Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Kejadian Lucu di Museum


__ADS_3

Selepas mandi dan sholat subuh, Gema bergegas mengunjungi makam ayahnya yang letaknya tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Ia menggunakan becak sebagai alat transportasi tradisional di Jogja itu untuk pergi ke makam. Tak lama kemudian ia telah sampai di pelataran makam, ia meminta sang tukang becak untuk menunggunya sebentar kemudian ia membeli bunga di area pelataran itu. Ia berjalan menyusuri makam itu, makam masih terlihat terawat karena memang setiap bulan ia mengantar rombongan ke Jogja, jadi setiap bulan juga ia berkunjung ke tempat itu. Gema berhenti di pusara ayahnya, sejenak ia duduk untuk menaburkan bunga dan memejamkan matanya seraya melantunkan doa untuk almarhum ayahnya. Tak lama membacakan doa untuk ayahnya, kemudian ia berpamitan di depan pusara ayahnya itu.


“Ayah, Gema berkunjung lagi kesini, maaf Gema tidak bisa sering-sering mengunjungi Ayah, tapi Gema usahakan tiap bulan pasti Gema sempatkan kesini. Ibu titip salam dan doa untuk Ayah. Kami berdua baik-baik saja. Gema pamit ya Yah, bulan depan Gema kesini lagi.” Gema bangkit dari duduknya dan kembali ke pelataran makam, ia segera naik becak yang menunggunya tadi untuk mengantarnya kembali ke hotel.


Setelah sarapan bersama, rombongan sudah berada di Museum Ullen Sentalu, wisata edukasi yang diperuntukkan tak hanya bagi anak-anak tapi juga untuk semua usia terutama generasi muda. Terpilih sebagai museum kedua terbaik di Indonesia tahun 2018, museum ini didirikan dalam rangka mengenalkan sejarah Keraton Solo dan Yogyakarta. Para pengunjung dapat melihat banyak lukisan dan foto bangsawan, koleksi kain batik Solo dan Yogyakarta, gamelan kuno, arca-arca budaya Hindu dan Budha serta peninggalan lainnya.


Meskipun museum ini selalu menyediakan fasilitas pemandu tur, kebetulan banyak teman Gema yang bekerja di museum jadi Gema tidak perlu meminta mereka untuk memandu rombongannya. Gema berjalan di depan untuk memimpin rombongan seraya menjelaskan bagaimana awal berdirinya museum ini. Karena Gema orang Jogja asli, ia dengan luwes menerangkan sejarah museum dan mengajak rombongan menelusuri setiap ruangan museum.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan adik-adik sekalian, saat ini kita telah berada di Museum Ullen Sentalu. Saya akan menjelaskan sedikit tentang museum ini. Jadi awalnya museum ini ada museum koleksi pribadi yang digagas oleh keluarga Haryono, yang merupakan keluarga pembatik di Yogykarta yang masih keturunan bangsawan. Mereka senang mengoleksi peninggalan warisan budaya Jawa. Selain sumbangan dari keluarga Haryono, koleksi di Museum Ullen Sentalu ini juga didapat dari hibah Yayasan Ulating Blencong atau pengelola museum dan sesepuh keluarga kerajaan Mataram,” jelas Gema panjang lebar.


Alana terkesima mendengar Gema memandu semua rombongan itu. Ia kagum dengan keahliannya di bidang ini, ia ahli membuat paket wisata yang menarik, ia pun pandai membuat situasi yang nyaman bagi rombongan. Tak pernah sekalipun ia meninggalkan rombongan, ia tetap setia mendampingi dan mengawasi rombongan agar tidak terpisah satu sama lain. Alka yang memperhatikannya sejenak menyenggol tangan adiknya itu sambil berdehem.


“Ehemm, lagi liatin pangerannya ya?” goda Alka seketika membuyarkan lamunan Alana.


“Kakak, gangguin orang aja.” Alana menjauh dari Alka dan mendekat ke ayah dan ibunya.


“Ngapain kamu pindah kesini Nak?” tanya Bu Anne.


“Alana ogah dekat-dekat sama Kak Alka, nanti digodain terus.” Alana mengerucutkan bibirnya dan Bu Anne tersenyum pada Pak Alex.

__ADS_1


“Pa, kelihatannya anak kita sedang jatuh hati sama pangeran di depan itu,” bisik Bu Anne yang masih bisa didengar Alana.


“Iya Ma, Papa juga lihat kok dari awal kita berangkat, ada aura-aura gimana gitu dari anak kita.” Pak Alex dan Bu Anne pun ikut menggoda Alana, seketika ia pun memerah wajahnya.


