
Di ruang kerjanya Alana masih mengingat pesan singkatnya pada Gema semalam. Ia jadi merindukan lelaki itu, meskipun baru beberapa jam berpisah, tak membuatnya berhenti memikirkan pujaan hatinya itu. Sejenak ia keluar ruangan untuk berkeliling pabrik agar pikirannya sedikit teralihkan akan Gema. Ia bercengkrama dengan para pegawai pabrik yang terlihat lebih sedikit dari biasanya, karena hampir sebagian pegawai tengah liburan ke Jogja. Baru beberapa bulan ia sudah mampu untuk mengelola pabrik, karena ialah yang nanti akan mengelola pabrik itu sendiri tanpa bantuan Alka, karena Alka akan dipindahkan ke Bogor oleh ayahnya untuk mengembangkan pabrik cabangnya.
Di ruangan lain, Alka dengan telatennya menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk karena ia akan mengambil cuti beberapa minggu setelah acara pernikahannya dengan Meta. Seusai menikah, Alka akan menetap bersama istrinya itu di kota Bogor. Alka memimpin pabrik cabang di Bogor, sedangkan Meta masih tetap berprofesi sebagai dokter tapi tidak di rumah sakit, melainkan dokter pribadi di pabrik cabang itu. Itupun karena permintaan Meta yang masih berat meninggalkan profesi yang telah membesarkan namanya di rumah sakit besar di Bandung. Dan ia juga berencana buka praktek sendiri di rumah mereka nanti. Ia berharap masih bisa membantu orang-orang yang membutuhkan dirinya sebagai dokter sampai kapanpun.
Alka yang bangga pada profesi calon istrinya itu akan selalu mendukung apa yang diinginkan Meta. Alka juga tidak akan memaksa Meta untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi anak-anak mereka kelak, karena profesi yang dijalani Meta sangat penting terlebih bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ia telah menyiapkan ruangan khusus di rumah mereka nanti sebagai tempat praktek pribadi untuk Meta menangani pasien-pasiennya. Sebenarnya cita-citanya ingin membangun sebuah rumah sakit, namun itu masih dalam sebatas angannya. Setelah pabriknya berkembang pesat, nantinya ia akan mewujudkan impiannya satu itu. Ia juga berharap anak-anak mereka kelak ada yang mewarisi keahlian masing-masing dari orang tua mereka.
Setelah makan siang bersama Alana, Alka segera menyelesaikan kembali pekerjaannya. Jam 3 sore ia pulang cepat karena akan menjemput Meta yang kebetulan dinas pagi di rumah sakit tempatnya bekerja. Mereka berdua akan mengunjungi pemilik gedung untuk menyelesaikan pembayaran sewa gedung sekaligus catering untuk acara pernikahan mereka minggu depan. Alka tiba di rumah sakit tepat jam setengah 4 sore, ia mengambil ponselnya di saku jasnya dan menelepon calon istrinya yang sedari tadi sudah menunggu di ruangannya.
“Hallo sayang, aku udah di parkiran nih,” ucap Alka setelah panggilannya diterima sang calon istri.
“Iya sayang, aku segera kesana.” Meta bangkit dari tempat duduknya, kemudian melepas jas putih khas kedokteran itu, lalu menenteng tas kecilnya keluar ruangan. Ia berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit hingga tiba di parkiran, terlihat Alka tengah menunggunya di depan mobilnya.
__ADS_1
“Hai, maaf ya kamu jadi nunggu lama. Tadi ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan.” Alka meminta maaf pada calon istrinya karena telah menunggunya dari tadi.
“Tidak apa-apa sayang, lagian aku juga baru selesai visite ruangan. Iya udah, yuk kita berangkat sekarang, takut yang punya gedung nungguin,” kata Meta seraya menyunggingkan senyumnya.
“Iya juga yaa, yuk berangkat.” Alka membukakan pintu mobilnya untuk Meta dan ia segera masuk dan duduk di belakang kursi kemudi. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar segera sampai di gedung pernikahan mereka nanti.
