Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Siapa?


__ADS_3

Jam 4 sore Alana bersiap pulang lebih awal dari kantor, ia segera mengambil tasnya kemudian keluar dari ruangannya. Ia menuju tempat parkir mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke rumah Gema. Sesuai rencananya, ia akan mengajak ibunya Gema jalan-jalan ke taman kota. Ia mampir dulu ke toko roti langganannya dulu untuk bekal ke taman kota. Setelah mengambil beberapa potong roti dan puding seperti biasanya, ia menuju kasir untuk membayar belanjaannya.


Tak lama kemudian ia sudah tiba di depan rumah Gema, tampak pintu rumahnya terbuka.


“Apa sedang ada tamu di rumah Gema?” batin Alana. Lalu ia turun dari mobilnya dan membawa kantong rotinya untuk masuk ke dalam rumah.


Di depan pintu, Alana mendengar suara ibu Gema sedang tertawa bersama seorang gadis.


Deg..


“Kelihatannya ibu sedang tertawa bersama seseorang, tapi siapa?” Alana bergumam sendiri. Kemudian ia mengetuk pintu yang setengah terbuka itu seraya mengucapkan salam.


Tok tok tok..


“Assalamu’alaikum,” ucap Alana sopan.


“Wa’alaikumsalam.” Terdengar ibu Gema menjawab salam dan melangkah ke arah pintu. “Eh, Nak Alana, silakan masuk,” ucapnya setelah melihat Alana yang datang. Alana mencium tangan ibu Gema dan ikut masuk ke dalam rumah.


“Ada siapa Bu?” tanya seorang gadis yang menghampiri ibu Gema dan Alana. Alana terkejut melihat gadis yang sedari tadi tertawa riang bersama ibu Gema ternyata masih kecil. Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak tadi.


“Ini nih Lit, kenalin ini mbak Alana, pacarnya mas Gema yang sering Ibu ceritain sama kamu,” kata ibu Gema memperkenalkan Alana pada Lita.


“Ihh meuni geulis pisan pacarnya mas Gema,” puji Lita yang terpesona dengan kecantikan Alana sampai-sampai ia memandangi Alana dari ujung kaki hingga ujung kepala.” Kenalin Teh, nama saya Lita, tetangganya mas Gema sama Ibu. Kalau nggak salah Lita pernah ketemu Teteh deh, tapi dimana ya?.” Lita mengingat-ingat seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Alana dan Alana seraya menyunggingkan senyumnya menyambut tangan Lita.

__ADS_1


“Saya Alana, Lita. Kamu juga cantik kok,” ucap Alana dengan bahasa Indonesia pada umumnya, karena ia tak terbiasa berbahasa Sunda walaupun ia orang Bandung asli. “Ngomong-ngomong kita pernah bertemu dimana ya?”


“Hehehe, Teteh mah bisa aja puji-puji Lita. Ayuk Teh duduk sini sambil diingat-ingat lagi. Hahaha,” ajak Lita seketika mendapat tatapan sinis dari ibu Gema.


“Ihh si Lita, udah ada yang lebih cantik dari Ibu, si Ibu dianggurin aja,” goda ibu Gema berpura-pura melirikkan matanya pada Lita.


“Eleuh eleuh, si Ibu mah. Bukan gitu atuh, ayuk Lita ajak duduk juga.”


Alana kemudian tertawa bersama melihat tingkah lucu Lita dan ibu Gema. Mereka pun tertawa bersama.


“Oh iya Bu, gimana kalau kita pergi jalan-jalan ke taman kota?” ajak Alana kemudian. “Ini Alana tadi bawa roti dan puding untuk bekalnya.”


“Horeee kita jalan-jalan lagi. Ayuk ayuk berangkat.” Lita dengan girangnya segera bangkit dari tempat duduknya.


“Kamu seneng banget sih Lit?” tanya Alana yang dari tadi heran dengan gadis mungil satu itu.


“Iya dong Teh, Lita tuh jarang diajak jalan-jalan sama Abah. Malah yang sering ngajak Lita Ibu sama mas Gema. Mereka berdua udah anggap aku seperti keluarga sendiri,” ujar Lita pada Alana.


