
Dalam perjalanan, Gema hanya terdiam membisu. Tak ada percakapan di antara mereka berdua. Alana yang memahami suasana hati Gema yang sedang tidak baik itu, ia hanya memilih untuk tidak melontarkan pertanyaan apapun. Gema mungkin masih terkejut dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Bukannya dia merasa memiliki banyak uang dan tak mau menerimanya, ia hanya merasa tidak enak pada mendiang ayahnya yang telah bersusah payah mengumpulkan uang itu tetapi tak sempat menikmati hasilnya.
Pikirannya jadi kemana-mana, ia bingung mau dipakai untuk apa uang itu, rumah sudah punya, mobil pun juga sudah punya meskipun peninggalan sang ayah, tabungan juga sudah ada karena ia selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung. Ia dan ibunya hidup dengan sederhana, tapi mereka mampu membeli apapun yang diinginkan, namun mereka lebih menghargai uang daripada membuang-buang uang yang tak ada gunanya.
Sesaat mobilnya berhenti ketika ada seekor kucing yang tiba-tiba melintas di tengah jalan hingga Gema harus menginjak rem mendadak. Untungnya mereka tidak sampai menabrak kucing itu, hanya Alana sedikit terkejut.
“Sayang ada apa?” tanya Alana yang dari tadi memperhatikan Gema tengah melamun.
“Tadi ada seekor kucing yang mau nyebrang, maaf Alana. Kamu tidak apa-apa kan?” Gema merasa khawatir, ia takut jika Alana terluka atau terbentur sesuatu pada mobilnya.
“Aku nggak apa-apa kok, cuma kaget aja, habisnya aku lihat kamu melamun terus dari tadi. Kirain kamu nabrak orang.” Perkataan Alana membuat Gema mengusap kasar wajahnya, ia tak menyadari bahwa sedari tadi ia hanya diam dan tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Sayang maafkan aku, aku hanya kurang fokus aja hari ini,” ucap Gema memelas dan Alana mengerti keadaannya saat ini.
“Iya nggak apa-apa. Ayo, kita nggak akan sampai kalau diam disini terus, lagian kucingnya juga udah nyebrang tuh,” kata Alana sambil menunjuk seekor kucing yang dengan santainya telah menyeberangi jalan itu.
“Iya-iya. Maaf.” Gema kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang agar Alana segera tiba di rumah. Ia juga melihat raut wajah yang sayu, mungkin Alana sedikit lelah hari ini.
10 menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Alana, tampak lampu di rumahnya sudah dimatikan tandanya orang rumahnya sudah pergi tidur. Gema turun dan membukakan pintu untuk Alana. Kemudian ia mengantarkan Alana hingga depan pintu, Gema berpamitan pulang setelah Alana ada di dalam rumahnya.
__ADS_1
Baru ia berjalan beberapa langkah, Alana keluar dan menahan tangannya. Tatapan mereka saling terkunci, sedetik kemudian Alana menepiskan senyumnya dan berkata,”Sayang, kamu jangan banyak pikiran. Aku tahu hari ini perasaan kamu sedang tidak baik semenjak Bu Amalia datang ke rumah tadi. Aku juga tahu kalau kamu tidak enak menerima uang itu, tapi itu sudah menjadi wasiat dari mendiang suaminya yang harus ia lakukan. Itu sudah menjadi hak kamu dan Ibu. Terimalah dengan senang hati, mungkin akan berguna suatu saat nanti.”
Alana menggengam erat tangan Gema, ia menatap sendu pada manik mata Gema. Ia melihat pandangan lain dari Gema yang tak seperti biasanya. Gema masih tak bergeming juga saat Alana memegang pipinya, dan plak...
Alana memukul pelan wajah Gema hingga membuat Gema tersadar dari lamunannya.
“Alana, kamu kenapa pukul pipi aku?” Gema memegangi pipinya yang sebenarnya tak sakit.
“Kamu tuh nyebelin banget, aku ngomong panjang lebar dan kamu hanya bengong terus dari tadi. Kamu dengerin aku nggak sih?” Alana mengerucutkan bibirnya, ia kesal pada Gema yang dari tadi tak mendengarkan ucapannya sama sekali.
“Aku denger kok. Aku nggak nyangka aja pemikiran kamu begitu dewasa seperti itu. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Tapi kamu memberiku pengertian, sebenarnya aku memang tidak enak menerima uang itu. Itu adalah jerih payah ayah dulu, harusnya dia yang menikmatinya bukan aku atau Ibu,” ujar Gema seraya melepaskan genggamannya.
“Kamu benar Alana, apa yang kamu katakan semua itu benar. Aku egois, aku masih mementingkan diriku sendiri, aku berpikir seolah-olah aku tak membutuhkannya. Walaupun begitu, aku harus menerimanya. Aku akan memberikannya pada ibu, tapi aku takut jika ibu menolak,” kata Gema seraya melepaskan pelukannya.
“Gema, Ibu kemarin sempat ngomong ke aku kalau dia memang menolaknya. Jika kalian sama-sama merasa tidak enak, gini aja. Kamu tanam kembali saham itu di pabrik Bu Amalia, gimana?”
“Kamu betul juga ya? Daripada aku bingung mau diapakan uang sebanyak itu. Besok kita hubungi Bu Amalia kalau begitu.” Gema merasa lega, Alana lebih cerdas dari yang ia bayangkan. Kekasihnya itu mampu memberi solusi untuknya.
“Baiklah, sudah kamu pulang sana. Aku mau cepet-cepet tidur,” kata Alana seraya tersenyum. Ia lega Gema mau menerima pendapatnya.
__ADS_1
“Kamu ngusir aku secara halus nih?” Gema berkata sambil memanyunkan bibirnya. Dan Alana langsung mencubit pipi Gema saking gemasnya.
“Iya, emang aku lagi ngusir kamu. Memangnya kamu nggak mau pulang dan nginep disini?” goda Alana.
“Iya enggak dong. Belum waktunya. Hahaha. Iya udah aku pulang dulu ya. Makasih sayang, hari ini kamu udah bikin perasaanku kembali seperti semula,” ucapnya sambil memeluk Alana kembali.
“Iya, sama-sama. Makasih juga kamu udah mengantar aku pulang. Nanti sampai rumah langsung istirahat. Kamu besok kerja kan?”
“Iya, nanti aku kabari kalau udah di rumah. Kamu juga istirahat. Selamat malam Tuan Putriku.” Gema melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam mobilnya. Alana masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
Dalam perjalanan, Gema memikirkan kata demi kata yang Alana ucapkan tadi.
(Kenapa aku tidak kepikiran untuk menanam saham itu lagi, Alana memang cerdas. Aku bangga sama kamu sayang, batin Gema).
Sesampainya di rumah, ibunya telah tertidur, mungkin terlalu lama menunggu Gema mengantarkan Alana pulang. Gema memperhatikan wajah ibunya yang lebih segar dari biasanya. Ia melihat kedamaian saat menatap wajah itu, seorang wanita yang tak pernah meminta, mengeluh bahkan menerima apapun yang menjadi takdirnya.
“Aku akan membahagiakan ibu sampai kapanpun,” ucapnya seraya mencium kening ibunya. Ia menarik selimut untuk menutup tubuh ibunya yang tengah tertidur pulas itu. Kemudian ia kembali ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya. Tak lupa ia memberi kabar terlebih dahulu pada Alana bahwa ia sudah sampai di rumah.
Setelah mengucapkan selamat tidur pada kekasihnya itu, ia perlahan memejamkan matanya dan pergi berkelana ke alam mimpinya.
__ADS_1