Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Salah Paham


__ADS_3

“Hallo, hallo.. Gema, apa kamu masih disana?” Alana berkali-kali memanggil Gema karena tidak ada sahutan setelah dirinya berbicara tadi.


Gema masih tak bergeming, ia masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Perasaannya campur aduk tak karuan, antara bahagia mendengar Alana akan bertunangan dan sekaligus sedih yang tak bisa dijelaskan alasannya. Sekian lama Alana menunggu dan tidak ada jawaban, ia mematikan teleponnya.


(Kenapa Gema tidak menjawab pertanyaanku dari tadi? Dia sedang keluar dan meninggalkan ponselnya atau gimana sih? gumam Alana sedikit kesal).


“Apa aku hubungi Gema lagi ya?” Alana berbicara sendiri, ia mengutak-atik ponselnya dan menelepon Gema kembali.


Seketika lamunan Gema buyar saat ponsel dalam genggamannya berdering lagi. Matanya membulat menatap layar ponselnya, terlihat Alana tengah meneleponnya kembali. Ia mengira Alana tadi mematikan teleponnya karena tidak mendapat respon darinya yang terkejut dengan undangan Alana.


“Astaga, tadi Alana kan sedang telepon malah aku tinggal melamun,” gumam Gema merutuki kebodohannya sendiri. Ia pun segera menerima panggilan itu.


“Hallo Alana, maaf tadi aku tinggal.....,” Gema tak melanjutkan kata-katanya. “O iya perihal undangannya akan aku sampaikan kepada Pak Asep. Besok kita usahakan akan menghadiri undanganmu” lanjut Gema dingin.


“Hmmm, tidak apa-apa Gema. Aku kira kamu tadi sibuk sekali sampai gak meresponku. Aku minta maaf kalau udah mengganggu pekerjaan kamu,” kata Alana ketika Gema telah menjawab teleponnya dengan nada yang datar.


(Kenapa sikapnya berubah menjadi dingin seperti itu? Apa aku salah ngomong tadi? batin Alana yang merasakan perubahan nada dari jawaban Gema).

__ADS_1


“Tidak Alana, aku yang minta maaf. Baiklah, besok aku dan Pak Asep harus datang jam berapa?” Gema masih bersikap sama.


“Besok datanglah jam 7 malam, aku dan Papa berharap kalian akan datang.”


“Baik Alana, terima kasih atas undangannya.” Gema langsung mematikan teleponnya dan melempar ponselnya ke atas meja. Entah apa yang ia rasakan hingga ia bisa bersikap seperti itu, ia pun tak memahami maksud hatinya. Di tempat lain, Alana masih heran dengan sikap Gema. Tapi ia tetap berpikir positif mungkin Gema sedang banyak pekerjaan meskipun ia tak mengakuinya tadi.


Seketika Gema mengusap kasar wajahnya dan sudah tidak fokus lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia melihat ke arah jarum jam masih menunjukkan pukul 4 sore, tandanya masih 1 jam lagi ia diperbolehkan pulang. Karena Pak Asep tidak ada di ruangannya, Gema berdiri dari mejanya untuk mencari Pak Asep barangkali beliau sedang berada di depan kantor. Ia keluar ruangan dan menemukan Pak Asep tengah bersenda gurau dengan Mang Didin di dapur kantor.


“Maaf Pak Asep saya mau mengganggu sebentar.” kata Gema sopan, seketika Pak Asep dan Mang Didin menoleh ke arahnya.


“Ada apa Gema? Apa kamu mau mengajukan paket wisata baru lagi?” tanya Pak Asep setelah melihat raut wajah Gema yang begitu serius.


“Pak Alex mengundang kita berdua?”


“Iya Pak, acaranya besok jam 7 malam. Apa Bapak bisa hadir?”


“Tentu, saya akan hadir, berangkatnya sama kamu kan Gema?”

__ADS_1


“Rasanya tidak pantas jika saya hadir dalam acara itu Pak,” kata Gema yang enggan hadir dalam acara pertunangan itu. Ia masih yakin bahwa Alana yang akan bertunangan, ia pun tak tahu apa yang saat ini ia rasakan pada Alana. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada gadis itu?


