
Alana menyambut ayahnya yang baru saja tiba di kantor, ia terkejut melihat barang-barang yang begitu banyak sekali dibawa oleh satpam pabrik. Ia berpikir untuk apa semua itu dibeli oleh ayahnya, belum sempat bertanya pada ayahnya, sang kakak tiba-tiba muncul setelah satpam pabrik keluar dari ruangannya.
“Papa sudah datang?” tanya Alka seraya menyelonong masuk ke dalam ruangan Alana.
“Iya Nak. Papa sangat menantikan hari ini, jadi Papa langsung selesaikan urusan Papa tadi agar tidak terlambat meeting hari ini.” Pak Alex terlihat bersemangat sekali dari hari-hari biasanya. “O iya apa sudah ada kabar dari mereka tiba jam berapa?”
“Barusan Bu Amalia kirim pesan ke Alana kalau mereka sudah tiba pagi tadi di hotel, mungkin dua jam lagi mereka kesini Pa.” Alana yang dari tadi diam saja akhirnya bersuara, karena Alana yang memegang kerjasama ini, bukan Alka. “Pa, barang-barang itu semua untuk apa? Tumben Papa beli banyak sekali.”
“Iya Nak, Papa sudah lama tidak bertemu dengan Bu Amalia, istri almarhum Pak Burhan dan anak-anak beliau, pemilik pabrik benang dari Sleman itu, makanya Papa ingin memberi oleh-oleh khas Bandung dan sedikit kenang-kenangan untuk mereka.”
“Jadi kita sudah pernah kerjasama dengan mereka sebelumnya?” tanya Alka yang memang tidak tahu bahwa ayahnya telah lama bekerjasama dengan pabrik benang dari Sleman itu.
Pak Alex kemudian duduk di sofa di dalam ruangan Alana, dua anaknya itu penasaran ingin mendengarkan cerita ayah mereka. Karena sikap ayahnya tidak seperti biasanya, hingga membuat mereka heran dibuatnya.
__ADS_1
“Iya Alka, 25 tahun yang lalu saat ayah membangun pabrik kita, ayah memang sudah kenal lama dengan Pak Burhan dan Bu Amalia, mereka menawarkan bahan baku benang dari Sleman, kualitasnya sangat baik dan berbeda dari bahan baku lainnya, hingga ayah bersedia menjalin kerjasama itu. Dalam tiga tahun lamanya kerjasama, pendapatan pabrik kita meningkat pesat dan kita bisa mengirim tekstil hingga luar Jawa. Suatu hari, Pak Burhan dan Pak Arya, manajernya datang ke Bandung untuk menawarkan benang lain dengan kualitas lebih bagus dari sebelumnya. Mereka membawakan contoh benang itu untuk ditunjukkan pada Papa, dan Papa sangat tertarik waktu itu. Akhirnya kami perpanjang kerjasama lagi, namun kecelakaan menimpa mereka berdua saat perjalanan pulang ke Jogja. Pak Burhan meninggal di tempat, sedangkan Pak Arya masih bisa bertahan beberapa minggu meskipun akhirnya ia juga meninggal. Papa sangat berduka waktu itu, mereka sudah seperti sahabat Papa sendiri. Papa langsung pergi ke Jogja, dan akhirnya Bu Amalia memutuskan bahwa pabriknya akan ditutup karena ia tidak bisa mengelola pabrik itu, dan pada saat itu anak mereka masih kecil-kecil jadi belum ada penerus yang bisa menggantikan Pak Burhan. Papa sedih saat itu, pendapatan pabrik menurun drastis sejak kejadian itu. Hingga Papa mulai bangkit mencari pabrik benang dengan kualitas yang sama, akhirnya pabrik kita mulai stabil kembali walaupun perlu waktu 5 tahun lamanya,” ujar Pak Alex panjang lebar mengingat kejadian 25 tahun yang lalu itu. Alana sampai berkaca-kaca mendengarnya, Alka pun ikut tertegun.
“Jadi sekarang Bu Amalia dan anak-anaknya mulai membuka pabrik itu lagi ya Pa?” tanya Alana.
