Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Jujur


__ADS_3

“Gema, aku tanya sama kamu sebagai laki-laki. Apa kamu menyukai Alana?” ulang Alka kembali.


Dengan gugup pun Gema menjawab, “Emm, sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang Mas, tapi setiap berada dekat dengan Alana, aku selalu gugup. Setiap memandang matanya, aku merasakan ada kehangatan dalam hatiku Mas. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya, tapi untuk mendekati Alana aku belum punya nyali. Mungkin ini hanya sebatas rasa kagum saja Mas.”


Gema panjang lebar mengutarakan isi hatinya saat ini, ia memang belum pernah jatuh cinta pada seorang gadis, namun ada perasaan berbeda ketika ia berada di dekat Alana. Entah itu hanya rasa kagum semata, entahlah ia tak bisa menyiratkan ke dalam kata-katanya.


“Gema, sejak di acara pertunanganku kemarin aku selalu memperhatikan kalian berdua. Jika memang kamu menyukai adikku, berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Jangan pulang sebelum perang kawan. Aku yakin perjuanganmu tidak akan sia-sia, karena Alana pernah tersakiti oleh laki-laki, jadi jangan buat ia trauma kembali dengan menggoreskan luka pada hatinya.”


Gema yang mendengar penjelasan Alka sedikit lega, ada rasa semangat yang tadinya telah redup kini terpupuk lagi. Meskipun ia hanya laki-laki biasa, ia yakin bisa membahagiakan Alana.


“Terima kasih Mas Alka, sekarang mungkin aku belum yakin dengan perasaanku sebenarnya. Aku akan mencoba memahaminya kembali, tapi Alana apa tidak malu jika nanti jalan sama aku Mas? Aku hanya laki-laki biasa yang belum mapan dan hanya seorang pegawai travel kecil, aku takut jika Alana menolakku nantinya.”

__ADS_1


“Sudahlah Gema, berjuanglah dulu, dapatkan hati Alana dulu. Urusan mapan belakangan, kalian bisa berjuang bersama-sama nantinya. Aku lihat Papa dan Mama juga menyukaimu, jadi untuk mendapatkan restu akan lebih mudah nanti. Adikku bukan wanita yang pilih-pilih, jika dia telah yakin dengan hatinya, dia akan serius menjalaninya,” ujar Alka seraya menepuk pundak Gema. Malam semakin larut, kemudian mereka menyudahi percakapan itu dan kembali ke kamar masing-masing.


Tanpa mereka sadari dari tadi, seorang gadis dengan sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua. Saat menelepon ayahnya, Rani bertanya dimana Gema berada dan ia segera menyusul setelah tahu Gema ada di taman hotel. Rani menghentikan langkahnya ketika melihat Gema sedang bersama Alka, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul Gema. Pada saat ia akan kembali ke kamar, ia mendengar Alka sedang bertanya tentang perasaan Gema pada Alana sampai mereka berdua mengakhiri percakapan itu. Hati Rani terasa perih seperti ditusuk dengan sebuah belati, perasaan yang selama ini ia pendam untuk Gema bertepuk sebelah tangan. Ia memang selalu berusaha untuk mendekati Gema walaupun ia sadar bahwa selama ini Gema merasa risih saat berada di dekatnya. Lama kelamaan Rani semakin tahu bahwa Gema memang tidak menyukainya, tapi ia masa bodoh dengan perasaan Gema.


Dan tadi ia mendengar sendiri, bahwa Gema tengah menyukai Alana walaupun hati Gema masih belum menyadarinya. Mungkin ini saatnya ia mundur, melupakan perasaannya pada Gema, membuang jauh mimpinya untuk bisa bersama Gema. Dan Tuhan mungkin hanya menakdirkan mereka hanya sebagai rekan kerja saja. Ia akan menerima Gema yang menggangapnya sebagai adik semata. Lalu Rani kembali ke kamarnya dengan sisa tangis yang sedari tadi membanjiri pipinya. Ia masuk ke dalam kamar dan segera menyembunyikan wajahnya. Teman-teman sekamarnya tidak ada yang menyadari bahwa Rani habis menangis.


Di saat Rani tengah menangis, Alana merasa bahagia dengan apa yang didengarnya barusan. Wajahnya bersemu merah saat ia tak sengaja mendengarkan pembicaraan Gema dan kakaknya di luar kamarnya. Tadi saat Alana akan pergi ke kamar mandi, ia mendengar Gema menyebutkan namanya. Ia penasaran apa yang tengah mereka bicarakan, ia pun terpaku dari balik jendela sampai Gema dan Alka meninggalkan taman itu. Ia mendengar dengan jelas apa yang Alka tanyakan pada Gema. Gema memang belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya, tapi Alana merasa suatu saat nanti Gema akan menyadarinya sendiri.


“Alana, ngapain kamu senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Meta seraya mencubit pipi Alana. Alana pun meringis kesakitan sambil menggosokkan jari ke pipinya.


“Ihh Kak Meta, sakit tahu pipi aku. Emang sejak kapan senyum-senyum sendiri itu dilarang? Kakak gangguin orang lagi seneng aja,” Alana mengerucutkan bibirnya lalu mengulas senyum manisnya yang makin lebar itu ke depan wajah Meta.

__ADS_1


“Kamu gak sedang coba-coba jadi orang gila kan Al?” Meta pun memelototkan matanya, ia mengamati setiap inci wajah Alana, apa ada yang aneh dengan calon adik iparnya itu.


“Bisa jadi,” jawab Alana santai sambil menaikkan selimut hingga menutupi tubuhnya.


“Astaga, aku bilang Alka lho ya. Aku telepon Kakak kamu nih.” Meta menyalakan ponsel dan akan menelepon Alka, namun ponsel itu tiba-tiba direbut oleh Alana. “Ishhhh, kembaliin gak ponsel aku, aku mau telepon Kakak kamu nih. Balikin ponselku Alana.”


Alana malah menyembunyikan ponsel Meta di bawah bantalnya, kemudian ia segera memejamkan matanya karena jam dinding di kamar itu telah menunjukkan angka 11 malam. Meta pun dengan kesal menarik selimutnya dan ikut memejamkan matanya daripada ribut dengan Alana. Meta tahu bahwa Alana tidak akan menyerahkan ponselnya, ia pun akhirnya tertidur. Alana yang merasa Meta sudah tertidur pulas, kembali bangkit dan terduduk di kasurnya. Ia merasakan degup jantungnya yang berpacu tak beraturan, sebahagia itulah dirinya saat ini. Ia mengembalikan ponsel Meta ke atas nakas dan kembali merebahkan tubuhnya. Ia mulai memejamkan matanya, ia ingin melanjutkan mimpi-mimpi indah lainnya lagi.


Di kamar lain, Gema merasakan sedikit kelegaan hatinya usai bercerita panjang lebar dengan Alka di taman tadi. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyakinkan dirinya sendiri, ia akan berjuang mendapatkan hati Alana. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menyakiti hati Alana. Ia akan mencoba menyembuhkan luka yang masih tergores dalam hati Alana, meskipun ia tidak tahu seperti apa masa lalu Alana sebelumnya. Tapi ia masih malu jika besok harus berhadapan langsung dengan Alana di bus karena perjalanan mereka masih 2 hari lagi baru kembali ke kota Bandung.


Gema mendengar dengkuran Pak Asep dan teman-teman sekamarnya. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur disertai senyum yang sedari tadi mengembang di wajahnya itu mengantarkannya pada mimpi indahnya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2