Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Berpisah


__ADS_3

Maaf untuk para pembaca setia Gema di Hatiku, untuk akhir-akhir ini author tidak bisa up setiap hari karena kesibukan author di dunia nyata. Semoga tetap setia menunggu cerita selanjutnya. Silahkan dilanjutkan membaca bab ini. 😍


Dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, mungkin mereka sama-sama sedang lelah. Gema memperhatikan gadis manis di sampingnya itu, Alana tampak menguap beberapa kali hingga matanya berair. Gema tidak tega melihatnya, ia pun menyuruh Alana untuk memejamkan matanya sejenak.


“Alana, kamu tidur aja dulu. Nanti kalau udah sampai aku bangunin,” ucap Gema seraya mengelus kepala Alana.


“Enggak ah, aku tidur di rumah aja nanti. Lagian bentar lagi juga sampai.”


Alana menolak untuk tidur di mobil, karena jarak rumah mereka hanya beberapa kilometer dan tidak memakan waktu lama.


“Iya sudah kalau itu mau kamu. O iya, perasaan kamu tadi gimana setelah ketemu Ibu aku?” Gema bertanya namun tetap fokus pada jalan di depannya.


“Sama seperti pertama kali aku ketemu sama Ibu kamu, beliau tetap ramah dan baik sama aku,” ucap Alana dengan seulas senyum di wajahnya.


“Tuh kan, apa yang kamu khawatirkan nggak terjadi kan? Aku senang lihat kalian berdua makin akrab seperti tadi.” Gema merasa lega dengan ucapan Alana, ia begitu bahagia dua wanita yang ada dalam hatinya kini makin akrab layaknya ibu dan anak kandung.


Tak terasa mereka berdua telah sampai di depan rumah Alana. Gema keluar dari mobilnya dan segera membukakan pintu untuk Alana. Mereka saling melempar senyum, rasanya hari ini cepat berlalu padahal mereka masih ingin bersama-sama.


“Kamu masuk dulu ya? Papa sama Mama mungkin belum tidur,” pinta Alana seraya menggandeng tangan Gema.


Alana masuk ke dalam rumah dan melihat ke ruang tengah yang lampunya masih menyala, tandanya orang tuanya masih bercengkrama seperti biasanya. Mereka selalu menunggu anak-anaknya pulang baru mereka bisa kembali ke kamar. Mereka akan pergi tidur lebih awal jika sebelumnya anak-anak mereka ijin untuk pulang terlambat. Pak Alex dan Bu Anne menoleh saat terdengar pintu rumahnya terbuka.


“Alana, kamu sudah pulang Nak. Eh, Gema mampir rupanya.”


“Iya Ma, tadi Alana mampir ke rumah Gema dulu,” kata Alana sambil duduk di sofa yang ada di depan ayahnya.


Bu Anne bangkit dari tempat duduknya dan menyambut mereka berdua. Gema mencium tangan ibu kekasihnya itu, kemudian melangkah menghampiri Pak Alex yang tengah membaca buku.

__ADS_1


“Maaf Pak Alex, Alana terlambat pulang karena mampir ke rumah saya dulu.”


“Iya Gema, sudah seharusnya Alana harus lebih dekat dengan Ibu kamu.” Pak Alex memainkan matanya ke arah Alana hingga Alana mencebik kesal.


“Gema mau minum apa?” tanya Bu Anne yang akan melangkah menuju dapur.


“Emm, tidak perlu repot-repot Bu, saya hanya mampir sebentar. Ibu di rumah sendiri, jadi saya tidak bisa lama-lama,” ucap Gema sopan.


“Baiklah kalau begitu.” Bu Anne kembali duduk di samping suaminya.


“Oh iya Gema, gimana persiapan keberangkatan kloter dua minggu depan?”


“Semua persiapan sudah selesai Pak, tinggal berangkat saja. Semoga perjalanan minggu depan lancar seperti keberangkatan rombongan sebelumnya,” jelas Gema.


“Luar biasa kamu Nak. Iya semoga perjalanannya lancar dan sama seperti kemarin. Kamu ikut mendampingi rombongan lagi?”


“Wah, Alana kesepian dong minggu depan. Hahaha.” Suara Alka menyahut dari dapur ketika ia sedang mengambil air minum.


“Kakak apaan sih. Gema kan hanya pergi sebentar. Mana mungkin aku kesepian, nggak kayak kakak yang sering kangen sama Kak Meta.” Alana tak mau kalah dengan sindiran kakaknya itu. Mereka semua tertawa melihat tingkah mereka berdua yang tak pernah akur jika bertemu namun saling menyayangi satu sama lain.


Satu jam berlalu, Gema berpamitan untuk pulang mengingat ibunya telah ditinggal cukup lama untuk mengantar Alana. Ia terlalu sungkan karena sudah larut masih berada di rumah keluarga Alana yang begitu hangat pada siapapun. Kemudian ia bangkit dari duduknya, lalu ia mencium tangan Pak Alex dan Bu Anne, tak lupa berpamitan pada Alka. Ia diantar Alana hingga depan rumah.


