
Setengah jam perjalanan, sampailah Alana di depan rumahnya, ia memasukkan mobilnya di garasi dan langsung membuka pintu rumahnya yang terlihat mewah itu. Alana menghampiri ibunya, Mama Anne yang sedang memasak di dapur untuk makan malam bersama nanti karena sang ayah dan kakaknya sebentar lagi akan tiba di rumah.
“Alana pulang Ma,” sapa Alana sambil mencium pipi ibunya.
“Kamu sudah pulang, Nak. Emm, bau acem, cepat mandi sana,” goda sang ibu berpura-pura mengendus tubuh Alana yang sebetulnya tidak bau. “Ihh Mama, apaan sih, kebiasaan deh. Alana ke kamar dulu deh. Mau mandi biar gak dikatain acem lagi”. Alana segera berlari ke atas karena letak kamarnya ada di lantai 2. Ia meletakkan tasnya di atas ranjang dan segera masuk ke kamar mandi. Sesaat kemudian ia keluar dengan handuk kimononya dan segera berganti pakaian. Ia turun ke lantai bawah untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam. Ternyata sang ayah dan kakaknya sudah tiba dan mereka langsung makan bersama, sesekali saling bertanya kabar karena seminggu ini tidak bertemu.
Selesai makan malam, Alana kembali ke kamar untuk merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah. Ia naik ke ranjangnya dan membuka ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan masuk dari teman-temannya yang masih di luar negeri. Tiba-tiba Alana teringat Bobby yang meneleponnya tadi sore. Tak terasa dadanya sesak mengingat kelakuan Bobby selama berpacaran dengannya, tak hanya informasi dari teman-temannya saja yang ia dapat. Ia juga berkali-kali memergoki Bobby bersama wanita lain saat di luar negeri, namun Alana masih tegar menghadapi Bobby. Sebelumnya Alana berharap Bobby adalah lelaki baik dan setia pada satu wanita, tapi harapan Alana hancur seketika melihat kelakuan buruk Bobby yang ia tutupi dengan tampang gagah dan mulut manisnya itu. Dan pada saat ingin mengakhiri hubungannya dengan Bobby, tiba-tiba Bobby menghilang tanpa kabar selama dua bulan ini. Dan tadi sore adalah sebuah keajaiban, pikir Alana. Bobby yang menghubunginya lebih dulu, dan tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi Alana menggunakan kesempatan itu untuk meluapkan emosi yang selama ini ia pendam. Kesempatan yang ia tunggu-tunggu untuk memutuskan hubungannya yang memang tidak bisa ia lanjutkan. Alana merasakan kelegaan di hatinya, beban selama ini ia pikul telah lepas dengan sendirinya. Tak lama kemudian ia pun terlelap dalam tidurnya.
*Esoknya
Sang mentari mulai menampakkan wajahnya, cahayanya memaksa masuk melalui tirai kamar Alana. Seketika Alana tersadar bahwa pagi telah datang , membuat ia terbangun dari mimpi indahnya. Alana segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Setengah jam kemudian, ia keluar kamar mandi, lalu ganti baju dan sedikit merias wajahnya dengan make up yang tidak terlalu berlebihan. Ia segera keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya.
“Selamat pagi semua,” Alana menyapa ayah dan ibunya. Ia menyadari ada yang kurang di meja itu, tak terlihat sang kakak, rupanya Alka memang sudah berangkat kantor pagi-pagi sekali.
“Pagi sayang. Nggak usah nyari Alka, dia udah berangkat tadi pagi-pagi sekali,” ucap ayahnya.
“Kenapa Kak Alka berangkat pagi sekali Pa?”
“Kamu kayak nggak tau kakakmu aja, dia mampir dulu jemput Meta. Katanya kangen udah seminggu gak ketemu,” sahut ibunya.
__ADS_1
“Hmmm, iya juga. Mana tahan dia, gak ketemu sehari aja kayak seratus tahun,” canda Alana sambil menyendokkan makanan ke mulutnya. Ayah dan ibunya tersenyum membenarkan pernyataan Alana.
Alana berangkat ke kantor terlebih dahulu, karena ayahnya masih ingin bersantai di rumah karena masih lelah dengan pekerjaanya selama seminggu di luar kota. Ia mengemudikan mobilnya pelan karena masih ingin menikmatinya indahnya kota Bandung di pagi hari.
