
Sekitar 10 menit Alana sudah tiba di rumahnya. Ia memasukkan sepedanya kembali ke garasi dan masuk ke dalam rumah. Ia langsung ke lantai atas menuju kamarnya dan segera membersihkan diri. Ia masuk kamar mandi dan mengisi air hangat di bathup. Hampir setengah jam ia berendam untuk melemaskan tubuhnya yang sedikit kaku setelah bersepeda tadi.
Gema, ibunya dan juga Lita juga sudah tiba di rumah. Lita turun di depan rumahnya dan tak lupa berterima kasih pada Gema dan ibunya. Lalu Gema memarkirkan mobilnya di samping rumah dan mereka segera masuk ke dalam rumah. Ibunya menuju dapur untuk menyiapkan bahan memasak untuk makan malam. Gema masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu baru ibunya yang mandi. Saat ibunya sedang mandi, Gema membantu memasak bahan yang sudah disiapkan ibunya tadi. Ia dengan luwes berkutat dengan alat-alat dapur, dan setengah jam kemudian semua makanan sudah tersaji di meja makan. Dan Gema segera memanggil ibunya untuk makan malam bersama. Ibunya menuju meja makan dan mengambilnya piring yang berisi nasi, sayur dan lauk untuk Gema. Ibunya tiba-tiba membicarakan tentang pertemuan mereka dengan Alana tadi.
“Nak Alana anaknya baik dan ramah ya?” tanya ibunya minta pendapat Gema.
“Iya Bu, Alana baik dan ramah, karena ada Ibu aja tadi. Kalo sama Gema ya begitulah, galaknya minta ampun” jawab Gema datar.
“Kok bisa gitu sih Nak? Kelihatannya tadi baik-baik aja sama kamu”
“Gema juga pikir begitu Bu, biasanya dia galak banget sama Gema, dan main nyelonong aja kalo ngomong” jelas Gema yang membuat ibunya tersenyum sendiri.
“Lama-lama juga gak terlalu galak nanti Nak, kamu harus memahami perasaan wanita. Dia akan lembut pada waktunya” ujar ibunya dan mereka tertawa hingga memecah suasana makam malam yang sunyi itu.
“Hussh. Ibu udah ah, lagi makan malah ngomongin orang. Nanti keselek lho” Gema menghentikan percakapan mereka yang sedang seru dan melanjutkan makannya.
“Iya, iya. Habisnya Nak Alana itu cantik, ibu kagum sama dia. Coba dia jadi mantu ibu” seketika Gema tersedak dan meminum air putih di depannya. Ibunya terkejut dan segera menepuk-nepuk punggung Gema.
“Ibu ngomong apa sih, Gema jadi tersedak nih” ibunya hanya terkekeh mendengarkan Gema.
“Hahaha, maafin Ibu, Nak. Ibu gak sengaja ngomong kayak gitu, sampai kamu tersedak”
__ADS_1
“Udah ah, tadi kan Gema bilang gak usah ngomongin orang. Ibu malah bicara lagi” kata Gema geleng-geleng kepala.
“Iya deh. Ibu makan lagi nih” jawab ibunya sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
Satu jam setelah makan malam, Gema masuk ke kamar ibunya dan mengingatkan ibunya untuk minum obat sebelum tidur. Ia mengambilkan obat dan segelas air putih lalu memberikan pada ibunya. Setelah menemani ibunya sampai tertidur, Gema kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menyalakan ponselnya karena tadi ia lupa membawa ponsel saat ke taman dan ia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Riko, teman kantornya. Gema sesaat berpikir kenapa Riko telepon berkali-kali, ia ingin meneleponnya balik tapi ini sudah terlalu malam. Ia urungkan niatnya karena besok bisa ia tanyakan pada Riko saat di kantor. Kemudian ia mengaktifkan alarm agar tidak bangun kesiangan karena besok adalah persiapan terakhir sebelum keberangkatan rombongan gathering pabrik Alana Jaya Tekstil. Sesaat ia teringat pada Alana, ya memang tadi dia lebih ramah dari biasanya, gumam Gema dalam hati. Gema sejenak berpikir perkataan ibunya di meja makan tadi.
