya hingga menciptakan rona merah di wajah Gema.


“Kamu tuh suka banget bikin aku malu tau, awas ya.” Gema mencubit pelan pipi Alana hingga Alana mencebikkan bibirnya seraya mengusap pipinya yang merah karena Gema.


“Habisnya aku tuh gemes liat wajah kamu kalau lagi malu-malu gitu. Hahaha.” Tawa mereka memecah suasana ruangan yang tadinya hening itu menjadi hangat.


“Terus aku masih mau dipeluk sampai kapan nih?” goda Gema kemudian karena dari tadi Alana tak melepaskan pelukannya.


Blussshh...


Kini wajah Alana yang merah merona bak kepiting rebus, seketika ia melepaskan pelukan itu dan kembali ke meja kerjanya. Gema cekikikan menahan tawanya saat Alana duduk sambil menutup mukanya.

__ADS_1


“Gantian aku yang gemes sama kamu. Hahaha,” ucapnya sambil mengacak-acak rambut Alana.


“Ihhh sebel deh. Udah ah, aku mau lanjutin ini dulu.” Alana kembali fokus pada pekerjaannya.


“Kamu belum selesai? Apa nggak bisa dilanjutkan besok, ini udah lebih dari jam kerja lho,” kata Gema sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


“Bentar doang kok.” Klik. Shut down. Layar monitor itupun seketika menjadi gelap. Ternyata Alana hanya menyimpan filenya tadi dan langsung mematikan komputernya.


“Kirain mau dikerjakan sampai besok,” gumam Gema pelan namun masih terdengar di telinga Alana.


“Iya udah deh, aku pulang besok aja. Kamu pulang duluan aja.”


Alana kembali ke tempat duduknya dan akan menyalakan komputernya lagi, namun tangannya ditahan oleh Gema. Mata mereka bertemu hingga menciptakan desiran itu kembali, rasa hangat menjalar di hati masing-masing. Hingga tak terasa wajah mereka semakin dekat, dan Alana merasakan hangatnya hembusan nafas Gema yang mengenai wajahnya. Ia seketika memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya yang tengah bergejolak.


Cup..


Gema mencium kening Alana pelan hingga Alana membuka matanya. Ia menatap kembali wajah Gema yang sudah bersemu merah itu perlahan menjauh.


“Alana, maaf aku tidak bermaksud...” ucapan Gema terhenti saat jari telunjuk Alana menempel pada bibirnya.


“Ssssst, aku nggak apa-apa sayang. Cuma cium kening doang, apa salahnya?” Alana mengusap pipi Gema yang masih merona itu.


“Baiklah, lain kali aku akan minta ijin kamu dulu.” Gema menahan malunya.


“Sekalian aja bikin surat ijin dan tanda tangan aku. Kamu tuh ada-ada aja deh. Yuk pulang sekarang, aku udah kangen sama ibu kamu.” Alana berjalan melewati Gema yang dari tadi masih mematung malu mengingat tindakannya barusan.


“Eh, eh. Tunggu dulu. Jangan tinggalin aku dong. Emang kamu bisa nyetir vespa?” Gema berjalan membuntuti Alana.


“Enggak bisa, hehehe.” Alana berbalik dan tersenyum semanis mungkin pada Gema hingga membuat Gema geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Kemudian mereka pulang bersama ke rumah Gema. Alana sudah tidak sabar sampai di rumah Gema untuk menceritakan kejadian dua hari yang lalu, ia sudah berjanji pada ibu Gema, mereka akan langsung bercerita saat Gema sudah kembali dari Jogja.


__ADS_2