
Seusai makan malam rombongan pun akan berwisata belanja di Malioboro. Gema dan tim travel hanya mendampingi dari kejauhan, sesekali mereka juga ikut belanja oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Saat itu pun Gema menyempatkan diri untuk memberi kabar pada ibunya. Sebelum berangkat ke Jogja, Gema meminta tolong pada Lita, tetangganya untuk menemani ibunya di rumah. Lita pun dengan riang menerima permintaan tolong Gema.
Ia merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, dan segera menekan tombol-tombol yang tertera di layar ponselnya. Terdengar nada tunggu dan akhirnya nada itu berhenti ketika terdengar suara ibunya dari seberang.
“Hallo Nak,” sapa ibunya yang berada di kota yang berbeda saat ini.
“Hallo Bu, ibu baik-baik saja disana?” tanya Gema yang tengah merindukan sosok ibunya itu.
“Ibu baik Nak, ini lagi makan malam sama Lita. Kamu gimana? Perjalanannya lancar?”
“Alhamdulillah lancar Bu. Sekarang masih di Malioboro, nanti malam baru ke hotel,” ujar Gema.
“Iya sudah, kamu hati-hati disana. Jangan lupa mampir ke ayahmu ya,” ibu Gema selalu mengingatkan setiap Gema ke Jogja, ia harus menyempatkan waktu untuk mengunjungi makam ayahnya.
“Iya Bu, besok habis subuh Gema minta ijin Pak Asep seperti biasanya. Ibu nggak usah khawatir, Gema tetap memenuhi janji Gema pada ayah. Iya sudah Bu, Gema kembali ke rombongan ya, nanti Gema belikan oleh-oleh buat semua ibu dan Lita,” Gema mengakhiri panggilannya setelah ibunya mengiyakan.
Ibu Gema merasa bangga pada anaknya, walaupun ia tak memiliki ayah, tapi ia bisa menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Kehidupan yang semakin keras bisa mereka lalui berdua di kota yang 3 tahun lalu begitu asing di mata mereka. Lama kelamaan mereka sudah terbiasa dan mudah akrab dengan orang-orang sekitarnya yang berbeda bahasa maupun adat istiadatnya.
__ADS_1
“Bu, Mas Gema udah di Jogja ya?” tanya Lita setelah mendengar percakapan Gema dan ibunya.
“Iya Lita, sekarang Mas Gema udah di Jogja, lagi di Malioboro katanya mau beli oleh-oleh buat kita,” kata ibu Gema yang membuat Lita girang, ia sudah menganggap Gema kakaknya sendiri, karena Lita memang anak tunggal, ia pun senang ketika berkesempatan menemani ibu Gema saat sendirian. Ia merasa memiliki sosok seorang ibu yang telah lama ia rindukan.
Di sepanjang Malioboro, Alana berbelanja cendera mata dan barang kerajinan yang akan dibawa ke Bandung. Sekilas ia masuk ke dalam sebuah toko yang terlihat sepi pengunjung, begitu ia masuk ke dalam, ia melihat sepasang baju batik. Sejenak ia mengagumi motif batik dengan corak warna biru dan hitam yang menambah kesan gagah saat dipakai pria dan terkesan elegan ketika dipakai wanita. Ia ingin memakai batik itu saat foto keluarga setelah Alka menikah dengan Meta nanti. Tapi ada 3 pasang yang dipajang didisplay toko itu. Alana hanya ingin membeli 2 pasang untuk ayah, ibunya, Alka dan Meta karena ukurannya terlihat sesuai dan satu stel baju wanita untuk dirinya. Ia menawar pada penjaga toko karena tidak ingin membeli sepasang.
“Mbak, aku mau baju yang ini dong 2 pasang sama yang baju cewek aja,” kata Alana pada penjaga toko.
“Maaf Mbak, ini tidak dijual terpisah Mbak, kalo Mbak mau beli berarti 3 pasang baju,” kata penjaga toko itu menjelaskan.
“Lah, keluarga saya hanya 5 orang mbak, masa gak boleh beli ini terpisah,” Alana bersikukuh dengan pendiriannya. Tampak penjaga toko itu berusaha meyakinkan Alana lagi.
