
“Gema, aku.....” Alana menggantungkan ucapannya. “Aku nggak bisa Gema,” lanjut Alana.
“Jadi kamu menolakku Alana?” Gema bertanya dengan lesu. Ia tak pernah membayangkan jawaban Alana barusan. Semua mata masih tertuju pada mereka berdua, hingga akhirnya ia melepaskan genggamannya dan segera beranjak dari hadapan Alana. Langkah kakinya seketika terhenti ketika Alana melanjutkan kata-katanya kembali.
“Maaf aku nggak bisa nolak kamu Gema,” ucapnya sambil tersenyum, Gema pun berbalik dan tidak menyangka dengan ucapan Alana.
“Bisakah kamu mengatakannya sekali lagi?” Gema tak yakin dengan pendengarannya tadi. Ia meminta Alana untuk mengulang perkataannya lagi.
“Iya, aku nggak bisa nolak kamu Gema Putra.” Alana sedikit berteriak agar Gema mendengarnya dengan jelas.
(Dari mana Alana tahu nama lengkapku? gumam Gema dalam hati). Tapi pikiran itu ia buang jauh dulu, ia bisa menanyakannya lain waktu.
“Benarkah? Terima kasih Alana.” Gema menggapai tangan Alana kembali dan mencium tangan itu dengan lembut. Alana tersenyum malu seraya memandang ayah dan ibunya. Pak Alex dan Bu Anne melebarkan senyum mereka, akhirnya anak gadis mereka menemukan tambatan hatinya. Alka dan Meta malah bersiul-siul dan melompat kegirangan karena saking senangnya.
Terdengar riuh tepuk tangan pengunjung Taman Sari saat itu, mereka ikut deg-degan sekaligus bahagia atas ungkapan perasaan dari dua insan yang tengah di mabuk cinta itu. Pak Asep dan Rani pun menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat pada mereka berdua.
“Selamat Gema dan Mbak Alana, semoga kami segera menerima undangan pertunangannya,” ucap Pak Asep.
“Terima kasih Pak Asep, ini semua juga berkat Pak Asep yang telah menyadarkan Gema,” kata Gema seraya memeluk Pak Asep.
“Rani ikut bahagia melihat Mas Gema bahagia, semoga Alana menjadi yang terbaik buat Mas Gema.” Rani ikut memeluk Gema, namun kali ini pelukan dari seorang adik.
__ADS_1
Alana pun tak merasa cemburu melihat kedekatan mereka kali ini. Lalu bergantian, Rani memeluk Alana dan Alana pun mengucapkan terima kasihnya pada Rani.
“Rani, makasih ya. Kalau kamu nggak bicara panjang lebar sama aku tadi mungkin aku sudah balik duluan ke Bandung,” ucap Alana seraya mengeratkan pelukannya pada Rani.
“Sama-sama Alana, sudah waktunya kalian berdua mengungkapkan perasaan masing-masing. Aku titip Mas Gema sama kamu, jaga hatinya, kalau sampai nakal kamu bilang aja sama aku, aku bakal lapor ke Papa biar dia dipecat sekalian.” Rani melepaskan pelukannya dan menepiskan senyum bahagianya.
“Eh, eh.. tunggu dulu, main pecat aja. Aku janji gak bakal nakal kok Ran,” ucap Gema seraya mengacak-acak rambut Rani.
Pak Alex, Bu Anne, Alka dan Meta juga menghampiri mereka, mengucapkan selamat dan saling berpelukan satu sama lain.
“Gema, terima kasih kamu telah mencintai anak saya. Jangan sampai dia terluka lagi, saya percayakan itu sama kamu,” pinta Pak Alex seraya menepuk bahu Gema.
“Alana, kamu ingat kalian harus saling mendukung apapun keadaannya. Mama dan Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian,” ucap Bu Anne sambil memeluk putrinya.
“Iya Ma, aku akan mengingat pesan Mama. Terima kasih telah menjadi orang tua terbaik bagi Alana.”
“Cieeee, yang jadian.” Alka dan Meta pun berteriak dengan kencangnya hingga membuat mereka semua menutup telinga. Wajah Gema dan Alana seketika merah merona, mereka juga saling berpelukan.
