Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Dari Cerah Jadi Mendung


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Gema sudah di kantornya. Senyum sumringah tak henti menghiasi wajahnya hari itu. Hari ini sangat cerah, secerah hati Gema yang tengah bahagia. Entah sejak kejadian memalukan di depan Alana semalam ia jadi teringat terus menerus. Rani yang baru datang dengan segala kepercayaan dirinya menghampiri Gema di mejanya.


“Pagi mas Gema, kamu dari tadi aku perhatiin kok senyum-senyum sendiri sih. Udah mulai jatuh cinta ya sama aku” kata Rani seketika mengagetkan Gema.


“Apaan sih Ran. Kamu tuh ada-ada aja. Udah kerja sana, nanti ditegur Pak Asep lagi tau rasa lho” Gema mengalihkan pembicaraan Rani yang tak pernah bosan mengejarnya itu.


“Capek deh. Bukannya tadi senyum-senyum sendiri, sekarang jadi marah-marah gini. Heran deh, semua laki-laki tuh aneh, kadang bisa sehangat mentari, kadang sikapnya dingin banget kayak es kutub” gumam Rani sambil berlalu dari meja Gema. Riko, Lena, Anton, Widi, Ian dan Rinda rekan kerjanya di travel itu hanya bisa menggelengkan kepala ketika memperhatikan Rani yang selalu berusaha mendekati Gema. Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing setelah Rani kembali ke meja kerjanya.


Alana tiba di kantor dan segera masuk ke ruangannya, ia sudah disambut setumpuk berkas yang membutuhkan tanda tangannya. Karena Alka ada meeting di luar hari ini, Alana yang menghandle pekerjaan Alka juga. Mulai persetujuan pembuatan produk per hari, stok bahan baku yang masuk, stok barang keluar, hingga berapa barang yang harus dikirim per hari sampai memantau proses pengirimannya hingga barang itu diterima pemesan.


Siangnya setelah berkeliling mengontrol proses pembuatan produk di bagian produksi dan memantau proses pengemasan barang. Alana kembali ke ruangannya, ia seketika tersenyum ketika 5 cup puding strawberry telah berjajar rapi di meja kerjanya.


“Tenyata Kak Alka menepati janjinya” gumam Alana seraya membuka satu cup pudingnya dan langsung menghabiskannya saat itu juga. Tak lupa ia membagikan beberapa cup yang lain kepada sekretaris dan karyawannya yang berada satu lantai dengannya. Kebetulan ada 4 orang karyawan yang satu lantai dengan Alana, dan itu jumlah yang sesuai pesanan Alana pada Alka tadi pagi. Tidak mungkin Alana akan menghabiskan 5 cup puding strawberry ukuran sedang itu sendirian. Dan Alka mengerti itu, karena Alana memang orang yang suka berbagi pada karyawan-karyawannya.


Ia mengirimkan pesan teks pada Kakaknya itu untuk mengucapkan terima kasih. Ia menekan tombol-tombol di ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana, lalu ia kirimkan ke Alka. Selang beberapa menit Alka membalas pesan dari Alana, dan ketika Alana akan menaruh ponselnya di meja, ada pesan masuk beruntun lagi yang membuat matanya terbelalak seketika diikuti senyum manis di bibirnya.


Gema : “Hai Alana, jangan lupa makan siang”


Dengan semangat Alana langsung membalas pesan dari Gema yang memberinya perhatian itu.


Alana : “Hai juga Gema. Aku udah makan siang kok. Kamu jangan lupa makan siang juga ya”


Gema : “Siap, ini aku lagi makan siang sama teman-teman kantor”

__ADS_1


Alana : “Selamat makan 😊”


Gema : “Terima kasih 😊”


Alana menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangannya itu sambil tersenyum membayangkan wajah Gema yang telah menjadi malaikatnya semalam dan kini tengah memberikan perhatian kecil padanya. Di tempat lain pun Gema juga terlihat senyum-senyum sendiri memandangi layar ponselnya. Teman-temannya pun heran karena sedari pagi Gema terlihat bahagia hari ini. Tapi tak ada yang berani menanyakan karena takut merusak suasana hati Gema.