“Apa ibu sakit karena memikirkan aku yang belum menikah?” Gema bertanya pada dirinya sendiri. Karena memang ibunya tidak pernah mengungkapkan segala isi hatinya pada Gema. Gema jadi berpikir apakah sudah waktunya ia menikah dan berkeluarga. Tapi apakah ada yang mau dengannya? Dia hanya pemuda biasa, tidak kaya dan mapan, ia hanya punya vespa dan mobil tua kesayangannya. Ia terlalu malu jika harus berkenalan dengan seorang gadis, kecuali Rani, pikirnya. Gema mengusap kasar wajahnya dan bingung harus berbuat apa. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas dan mulai memejamkan matanya.
*Di rumah Alana
Setelah makan malam, Alana dan keluarga kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena besok harus bekerja. Pak Alex dan Bu Anne akan segera berangkat ke Bogor karena pabrik yang dibangun sudah hampir selesai pengerjaannya. Alka masih tetap di Bandung untuk menemani Alana di pabrik.
“Ngapain sih aku mikirin Gema” Alana mengacak-acak rambutnya sendiri.
(Udah ah, aku tidur aja. Besok banyak hal yang harus aku persiapkan untuk keberangkatan gathering minggu depan, gumam Alana dalam hati).
Alana menarik selimutnya dan segera memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Alana sudah di kantor dan berkutat dengan berkas-berkas yang harus ditandatangani olehnya. Setelah semua selesai, ia ke ruangan Alka agar menemaninya keliling pabrik.
Tok..tok..tok
__ADS_1
“Masuk” kata Alka dari dalam ruangan, ia menoleh pada Alana yang sudah masuk ke ruangannya.
“Ada apa Alana?”
“Kak, tolong temenin aku keliling pabrik dong?”
“Aku masih sibuk Alana, satu jam lagi deh. Ini masih banyak orderan dari luar kota” jelas Alka pada Alana.
“Iya udah aku keliling sama Tanti aja deh Kak” Alana pamit keluar dari ruangan Alka setelah Alka mengiyakan.
*Di kantor Gema
Gema tiba di kantor disambut oleh Mang Udin dan membukakan pintu karena memang baru mereka yang datang ke kantor pagi itu. Gema segera menuju ruangannya dan mengecek persiapan terakhir untuk keberangkatan rombongan gathering minggu depan. Selesai pengecekan, Gema menuju mejanya dan menyalakan laptopnya. Ia mencoba membuat paket-paket wisata baru dan nanti akan disampaikan pada Pak Asep. Sesaat kemudian Riko dan Lena datang bersamaan dengan cincin bermotif sama melingkar di jari masing-masing. Gema yang melihatnya terkejut dan bertanya pada Riko untuk menjawab rasa penasarannya.Lena sudah duduk di meja kerjanya, kebetulan Riko menghampirinya terlebih dahulu.
“Ko, kamu sama Lena kok pake cincin sama sih? Jangan-jangan kalian udah tunangan” tanya Gema beruntun.
“Hadeeh, belum ngucapin salam udah langsung nyerocos kalo nanya. Satu-satu dulu Bang” jawab Riko santai. “Kamu kemarin aku telepon berkali-kali gak diangkat. Kemana aja sih?” tanya balik Riko.
“Sorry, kemarin aku ke taman kota sama Ibu dan lupa gak bawa ponsel. Semalem aku lihat banyak panggilan tak terjawab darimu. Waktu mau aku telepon balik udah kemaleman jadi sekalian deh aku tanya disini aja, Hehehe” ujar Gema seraya menyunggingkan senyumnya semanis mungkin.
“Iya deh, dimaafin. Ini pertanyaan pertama kamu tadi yang akan aku jawab. Sebenarnya aku kemarin.......”
__ADS_1