“Apanya yang tidak pantas Gema? Kita kan diundang langsung sama Pak Alex dan putrinya, kalau kita tidak hadir pasti mereka akan kecewa. Sebentar lagi juga kita akan mengantar rombongan dari perusahaan mereka. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, besok pakailah baju yang sopan untuk menghadiri acara penting itu.” kata Pak Asep yang membuat hati Gema semakin berat dalam menghadapi hari esok.


“Baiklah jika menurut Bapak begitu. Saya besok akan memakai baju yang pantas dan sopan. Saya permisi dulu Pak, mari Mang Didin” pamit Gema meninggalkan ruangan itu, tak lupa ia menyapa Mang Didin yang tengah sibuk membuatkan kopi untuk Pak Asep. Pak Asep menatap heran Gema yang bersikap tak seperti biasanya.


“Mas Gema kenapa kelihatan sedih gitu ya Pak?” tanya Mang Didin yang juga merasakan perubahan sikap Gema.


“Saya juga berpikir seperti itu, tidak biasanya Gema kelihatan sedih seperti tadi. Apa dia ada masalah? Tapi dia tadi cerita ibunya juga sudah sehat.”


“Apa jangan-jangan mas Gema sedih gara-gara undangan tadi Pak?” tanya Mang Didin lagi dan membuat Pak Asep terkesiap mendengarnya.


“Ah, iya juga ya Mang? Apa Gema suka sama Nona Alana? Dari tadi saya juga bertanya-tanya sendiri dalam hati.” Pak Asep pun berpikiran sama dengan Mang Didin. Mereka pun akhirnya membubarkan diri ketika kopi Pak Asep sudah selesai dibuatkan oleh Mang Didin. Pak Asep pun kembali ke ruangannya, dan melewati meja Gema, ia terlihat murung dan kehilangan semangat. Namun Pak Asep masih ragu untuk menanyakannya pada Gema.


*Esoknya


Rumah megah milik Pak Alex kini tengah dihiasi berbagai macam dekorasi bunga dan cahaya lampu yang bersinar terang menambah megah suasana malam nanti. Acara pertunangan Alka dan Meta yang disiapkan dalam waktu singkat itupun akan segera dimulai dalam beberapa jam lagi. Terlihat Alana tengah sibuk mengarahkan para pegawai event organizer itu untuk menghias bunga di sekitar kolam renang. Ia juga mengawasi bagian catering yang tengah menata makanan dan minuman yang disediakan untuk para tamu undangan nanti. Pak Alex dan Alka mengenakan tuxedo berwarna hitam yang menambah ketampanan mereka. Alana dan Bu Anne pun memakai gaun warna peach dengan make up natural yang akan menambah kesan lebih anggun dari biasanya. Meta dan keluarganya pun telah sampai di rumah Alka dengan memakai pakaian senada. Acara pertunangan ini memang diadakan di rumah Alka karena nanti untuk acara pernikahannya baru diselenggarakan di rumah Meta. Karena mereka hanya mengundang kerabat dekat dan orang-orang tertentu saja jadi cukup diadakan di rumah untuk acara sakral itu.

__ADS_1


Gema tengah memarkirkan mobil tuanya tepat di halaman yang luas di depan rumah Alana. Disana sudah berjajar mobil-mobil mewah dengan merk keluaran terbaru. Hati Gema merasa minder jika mobil tuanya disandingkan dengan mobil-mobil mewah itu. Namun ia membuang jauh pikiran itu seketika karena ia sudah bersyukur memiliki mobil peninggalan dari ayahnya. Ia melangkahkan kakinya dengan berat masuk ke rumah mewah Alana. Hatinya semakin dag dig dug tak karuan, ingin sekali ia melihat seperti apa wajah calon suami Alana.


(Pasti calon suami Alana berwajah rupawan, bergelimang harta dan tak kalah terpandang dari Pak Alex orang tua Alana, gumam Gema dalam hati).


__ADS_2