“Iya Nak, dan waktu Papa mendapat kabar bahwa pabrik mereka sudah buka kembali. Papa begitu antusias mendengarnya, Papa ingin menjalin kerjasama lagi dengan mereka. Semoga ini jalan agar pabrik mereka bisa kembali seperti semula,” kata Pak Alex seraya menyunggingkan senyumnya.
“Iya Pa. Jadi kerjasama kedua pabrik akan menguntungkan satu sama lain,” kata Alka menambahkan.
“Apa kabar Bu Amalia? Ini pasti mas Bagus dan mbak Ayu ya, wah sudah dewasa sekarang?” tanya Pak Alex yang masih ingat nama anak-anak almarhum temannya itu. Mereka saling memperkenalkan diri, begitu juga dengan Alka dan Alana yang diperkenalkan oleh Pak Alex.
“Alhamdulillah kabar kami semua baik Pak Alex, bahkan lebih dari kabar baik karena hari ini kita bisa bertemu lagi. Iya mereka Bagus dan Ayu yang sudah dewasa, dulu waktu ketemu Pak Alex mereka masih sangat kecil. Putra putri Pak Alex juga sudah dewasa, cantik dan tampan,” ucap Bu Amalia. “Terima kasih Pak Alex sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk menawarkan kerjasama kembali,” kata Bu Amalia kemudian seraya menyunggingkan senyumnya. Wanita yang berusia 50 tahun itu terlihat masih cantik dan sehat. Terlihat putranya yang berusia 30 tahun dan putrinya 25 tahun setia mendampingi ibunya, mereka juga terlihat ramah dan sopan.
“Iya Bu Amalia, saya yang sangat berterima kasih atas hari ini. Berpuluh-puluh tahun saya menantikan adanya hari ini. Akhirnya Bu Amalia dengan semangat membuka kembali pabrik Ibu.”
__ADS_1
“Iya Pak Alex, saya berusaha dalam dua tahun ini memulihkan kondisi pabrik seperti sebelumnya. Anak-anak saya berjuang keras untuk sekolah agar bisa mengelola pabrik ini. Syukurlah, kami mulai bangkit dan saya sangat ingat pesan almarhum suami saya tentang kerjasama yang sempat tertunda dulu. Kami sengaja datang kemari, kami ingin meneruskan cita-citanya dulu yang akan selalu menjalin persaudaraan dengan Pak Alex,” tegas Bu Amalia.
“Saya sangat menyambut kerjasama ini, baiklah, silakan mas Bagus dan mbak Ayu langsung saja dimulai presentasinya.” Pak Alex mempersilahkan mereka untuk mengenalkan kembali produk pabrik mereka hingga membuat Pak Alex, Alka bahkan Alana terkesiap dan bangga dengan kualitas pabrik yang sama persis dengan produk ayah mereka dulu.
Tak lama kemudian, Pak Alex tepuk tangan diikuti Alka dan Alana. Mereka langsung menyetujui penawaran itu dan menandatangi perjanjian kontrak yang sudah dibuat sebelumnya. Lalu mereka makan siang bersama di ruang meeting itu sambil berbicara santai.
“Maaf Pak Alex, apa Anda ingat dengan almarhum Pak Arya?” tanya Bu Amalia di sela makannya.
“Iya Bu, saya akan selalu ingat dengan Pak Arya. Bagaimana kabar istrinya sekarang? Dulu seingat saya, dia sedang hamil saat Pak Arya meninggal,” jawab Pak Alex lirih.
“Iya Pak, saya tidak pernah bertemu lagi setelah kematian suaminya. Kabarnya dia dan putranya pindah ke Bandung waktu itu dan tidak pernah kembali ke Jogja. Padahal ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan ke beliau. Sejak dulu, saya sulit mencari informasi tentangnya karena dia dan almarhum Pak Arya tidak punya siapa-siapa di Jogja. Jadi saya bingung harus bertanya pada siapa,” ujar Bu Amalia.
“Jadi istri dan anak almarhum Pak Arya ada di Bandung, Bu Amalia?” Pak Alex sedikit terkejut mendengar penuturan Bu Amalia.
__ADS_1