“Emm gitu ya? Iya udah yuk kita jalan,” ajak Alana setelah melihat ibu Gema sudah keluar dari kamarnya.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil Alana dan menikmati udara sore yang terasa sejuk itu. Dalam perjalanan ibu Gema menceritakan kebersamaannya bersama Lita ketika Gema pergi ke luar kota. Alana memahami sekarang bahwa ibu Gema selalu kesepian setiap Gema pergi, ia bersyukur ada gadis kecil yang setia menemani ibu Gema setiap saat. Ia juga melihat rasa nyaman diantara mereka berdua, layaknya sepasang anak dan ibu kandungnya.


“Ibu, Lita ingat sekarang dimana Lita ketemu sama Teh Alana,” kata Lita tiba-tiba setelah sampai di tempat parkir taman kota.

__ADS_1


“Dimana emangnya Lit?” tanya Alana.


“Iya disini Teh. Waktu itu Teteh lagi naik sepeda ketemu sama aku, Ibu sama mas Gema. Iya kan Bu?”


“Emang iya, Ibu sih udah tau dari tadi, tapi Ibu diam aja biar kamu ingat-ingat sendiri.” Ibunya Gema senang menggoda gadis kecil itu dan mereka tertawa bersama kembali hingga orang-orang yang ada di taman itu melihat ke arah mereka bertiga.


Mereka pun masuk area taman dan langsung duduk-duduk di bangku kayu di bawah pohon yang tidak terlalu rindang agar bisa menikmati matahari terbenam sore itu. Mereka menikmati roti dan puding yang dibawakan Alana tadi. Sesekali mereka bercanda hingga tertawa melihat tingkah bocah yang diajaknya ke taman itu. Tampak seperti sebuah keluarga yang akur dan nyaman satu sama lain. Alana pun langsung akrab meskipun baru mengenalnya sehari ini.


Tak terasa gelap akan tiba, Alana mengajak mereka berdua kembali ke rumah.Dalam perjalanan, Alana menawarkan makanan untuk dibawa pulang. Mereka akhirnya mampir ke sebuah restoran Chinesse food dulu. Alana memesan beberapa bungkus nasi goreng, bakmi, capjay goreng dan fuyung hai. Ibu Gema heran dengan makanan yang dibeli Alana karena terlalu banyak untuk mereka bertiga.


“Nak, kamu beli banyak sekali makanannya. Apa kita bisa menghabiskan makanan sebanyak itu?” tanya ibu Gema seraya membantu Alana membawa berkantong-kantong makanan.


“Kita akan menghabiskan semuanya nanti,” ucap Alana enteng. Ia masih merahasiakan akan ada tamu nanti di rumah ibu Gema. Setelah sampai rumah ia akan mengatakan semuanya.


Tak lama kemudian mereka bertiga telah sampai di rumah ibu Gema. Mereka membawa kantong-kantong makanan tadi. Alana lalu menatanya di meja makan sambil menunggu ibu Gema membersihkan diri dan Lita pamit pulang dulu untuk mandi dan ganti baju. Setelah itu ia kembali lagi karena Alana minta Lita untuk makan malam bersama mereka.


“Nak apa makanan ini nggak terlalu banyak untuk kita bertiga?” tanya ibu Gema yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Tidak Bu, karena Ibu nanti akan ada tamu agung. Jadi Alana beli makanan ini untuk menyambut mereka nanti,” kata Alana yang membuat ibu Gema terkejut seketika.


“Nak,ada siapa yang datang kesini? Orang tua kamu? Tapi Gema kan sedang tidak ada di rumah.” Ibu Gema jadi gugup dan gelisah, siapa yang akan bertamu ke rumahnya? Tidak mungkin orang tua Alana.


“Bukan orang tua Alana yang datang kesini. Nanti Ibu juga akan tau sendiri. Alana numpang mandi disini ya Bu, badan Alana rasanya lengket semua.” Alana berlalu meninggalkan ibu Gema yang tengah termenung. Ia membawa baju ganti di mobilnya tadi, karena memang sudah ia siapkan sebelumnya agar ia tidak mandi lagi setelah pulang dari rumah Gema.

__ADS_1


“Siapa yang akan datang kesini ya?” gumam ibu Gema seraya merapikan meja di ruang tamu. Ia masih mengira-ngira sendiri siapa yang akan bertamu ke rumahnya. “Gema masih di Jogja, apa mungkin dia pulang mendadak?” Ibu Gema masih bertanya-tanya dalam hatinya.


__ADS_2