“Papa, Mama dan Kak Alka sama aja ternyata.” Alana berlalu meninggalkan keduanya. Ia mencari tempat yang jauh dari keluarganya.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu dan adik-adik sekalian,di museum ini ada peraturan bagi pengunjung agar tidak berfoto atau mengambil gambar apapun.”


Pengumuman Gema seketika membuat rombongan sedikit bersedih, apalagi anak-anak dan ibu-ibu.


“Tapi jangan khawatir, ada beberapa spot khusus yang disediakan untuk berfoto yaitu di area replika relief Candi Borobudur di ujung sana,” lanjut Gema dan seketika mengembalikan keceriaan rombongan.


Rombongan pun membubarkan diri, ada yang beristirahat, ada pula yang sedang berfoto-foto tak terkecuali Alana. Ia memang suka sekali berfoto, beda dengan Gema yang suka memotret. Ketika ia tengah menemukan obyek yang menarik, ia mengeluarkan lensanya. Saat akan memotretnya, tak sengaja gambar Alana yang berada di dalam obyek lensanya. Dan cekrek, terlihat Alana sedang selfie dengan gaya yang sangat manis.


“Lho, kok jadi foto Alana disini,” gumam Gema seketika melihat hasil jepretannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang melihat gadis yang disukainya itu tengah berpose begitu manis.


Alana masih tak bergeming disana, ia tak menyadari Gema tak sengaja memotretnya. Ia masih melanjutkan kegiatannya itu. Sesaat ia melihat Gema tengah memperhatikannya, hatinya pun merasa berdesir. Mata mereka pun bertemu kembali, menyiratkan perasaan yang belum bisa mereka ungkapkan saat itu. Gema berdiri mematung saat Alana menatapnya, tubuhnya menjadi gemetar saat Alana berjalan menghampirinya.


“Gema, kamu mau foto? Sini aku bantuin,” pinta Alana yang mengira Gema akan berfoto.

__ADS_1


“Eh, eng.. enggak Alana, aku nggak suka foto, aku lagi cari obyek yang bagus aja buat difoto,” jawab Gema terbata saat Alana telah berdiri di depannya.


“Gak papa lagi kalau mau foto, sini aku fotoin, biar kamu punya kenangan disini. Udah sana.” Alana menyahut kamera yang dipegang Gema, Gema pun hanya bisa menurut. Ia berat melangkahkan kakinya karena tubuhnya masih terasa gemetar. Alana yang mengetahuinya malah menggoda dengan menepuk bahunya hingga Gema hampir kesandung.


“Astaga, Alana, kamu bikin aku hampir terjatuh lho.” Gema berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Entah tingkah Gema begitu lucu saat itu, hingga membuatnya tak bisa menahan tawanya. Gema hanya bisa menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal itu. Dari kejauhan terlihat Alka dan Meta menghampiri mereka berdua. Alka ingin memanfaatkan moment itu untuk lebih mendekatkan Gema dan Alana.


“Hehehe, lagi ketawa bareng gak ajak-ajak nih,” ucap Alka seraya menggandeng tangan Meta.


“Eh, mas Alka.” Gema malu-malu melihat Alka, ia masih mengingat kejujurannya semalam pada kakak Alana itu.


“Kakak ngapain sih kesini?” Alana mencebikkan bibirnya kesal.


“Kakak pengen fotoin kalian berdua, sini kameranya.” Alka merebut kamera dari tangan Alana setelah melepaskan genggaman tangannya dengan Meta. Meta yang mengetahui niat Alka hanya tersenyum.


“Apaan sih Kak, nggak usah repot-repot, aku udah foto sendiri tadi. Gema tuh yang belum foto,” rengek Alana seraya mengambil kamera dari tangan Alka, tapi Alka menahannya.


“Udahlah, sana kalian berdua ambil posisi, biar aku yang foto.”


“Emm, nggak usah Mas Alka, aku nggak suka foto. Biar Alana aja sama Kak Meta.” Gema juga menolak untuk berfoto bersama Alana.

__ADS_1


Akhirnya Meta menarik tangan Gema dan Alana menuju spot menarik di tempat itu dan dengan kaku Gema dan Alana akhirnya foto bersama. Alka mengacungkan jempolnya pada Meta. Gema dan Alana sama-sama menahan malu dan kesal atas perbuatan Alka dan Meta saat itu. Mereka pun akhirnya berkumpul kembali di dalam bus untuk melanjutkan wisata selanjutnya.


__ADS_2