“Ada yang motifnya sama seperti ini nggak?” tanya balik Alana.
“Nggak ada Mbak, yang motif seperti itu hanya ada 3 itu saja, karena barangnya limited edition,”
“Kalau saya beli 3 pasang yang satu gak ada yang pakai Mbak, sayang dong,”
__ADS_1
“Kan bisa buat pacarnya, calon suaminya, atau buat suaminya Mbak,” ucap penjaga toko itu seraya tersenyum.
“Saya aja belum punya pacar Mbak, apalagi suami. Hadehh, cepetan deh pokoknya saya mau satu aja,” Alana masih ngotot ingin membeli satu buah baju dan 2 pasang.
“Ya kan bisa disimpan Mbak, barangkali habis dari Jogja ketemu calon pacar, nanti bajunya bisa dipakai prewedding Mbak,” goda pegawai toko itu agar Alana mau membeli 3 pasang baju. Namanya pegawai toko, mau tak mau harus merayu pelanggan agar membeli barangnya. Alana pun sejenak terpengaruh, ia berpikir ulang untuk membeli baju itu atau tidak.
“Baiklah, aku beli 3 pasang deh Mbak. Siapa tau do’a orang Jogja terkabul. Hehehe,” ujar Alana sambil tersenyum setelah ucapannya diaminkan sang penjaga toko. Lalu ia menuju kasir untuk membayar bajunya. “Berapa semuanya mbak?” tanya Alana seraya mengeluarkan kartu ATMnya.
“Total semuanya jadi Rp 4.500.000 Mbak, mau bayar tunai atau pakai kartu debit?”
“Oke, aku pakai kartu debit aja mbak.” Alana menyerahkan kartu ATMnya dan ia menerima struk pembayaran dari kasir lalu ia keluar dari toko itu.
Tak terasa 3 jam di Malioboro berlalu, mereka melakukan perjalanan kembali menuju hotel untuk beristirahat. Setelah tiba di hotel yang telah dibooking jauh-jauh hari, mereka mendapatkan kamar masing-masing. Pak Alex dan Bu Anne mendapat satu kamar, Alka sendiri, sedangkan Alana satu kamar dengan Meta. Pemilik Alana Jaya Tekstil itu tidak mau dipesankan kamar yang mewah, mereka menginginkan fasilitas yang sama dengan karyawannya. Tidak ada yang membedakan status mereka atasan ataupun pegawai dalam perjalanan itu. Mereka hanya ingin menikmati kebersamaan menjadi satu keluarga besar.
Gema dan tim pun telah berada di kamar masing-masing. Laki-laki mendapat satu kamar berisi 5 orang dan 5 orang perempuan lainnya dibagi dalam 2 kamar. Gema telah membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di kasur. Setelah melihat Pak Asep keluar dari kamar mandi dan bergantian dengan yang lain, ia menghampirinya untuk meminta ijin ke makam ayahnya besok pagi.
“Pak Asep, besok subuh saya mau minta ijin ke makam ayah saya sebentar Pak,” kata Gema yang dibalas senyum oleh Pak Asep.
__ADS_1
“Iya Gema, tanpa minta ijin pun, kamu bisa langsung pergi kok. Itu sudah kewajiban kamu mengunjungi ayahmu, karena tidak setiap waktu kamu bisa kesana sejak pindah ke Bandung.” Pak Asep selalu memahami Gema, setiap kali mereka membawa rombongan ke Jogja, Gema selalu meminta ijin untuk ke makam ayahnya.
“Baik Pak, terima kasih. Saya permisi keluar dulu Pak, mau cari angin. Di Jogja panas sekali Pak, gak kayak di Bandung.” Gema keluar kamar setelah Pak Asep mengiyakan. Gema pun berjalan-jalan di area taman hotel yang terlihat asri dan sejuk ditambah lagi lampu-lampu yang menerangi area sekitar taman itu. Gema duduk di kursi taman sembari memainkan ponselnya. Sesaat terdapat bayangan hitam tengah mendekat ke arahnya.