“Makasih ya hari ini. Nanti kalau udah sampai kamu kabari aku.” Alana berucap sambil menahan kantuknya.


“Iya, nanti aku kabari kamu. Tapi kamu sebaiknya istirahat setelah ini, kamu kelihatan lelah sekali.” Gema berkata seraya mengusap pelan rambut Alana.


“Iya udah, kamu hati-hati. Jangan ngebut.” Alana melambaikan tangannya saat Gema sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


“Siap Tuan Putriku. Aku pulang ya. Daadaa” ucap Gema seraya melambaikan tangannya.


Setelah mobil Gema tak terlihat, Alana masuk ke dalam rumah. Ia segera menuju kamarnya, ia meletakkan tas dan sepatu pada tempatnya. Kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian lengket dengan keringat. Ia berendam air hangat beberapa saat, dan selesai mandi, ia sudah mengenakan piyamanya. Alana mengambil ponsel di tasnya lalu merebahkan tubuhnya di kasur empuknya itu. Belum ada pesan masuk dari Gema, mungkin dia masih dalam perjalanan. Alana menyempatkan membaca buku sebentar, namun karena rasa kantuk yang dari tadi ia tahan, ia sampai ketiduran dalam posisi duduk bersandar di ranjangnya.


Gema sudah tiba di rumah beberapa menit yang lalu, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu seperti biasa, melihat ibunya yang tengah tertidur ia pun segera ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah berpakaian, tak lupa ia mengirim pesan pada Alana. Beberapa saat ia menunggu tidak ada balasan.


Mungkin Alana sudah tidur, batin Gema.


Ia pun naik ke atas ranjangnya dan mulai memejamkan matanya.


Pagi pun tiba, dua anak manusia itu tengah berada dalam mobil Gema untuk berangkat kerja bersama. Kebetulan kantor Gema searah dengan pabrik keluarga Alana, jadi Gema setiap hari mengantar jemput Alana. Terkadang ia membawa motor vespa kesayangannya, namun karena cuaca akhir-akhir ini tidak menentu, Gema harus membawa mobil agar Alana lebih nyaman. Meskipun mobil tua, namun Alana tak pernah malu semobil dengan Gema. Orang-orang pabrik yang melihat kebersamaan mereka pun malah senang, meskpun kaya raya, Alana orang yang baik dan menghargai orang lain, tak pernah pilih-pilih dalam berteman apalagi menentukan pasangan.


Hingga di akhir pekan ini, Alana harus rela ditinggal Gema beberapa hari untuk mendampingi rombongan pegawai Alana Jaya Tekstil untuk melakukan gathering ke Jogja. Alana turut menemani Gema saat rombongan akan berkumpul di halaman parkir pabrik. Ini pertama kalinya mereka berpisah semenjak mereka berdua menjalin kasih. Karena sejak berpacaran dengan Gema, Alana tak pernah seharipun tak bertemu pemuda tampannya itu. Jadi belum ada rasa rindu yang mereka rasakan.


“Alana, aku pergi dulu ya. Kamu besok berangkat ke kantor sendiri, karena aku nggak bisa jemput kamu,” kata Gema seraya menggenggam hangat tangan Alana.


“Iya aku besok berangkat sendiri. Kamu jangan repot-repot jemput aku. Hahaha,” ucap Alana sambil tertawa, namun sesaat Alana terdiam saat menyadari mereka akan berpisah sementara waktu.


“Kamu kenapa?” tanya Gema yang membaca raut wajah Alana yang berubah seketika.


“Enggak. Aku enggak apa-apa kok. Mungkin ini baru pertama kalinya kita berpisah. Jadi rasanya aneh aja.” Alana berucap sambil berkaca-kaca, Gema jadi tak tega menatapnya. Ia pun langsung memeluk erat gadis manisnya itu.


“Doakan aja semoga perjalanannya lancar, dan bisa segera kembali kesini lagi. Besok kalau udah sampai aku kabari ya.” Gema merenggangkan pelukannya dan mengelus lembut kepala Alana.


“Iya, aku tunggu kabar kamu.”


Alana melepaskan pelukan Gema, lalu Gema segera naik ke dalam bus karena rombongan akan segera berangkat. Alana melambaikan tangannya hingga bus itu tak terlihat lagi di hadapannya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil Alka yang telah menunggunya dari tadi, ia dengan setia menunggu adiknya yang terlihat begitu berat berpisan dengan kekasihnya. Kemudian mereka pulang bersama-sama setelah rombongan pada bus terakhir telah berangkat dan meninggalkan halaman pabrik yang terlihat sepi kembali.

__ADS_1


__ADS_2