Di kantor, Alana masih setia berkutat dengan dokumen-dokumen penting klien yang akan ia temui besok. Ia mempersiapkan berkas yang akan dibawanya besok untuk presentasi dengan perusahaan benang dari Sleman Jogjakarta, yang tak lain adalah perusahaan tempat mendiang ayah Gema dulu bekerja. Alana besok akan didampingi Pak Alex karena ayahnya itu telah lama tidak bertemu dengan klien-klien dari Jogja. Mungkin sejak kecelakaan yang menimpa pemilik pabrik benang itu, pabrik tutup untuk sementara waktu hingga membuat Pak Alex memilih pabrik lain yang bisa mengirim bahan baku ke pabriknya. Dan baru beberapa waktu lalu setelah perjalanan dari Jogja, Pak Alex terpikir untuk mencari informasi pabrik benang itu. Dan hasilnya sesuai dugaan, pabrik benang itu kini telah berdiri kembali dengan pengelola baru, yang tak lain adalah istri pemilik pabrik dan anak-anaknya.
Sebenarnya Alana ingin mempresentasikan sendiri produk pabriknya yang membutuhkan banyak sekali benang kualitas terbaik dan itu berasal dari pabrik benang di Sleman, tapi karena Pak Alex yang memaksa ingin ikut, Alana tak bisa berbuat apa-apa.
Lima belas menit perjalanan, tak lama Alana sudah berada di depan rumah Gema. Ia turun dari mobil dan mengeluarkan semua barang belanjaannya tadi. Ia berjalan menghampiri pintu dan mengetuk pelan pintu rumah Gema. Terlihat seorang wanita paruh baya membuka pintu seraya mengulaskan senyumnya pada Alana.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Bu,” ucap Alana sopan seraya mencium tangan ibu Gema.
“Wa’alaikumsalam. Eh Nak Alana datang, silakan masuk.” Ibu Gema senang sekali Alana mau berkunjung ke rumahnya kembali. Ia melihat Alana membawa beberapa kantong belanja hingga ia berkata,” Nak kamu bawa apa aja itu kok banyak sekali.”
“Ini Alana bawa beberapa bahan makanan untuk Ibu masak di rumah.” Alana menyerahkan kantong yang dibawanya tadi, ibu Gema menerima dengan sedikit sungkan.
“Terima kasih ya Nak. Jangan repot-repot, Ibu masih bisa belanja di pasar dekat sini. Silakan duduk dulu, Ibu buatkan minuman ya?” Alana menurut saja dengan ucapan ibu Gema, ia mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu rumah Gema.
Tak lama kemudian, ibu Gema keluar dengan dua cangkir teh hangat dan menyajikannya di meja, tak lupa beberapa camilan di nampannya. Satu jam kemudian, Alana ingin membantu ibu Gema untuk menyiapkan makan malam. Meskipun di rumahnya banyak pelayan, Alana masih bisa berkutat dengan alat-alat dapur, itupun karena pengalamannya saat kuliah di luar negeri. Jadi ia bersyukur bisa memasak hingga tak sungkan membantu ibu Gema di dapurnya.
Setelah masakan matang dan siap, mereka makan malam berdua saja. Saat Gema ke luar kota, biasanya Lita yang menemani ibunya, kali ini anak itu tengah ada acara kemah di sekolahnya yang membuat ia tak bisa menemani ibu Gema di rumah. Dengan kehadiran Alana hari ini, ibu Gema tak merasa kesepian, apalagi besok hari Minggu. Alana punya waktu santai untuk pulang agak larut namun telah dapat ijin dari orang tuanya terlebih dahulu. Mereka menikmati masakan yang mereka buat berdua tadi, sesekali saling memuji satu sama lain. Betapa bahagianya ibu Gema seperti tengah memiliki seorang anak perempuan ia begitu ia inginkan dari dulu.
__ADS_1
Andaikan ayah Gema tidak meninggal saat itu, mungkin ia akan memiliki putri yang cantik seperti Alana. Namun ia tetap bersyukur dengan apa yang dimilikinya sekarang, itu lebih dari cukup. Setelah makan malam bersama, Alana membantu membereskan peralatan makan dan mencucinya.
Kemudian ia berpamitan pulang pada ibu Gema karena malam semakin larut. Ibu Gema mengantarkannya hingga depan rumah, Alana mencium tangan ibu Gema. Lalu masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya ke rumahnya dengan perasaan bahagia. Ia bahagia menemukan sosok ibu lagi selain ibunya. Ibu yang memiliki hati lembut seperti ibunya, ia pun berencana mengajak ibu Gema ke taman kota besok sore.