Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Saat Alana selesai mandi dan berganti baju, Alana membuka ponselnya. Ia mengirim pesan singkat pada Gema.


“Sayang, aku ada di rumah Ibu sekarang. Kabari aku, nanti aku hubungi lagi kalau kamu sudah di hotel.”


Alana


Kemudian ia menghampiri Ibu Gema yang sedang menonton televisi dengan Lita. Alana duduk-duduk bersama mereka sambil membawa teh hangat. Tak lama mereka bercengkrama, terdengar suara ketukan pintu rumah Gema. Ibu Gema sedikit gemetar, ia hanya bisa menerka-nerka siapa yang datang ke rumahnya.


“Ibu, biar Alana saja yang membukakan pintunya,” kata Alana seraya bangkit dari duduknya dan segera berjalan ke depan.


Tok tok tok..


“Assalamu’alaikum.” Alana mendengar suara orang mengucapkan salam dari luar. Kemudian ia membukakan pintu, ia sudah tahu siapa yang akan bertamu malam itu.


“Wa’alaikumsalam. Bu Amalia, mas Bagus dan mbak Ayu. Mari silakan masuk,” ucap Alana sopan dan mempersilakan mereka bertiga masuk ke dalam rumah Gema.


“Iya mbak Alana, terima kasih,” jawab Bu Amalia. “Apa Bu Nani ada di rumah?” tanyanya sambil berjalan ke arah sofa dan melihat-lihat sekitar ruangan yang tampak sepi itu, tetapi terdengar suara televisi yang tengah menyala dari suatu ruangan.


“Ibu ada, sebentar saya panggilkan ke dalam. Silakan duduk dulu Bu.” Bu Amalia mengiyakan dan Alana masuk ke ruang tengah untuk memanggilkan Ibu Gema.


“Tamu yang Alana maksud tadi sudah datang Bu, mari Alana antarkan ke depan. Mereka sedang menunggu Ibu,” kata Alana santai namun ia melihat raut wajah ibu Gema yang terlihat pucat.


“Memangnya ada siapa sih Nak?” ibu Gema bertanya dengan cemas.


“Ibu pasti tahu mereka. Lita, Teteh bisa minta tolong dibuatkan teh hangat untuk 3 orang tamu Ibu di depan?” pinta Alana pada Lita yang tengah asyik nonton film kartun kesukaannya.

__ADS_1


“Oh iya Teh, Lita buatkan dulu, nanti Lita antar ke depan,” ucap Lita seraya bangkit dan segera menuju dapur.


Dengan ditemani Alana, ibu Gema berjalan ke ruang tamu untuk menemui mereka yang datang ke rumahnya. Sesampainya di ruang tamu, ibu Gema tercengang melihat wanita paruh baya yang tengah duduk seraya memandang lukisan yang ada di ruangan itu. Masih teringat jelas, siapa sosok wanita yang tengah bertamu ke rumahnya malam ini. Ya, dia adalah istri dari almarhum pemilik pabrik tempat suaminya bekerja dulu.


“Bu Amalia.” Suara ibu Gema terdengar parau seperti ada sesuatu yang tercekat pada tenggorokannya.


“Bu Nani,” kata Bu Amalia seraya bangkit berdiri menghampiri ibu Gema yang sedang terkejut melihat kedatangannya. “Apa kabar Bu Nani?” ucapnya seraya memeluk wanita yang bertahun-tahun ia cari dan kini ia telah menemukannya. Alana, Bagus dan Ayu merasa terharu melihat pemandangan yang ada di depan mereka.


“Bu Amalia, kabar saya baik. Ibu sendiri apa kabar? Anak-anak Ibu sudah dewasa?” kata ibu Gema seraya menitikkan air matanya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Bu Amalia lagi. Bagus dan Ayu berdiri dan mencium tangan ibu Gema.


“Saya baik Bu. Iya ini anak-anak saya. Maaf Bu Nani, saya mendadak datang ke rumah Bu Nani tanpa minta ijin dulu.”


“Tidak apa-apa Bu. Tapi bagaimana Ibu bisa tahu kalau saya ada disini?” tanya ibu Gema sambil duduk bersama Bu Amalia. Dan Lita keluar dari dapur dengan membawa 3 cangkir teh hangat untuk mereka, kemudian ia berpamitan kembali ke ruang tengah. Lalu Alana mempersilakan mereka untuk minum sambil melanjutkan cerita Bu Amalia.


“Maafkan saya Bu Amalia, setelah kematian suami saya, saya memang melahirkan bayi laki-laki. Saat itu saya dan anak saya masih tinggal di Jogja dan tidak pernah pindah kemana-mana. Kami hidup berdua tanpa siapapun yang membantu kami. Memang waktu itu saya berpesan pada semua orang kalau saya dan anak saya sudah tidak tinggal di Jogja karena saya tidak ingin ada orang yang mencari saya dan anak saya. Alasannya karena saya tidak ingin orang merasa kasihan terhadap saya, jadi saya memutuskan untuk menutup diri sejak saat itu. 3 tahun yang lalu, kami baru pindah ke Bandung karena anak saya mendapatkan pekerjaan disini. Dan kami memulai hidup baru kembali disini,” kata ibu Gema. “O iya Bu, bagaimana Ibu tahu alamat saya disini?”