Di ruangan lain, Alka sedang menelepon ayahnya yang ada di Bogor dan ingin membicarakan rencana pertunangannya dengan Meta ketika ayah dan ibunya pulang nanti.


“Hallo Alka. Ada apa Nak?” sapa Pak Alex dari seberang telepon.


“Hallo Pa. Alka hanya mau menanyakan kabar Papa dan Mama” jawab Alka.


“Papa dan Mama baik-baik saja disini. Bagaimana keadaan disana? Kamu dan adikmu baik-baik saja kan?”


“Kami baik disini Pa, pabrik juga baik-baik saja. Kapan Papa dan Mama pulang?


“Syukurlah Pa. Sebenarnya ada hal yang mau Alka bicarakan nanti setelah Papa”


“Ada hal apa Nak, apa ini menyangkut rencanamu dan Meta yang sempat kamu utarakan pada Papa kemarin?”


“Iya Pa, kemarin aku, Alana dan Meta bertemu dan membicarakan hal ini. Nanti setelah Papa pulang kami akan mengadakan acara pertunangan kami, kebetulan Papa dan Mamanya Meta sudah setuju. Bagaimana menurut Papa?”


“Papa mengikuti saja keinginan kalian, lebih cepat lebih baik. Sebelum keberangkatan kita ke Jogja adalah waktu yang tepat untuk kalian bertunangan. Oh iya jangan lupa Alana kamu suruh undang Pak Asep dan Gema dari Bandung Holiday Tour and Travel Nak”

__ADS_1


“Baik Pa, aku akan sampaikan pada Alana. Nanti kita bicarakan lagi di rumah ya. Papa dan Mama hati-hati di jalan ya”


“Iya, terima kasih Nak. Tunggu Papa dan Mama nanti ya” Pak Alex mengakhiri sambungan teleponnya.


Alka meletakkan ponselnya di atas meja dan keluar menuju ruangan Alana. Ketika memasuki ruangan Alana, terlihat adiknya itu tengah bersandar di sofa sedang memandangi ponselnya. Alana menoleh ke arah pintu dan melihat kakaknya yang masuk ke ruangan itu.


“Kakak, ada apa Kak? Apa ada hal penting hingga Kakak kesini?” tanya Alana.


“Enggak ada apa-apa kok. Barusan aku telepon Papa mengenai rencanaku dan Meta kemarin. Papa setuju-setuju aja sih, dan kata Papa kamu disuruh mengundang Pak Asep dan siapa ya tadi namanya, Gema kalo gak salah” kata Alka seraya mengingat nama-nama yang disebutkan ayahnya tadi.


“Syukurlah kalo Papa setuju, iya Kak, aku akan menghubungi mereka. Oh iya Kak, makasih ya pudingnya” kata Alana semangat.


“Oke, sama-sama, Kakak kembali ke ruangan ya” ujar Alka berlalu dari ruangan Alana.


Alana menyalakan ponselnya kembali dan segera menelepon Gema karena ia tidak menyimpan kontak Pak Asep sejak perjanjian kerjasama beberapa waktu lalu. Terdengar nada tunggu pada sambungan teleponnya..


Tut..tut..tut...


“Hallo Gema, ini Alana” sapa Alana setelah mendengar nada tunggu itu berhenti.


“Hallo Alana, ada yang bisa dibantu?” kata Gema yang kelihatan bersemangat setelah mengetahui nama Alana tempampang di layar teleponnya.


“Gini Gema, Papaku mau ngundang kamu dan Pak Asep untuk datang ke acara pertunangan di rumahku besok malam” kata Alana yang membuat raut wajah Gema berubah seketika, yang tadinya cerah karena kebanyakan sinar matahari, kini jadi mendung seolah diguyur hujan saat mendengar Alana berkata demikian.

__ADS_1


(Alana akan tunangan? batin Gema seraya terdengar gemuruh di hatinya).


“Hallo, hallo.. Gema, apa kamu masih disana?” Alana berkali-kali memanggil Gema karena tidak ada sahutan setelah dirinya berbicara tadi.


__ADS_2