
Gema telah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap pulang lebih awal. Setelah mematikan laptopnya, ia segera memasukkan ke dalam tas dan berpamitan kepada pegawai lain di kantor. Biasanya Gema pulang terakhir dari yang lainnya, kini sebagian ada yang belum selesai dengan persiapan untuk gathering 2 minggu lagi. Mereka juga ada yang sedang mengerjakan project tour lainnya, karena Pak Asep tidak pernah menolak pelanggan yang memakai jasa mereka untuk melakukan perjalanan wisata, meski awalnya kerepotan membuat jadwal. Tapi itulah upaya Pak Asep yang bercita-cita memperkenalkan perusahaan travelnya ke seluruh daerah di Indonesia. Tak jarang pula mereka menerima pelanggan dari luar kota bahkan luar pulau.
*Di jalan
Alana sedang melajukan mobilnya pelan menuju rumah, ia mampir dulu ke toko roti untuk membelikan cake kesukaan ayah dan ibunya. Setelah memarkirkan mobilnya, Alana keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam toko. Ia disambut hangat oleh para pegawai toko itu, Alana pun membalasnya dengan senyuman di bibirnya. Ia segera menuju rak-rak yang berisi puluhan cake yang menggoda selera bagi yang melihatnya hingga siapapun sayang untuk memakannya. Ia mengambil beberapa potong cake keju dan coklat untuk ayah, ibu dan kakaknya, sedangkan untuknya ia mengambil dua potong cake strawberry favoritnya. Selesai memilih beberapa potong cake dan menaruhnya di nampan ia melihat ada dua cup puding strawberry yang kelihatan menggoda di lemari pendingin. Alana membuka pintu lemari pendingin itu dan tiba-tiba ada tangan seseorang yang mengambil dua puding itu dengan santainya. Alana menoleh ke arah pemilik tangan itu dan ingin memakinya. Tapi ia urungkan setelah melihat siapa yang mengambil puding itu.
“Kamu??? Alana terheran-heran kenapa di setiap tempat selalu bertemu dia lagi.
“Terima kasih sudah membukakan pintunya,” kata orang itu seraya tersenyum begitu manis pada Alana.
“Hey, aku yang udah buka pintunya duluan, jadi puding itu hak aku dong. Mana pudingnya kasih ke aku.” Alana mencebiknya bibirnya karena ia tidak rela puding itu dibeli orang lain.
“Yang ambil duluan kan aku, jadi aku dong yang berhak beli puding ini. Lagian disitu juga masih banyak puding yang lain,” kata orang itu tidak mau kalah.
“Gak bisa gitu dong, aku maunya yang itu, mana tinggal dua lagi,” kesal Alana yang gagal beli puding strawberry kesukaannya.
“Aku juga mau yang ini Alana, gak mau yang disitu juga,” ujarnya semakin membuat Alana cemberut.
“Please dong Gema, aku cuma mau yang itu, gini aja deh, kamu beli satu, aku beli satu, adil kan?” Alana memohon agar Gema mau memberikan satu cup padanya. Orang itu adalah Gema, dan lagi-lagi mereka bertemu kembali. Alana memohon agar Gema mau memberikan satu cup padanya. Gema juga tak sengaja pergi ke toko roti, ia membelikan sesuatu untuk ibunya di rumah. Tak sengaja juga ia bertemu Alana, tapi tidak sampai menabrak gadis aneh itu lagi. Setelah memilih-milih roti abon kesukaan Gema dan ibunya, ia melihat ada dua puding strawberry di lemari pendingin dan kebetulan ada seorang gadis yang membuka pintu lemari pendingin itu. Dengan santainya ia langsung mengambil puding itu dan terkejut juga bahwa gadis yang membuka pintu adalah Alana. Dengan tampang santai ia malah menggoda Alana sampai Alana hampir marah padanya lagi. Entah kenapa ia senang sekali ketika melihat Alana sedang marah-marah.
__ADS_1
“Gak bisa dong, aku makan apa nanti kalo yang satu buat kamu.” Mereka masih rebutan puding juga.
“Ya, kamu makan yang lain dong, disitu kan masih banyak pilihannya. Buat aku satu ya, ya, yaa. Kata Papaku kamu itu orang yang baik, jadi bagi kebaikan itu sama aku ya,” kata Alana yang membuat Gema mengalah pada akhirnya.