*Di rumah Gema
Pagi tadi Gema merasakan tidak enak badan, dan suhu badannya terasa panas. Saat ia bangun rasa sakit pada perutnya tak tertahankan. Ia merasa penyakit maagnya sedang kambuh karena akhir-akhir ini ia disibukkan dengan banyak pekerjaan di kantor. Gema pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Sang ibu terkejut melihat wajah Gema pucat dan tubuhnya lemas sekali.
“Kamu sedang sakit Nak?” tanya ibunya seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi Gema. Ibunya terkejut badan Gema panas.
“Gema tidak enak badan aja Bu. Gema gak apa-apa kok. Setelah makan dan minum obat nanti pasti membaik. Mungkin Gema sering telat makan aja, banyak kerjaan di kantor,” ucap Gema lesu.
“Maafkan Gema Bu, Gema tidak memperhatikan kesehatan Gema. Setelah makan, Gema akan minta ijin Pak Asep untuk tidak masuk hari ini aja.” Ibunya mengiyakan. Kemudian ibunya segera mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk Gema dan setelah makan Gema minum obat dan kembali ke kamar. Ia mengambil ponselnya di meja dekat tempat tidur dan menelepon Pak Asep untuk meminta ijin karena ia sakit hari ini.
“Selamat pagi Gema, ada apa kamu telepon pagi-pagi gini?” tanya Pak Asep dari seberang.
“Selamat pagi Pak Asep. Hari ini saya ijin tidak masuk Pak, saya sedang tidak enak badan,” jelas Gema dan ia mendapat persetujuan dari Pak Asep. Gema berterima kasih dan menutup teleponnya.
Gema meletakkan kembali ponselnya di meja dekat dengan ranjang tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya dan menikmati rasa sakit di perutnya. Mata Gema terpejam beberapa saat kemudian ia mendengar suara ketukan pintu dari depan berulang kali. Namun ibunya tidak kunjung membukanya, dengan badan yang lunglai Gema beranjak dari tempat tidurnya. Gema mencari ibunya di kamar namun tidak ada, di dapur juga tidak ada. “Mungkin ibu pergi ke pasar dekat rumah,” gumam Gema dalam hatinya.
__ADS_1
Tok..tok..tok.. (Bukan suara abang tukang bakso ya, tapi suara orang mengetuk pintu. Hehehe).
Gema membulatkan matanya saat tau Rani berada di depan pintu rumahnya. Tampak ia sangat khawatir dengan keadaan Gema. Ia membawa bubur ayam dan beberapa obat untuknya.
“Rani!!!” seru Gema masih berdiri di depan pintu.
“Hai mas Gemaku yang ganteng. Rani kaget tadi Papa bilang kamu sedang sakit, aku langsung kesini lihat keadaan kamu. Mana yang sakit? Hah?” tanya Rani beruntun sambil menyentuh wajah Gema mulai dahi, pipi, leher dan lengan Gema. Gema merasa risih dengan perlakuan Rani yang berlebihan seperti itu. Gema menghindar dan mempersilahkan Rani duduk di kursi teras rumahnya.
“Kamu gak perlu repot-repot kesini bawa makanan dan obat Ran, aku udah makan dan minum obat tadi. Ini aku juga sudah membaik dan nanti pasti sembuh (tentunya setelah kamu pulang dari sini Ran, batin Gema). Aku mau istirahat sekarang, biar besok aku bisa masuk kerja lagi. Masih banyak hal yang belum aku selesaikan di kantor. Makasih kamu sudah jauh-jauh mau jenguk aku,” kata Gema malas dan masih menahan sakitnya.
“Lho,lho mas Gema. Aku kan masih pengen nemenin kamu disini, biar kamu cepet sembuh.” Rani ngeyel gak mau pulang. (Kalo kamu masih disini yang ada bukannya sembuh, sakitku akan semakin parah, Gema terus bergumam dalam hati).
“Aku mau istirahat Ran, biar besok bisa masuk kerja. Kalo gak masuk lagi nanti kamu gak bisa ketemu aku kan.” Gema meyakinkan Rani agar segera pulang dan Rani menurutinya dengan wajah sedikit kecewa.
“Baiklah mas Gema, aku pulang dulu ya biar kamu bisa istirahat. Cepet sembuh supaya besok bisa ketemu aku lagi. Rani pamit ya mas, jangan lupa buburnya dimakan dan obatnya diminum.” Gema mengiyakan dan segera menutup pintu. (Akhirnya dia pulang juga, lebih baik aku kembali ke kamar).
Belum sempat melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lagi. Gema berpikir bahwa Rani kembali lagi, lalu Gema berbalik arah dan segera membuka pintu.
“Ada apa lagi sih Ran???” Gema terkejut ternyata bukan Rani yang datang lagi.
__ADS_1