“Pabrik kami sudah buka kembali Bu, sekarang saya dan anak-anak berusaha menjalankan pabrik itu lagi, dan kami bekerja sama dengan pabrik mbak Alana. Tadi siang kami sempat membahas kejadian beberapa tahun yang lalu, dan saya menceritakan Bu Nani dan anak Ibu, Gema. Dan ternyata anak Ibu adalah pacarnya mbak Alana. Bagai pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya saya diberi tahu alamat Ibu oleh mbak Alana dan dia yang mengundang kami kesini,” jelas Bu Amalia.


“Jadi begitu ceritanya, tadi memang saya sedikit bingung, Nak Alana membeli banyak sekali makanan, katanya akan ada tamu. Ternyata tamunya Bu Amalia dan anak-anak.”


“ O iya, bagaimana kalau kita semua makan malam bersama dulu Bu?” tanya Alana pada ibu Gema.


Kemudian mereka semua melanjutkan obrolan di ruang makan sambil menikmati hidangan di rumah sederhana itu. Bu Amalia belum sempat menjelaskan alasannya ke rumah Bu Nani, saat ini yang terpenting ia sudah tahu alamat Bu Nani. Ia ingin menunggu Gema pulang dari Jogja karena ini juga menyangkut penyerahan hak waris Pak Arya, yaitu Gema.


Satu jam kemudian, Bu Amalia dan anak-anaknya pamit untuk kembali ke hotel namun ia mengatakan akan datang dua hari lagi sebelum kembali ke Sleman. Ibu Gema menyambut hangat keinginan Bu Amalia, bagaimana pun mereka masih sama-sama saling merindukan. Alana dan ibu Gema mengantarkan mereka hingga depan rumah. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah kembali dan merapikan bekas makan malam bersama tadi.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Alana memastikan ibu Gema minum obat teratur dan segera beristirahat. Ia meminta Lita untuk tidur di rumah itu untuk menemani ibu Gema karena besok ia belum tahu akan berkunjung kembali atau tidak karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.


Alana tiba di rumah pukul 9 malam, ia langsung masuk ke dalam kamarnya karena rumahnya sudah gelap yang artinya kakak dan orang tuanya sudah pergi tidur. Setelah mencuci muka, ia duduk di balkon kamarnya sambil memainkan ponselnya. Tak ada balasan pesan dari Gema, mungkin ia baru tiba di hotel. Ia meletakkan ponselnya di saku piyamanya, dan menikmati angin malam yang bergerak membelai wajah dan rambutnya untuk beberapa saat.


Ponselnya berdering saat ia akan kembali ke dalam kamar, kemudian ia melihat Gema menelponnya. Ia langsung mengembangkan senyumnya, tak sabar ingin segera mendengar suara kekasihnya itu, ia segera mengusap ikon warna hijau pada layar ponselnya.


“Hallo sayang,” sapa Alana dengan riangnya.


“Hai sayang, maaf aku baru tiba di hotel dan saat baca pesan kamu aku langsung telepon kamu. Apa kamu masih di rumah Ibu?” tanya Gema dari seberang.


“Iya nggak apa-apa kok. Aku baru aja sampai rumah. Dan sebelum pulang tadi, aku udah pastikan ibu kamu minum obat dan istirahat.”


“Makasih ya kamu sudah perhatian sama ibu aku. O iya, kamu cepat istirahat pasti lelah seharian,” kata Gema.


“Sama-sama sayang. Udah kewajiban aku juga memperhatikan ibu kamu. Setelah ini aku istirahat, dan sebenarnya ada hal yang mau aku omongin sama kamu,” ucap Alana. Ia ingin memberitahukan pertemuan ibunya tadi dengan Bu Amalia, namun ia urungkan mengingat Gema masih di luar kota.


“Kamu mau ngomong apa?” kata Gema santai.


“Emm, aku ngomongnya kalau kamu udah pulang aja deh. Iya udah, kamu cepetan mandi sana, bau acemnya nyampek sini lho,” goda Alana.


“Hahaha, masa sih? Iya sudah, tunggu aku pulang ya, besok malam perjalanan kembali ke Bandung, doakan lancar.”


“Pasti, semoga besok lancar dan kamu segera kembali ke Bandung. Bye sayang.” Alana langsung menutup teleponnya.


“Kebiasaan deh, belum sempat dijawab udah main tutup aja teleponnya,“ gumam Gema sambil menggelengkan kepalanya. “Hal apa yang ingin dia bicarakan sama aku, kelihatannya serius. Udahlah, dibahas nanti kalau aku sudah pulang aja.”

__ADS_1


__ADS_2