Perjalanan wisata kali ini merupakan perjalanan wisata paling mengesankan bagi keluarga besar Alana Jaya Tekstil maupun Bandung Holiday Tour and Travel. Betapa tidak, perjalanan wisata yang dibumbui dengan pengungkapan hati seorang Gema yang selama ini dikenal sebagai pemuda biasa dan pendiam itu. Ia mampu mengubah suasana menyenangkan menjadi menegangkan namun akhirnya melegakan.
Selepas makan siang bersama, wisata terakhir mereka yaitu ke De Mata Museum Jogja hingga sore hari. Masih dengan obyek wisata untuk berfoto, namun tempat ini memiliki pesona tipuan mata dalam bentuk museum. Mereka harus sabar mengantri agar bisa berpose di depan gambar-gambar tiga dimensi super besar dan menikmati sensasi tipuan dalam bingkai foto yang mereka abadikan.
__ADS_1
Kali ini, Gema bebas tugas dari Pak Asep, ia malah ditugaskan untuk bersenang-senang dengan kekasih barunya itu. Yang tadinya ia hanya memotret, kini ia malah ikut selfie bersama Alana. Bahkan foto bersama dengan keluarga Alana, mereka berebut sesekali bergurau dan menertawakan hal-hal yang sangat lucu sebagai obyek foto. Gema bahagia melihat Alana tertawa lepas, baru dua kali ia melihat tawa Alana seperti saat ini, yang pertama ketika pertemuan mereka di Cafe beberapa waktu lalu.
Ia tak menyangka bisa mengungkapkan perasaannya hari ini dan langsung diterima oleh Alana, bahkan diterima dengan baik oleh keluarga Alana. Ia tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada ibunya. Namun harus ia tahan dulu, ia ingin memberi kejutan pada ibunya sepulang dari Jogja dengan mengajak Alana ke rumahnya. Gema tersadar dari lamunannya ketika Alana menepuk bahunya.
“Kamu tuh punya kebiasaan melamun ya?” kata Alana seketika mengejutkannya.
“Eng..enggak, kata siapa aku punya kebiasaan melamun. Diam-diam kamu perhatian juga ya sama aku,” goda Gema hingga membuat Alana mengerucutkan bibirnya, tak terima ia membalas perkataan Gema.
“Bukannya kamu yang diam-diam suka perhatiin aku, ngaku nggak?” balas Alana dan seketika membuat Gema membisu.
“Emm, kayaknya enggak suka sih, hanya sering aja,” jawabnya sambil mengacak-acak rambut Alana dan seketika mereka tertawa bersama.
Jam 5 sore rombongan keluar dari De Mata museum Jogja dan mampir ke Bakpia Djava untuk membeli oleh-oleh. Rombongan juga bisa istirahat, membersihkan diri dan makan malam di restoran dekat Bakpia Djava. Saat acara makan malam itu, Pak Alex memberikan sambutan kepada para pegawai dan keluarganya yang ikut dalam gathering ini.
“Selamat malam keluarga besar Alana Jaya Tesktil yang saya cintai.” Pak Alex memulai sambutannya.
“Selamat malam,” jawab semua rombongan secara serempak.
“Saya atas nama perusahaan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegawai yang sampai saat ini masih setia bekerja di pabrik. Kegiatan wisata ini hanya untuk sebuah hadiah kecil bagi kalian yang telah bekerja keras, bersama-sama membangun Alana Jaya Tekstil hingga bisa maju seperti sekarang. Tanpa kalian semua, Alana Jaya Tekstil hanyalah sebuah pabrik kecil yang tak akan pernah dikenal orang. Saya berharap kegiatan seperti akan rutin dilakukan setiap satu tahun sekali untuk memperkuat rasa persaudaraan di antara kita semua. Terima kasih.”
Tepuk tangan semua rombongan meramaikan penutupan acara gathering mereka saat itu. Mereka senang dan bangga dengan apresiasi yang diberikan kepada para pegawai. Mereka akan bekerja lebih giat lagi dan bersama-sama memajukan pabrik. Mereka menikmati makan malam itu dengan suasana hati yang riang dan bahagia. Setelah makan malam, mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung malam ini juga.
__ADS_1