“Baiklah. Ini satu untuk kamu, aku beli satu aja.” Gema memberikan satu pudingnya pada Alana, dan Alana melompat kegirangan layaknya anak kecil yang baru dapat tambahan uang jajan. Gema hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alana. Mereka segera menuju kasir dan membayar belanjaannya masing-masing. Mereka keluar bersama dan berpisah di tempat parkir.
“Rumah kamu dimana Gema?” tanya Alana dari dalam mobilnya.
“Gak jauh kok dari sini. Kamu mau mampir? tanya Gema menawarkan mampir ke rumahnya.
“Emm, enggak deh. Lain kali aja. Oh iya, makasih ya mau bagi pudingnya buat aku. Aku duluan,” pamit Alana yang langsung nyelonong melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Gema. Dan Gema yang hampir menjawab hanya bisa melongo dengan mulut yang masih menganga. Untung gak ada lalat yang masuk. Hahaha..
Gema segera naik vespanya dan melajukan pelan menuju rumahnya. Sepuluh menit kemudian ia sampai di depan rumah dan memarkirkan vespanya di samping rumah. Kebetulan ibunya sedang menyiram tanaman di pekarangan di samping rumahnya.
“Ibu.. Gema pulang,” sapa Gema sambil mencium punggung tangan ibunya.
“Kamu pulang lebih awal, Nak?” tanya ibunya karena Gema pulang sebelum senja tiba.
“Iya Bu. Pekerjaan Gema udah selesai tadi jadi Gema bisa pulang lebih awal. Oh iya, ini tadi Gema mampir beli roti abon dan puding strawberry kesukaan Ibu,” kata Gema seraya memberikan sebuah bungkusan berisi roti dan puding yang ia beli tadi pada ibunya.
__ADS_1
“Makasih Nak, kamu jadi repot-repot mampir ke toko roti?” Ibunya menerima bungkusan itu dan masuk ke dalam rumah bersama Gema.
Selesai mandi dan ganti baju Gema menemui ibunya di meja makan. Ia melihat ibunya tengah menikmati roti abon yang dibelinya tadi. Ia membuat secangkir kopi terlebih dahulu, tak lupa ia membuatkan teh hangat untuk ibunya, lalu menghampiri ibunya dan ikut makan roti abon kesukaan mereka itu.
“Gema, pudingnya kok cuma satu, biasanya kamu beli dua?” tanya ibunya pada Gema, karena biasanya Gema selalu beli dua untuk mereka berdua.
“Iya Bu, tadi yang satu Gema berikan pada Alana,” jawab Gema sambil menyeruput kopinya.
“Siapa Alana? Ibu baru dengar nama itu? Pacar kamu ya?” tanya ibunya menggoda Gema.
“Bukan Bu, Alana bukan pacar Gema. Dia anak pemilik pabrik tekstil terbesar di Bandung, namanya Pak Alex, orang yang kerjasama dengan travel Pak Asep untuk memberangkatkan semua karyawannya tour ke Jogja dua minggu lagi,” ujar Gema panjang. (Ngapain juga Gema pacaran sama cewek aneh itu Bu. Gema bergemam dalam hatinya).
“Oh, Ibu kira dia pacar kamu, Nak. Habisnya kamu gak pernah ngenalin pacar kamu ke Ibu,” goda ibunya lagi.
“Apaan sih Ibu, Gema masih ingin membahagiakan Ibu. Gema belum mikir sampai situ Bu,” jawab Gema sopan.
“Baiklah kalo itu maumu. Kamu gak apa-apa Ibu makan pudingnya?” ibunya pasrah dengan jawaban Gema. Padahal ibunya berharap sekali Gema segera menemukan jodohnya.
“Iya, itu buat Ibu aja. Gema cukup minum kopi ini aja Bu.” Gema tersenyum melihat ibunya yang masih sehat dan bisa mendampinginya tetapi Gema merasa masih belum bisa membahagiakan ibunya. Meskipun ibunya tidak pernah meminta apapun dari Gema, yang penting Gema tetap berada disisinya sampai saat ini. Gema tidak tahu bahwa ibunya ingin Gema segera berkeluarga.
__ADS_1