Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Bertemu Ibu Gema


__ADS_3

Esoknya, sepulang kerja Gema langsung menuju kantor Alana. Ia akan menjemput kekasihnya itu untuk menemui ibunya. Ia melajukan vespanya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di kantor Alana. Karena ia sudah terlambat setengah jam dari janji mereka kemarin. Ia takut Alana marah, dan tak lama ia sampai di depan pabrik. Ia merogoh saku celananya untuk menghubungi Alana yang masih ada di dalam kantor. Ponsel Alana berdering dari atas meja kerjanya.


“Hallo Gema, kamu udah sampai?” Alana mengetahui Gema yang tengah meneleponnya.


“Iya Alana, aku udah di depan pabrik. Maaf ya kamu jadi nunggu lama. Tadi ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan,” jelas Gema yang tengah mengkhawatirkan Alana yang terlalu lama menunggunya.


“Iya, aku nggak nunggu lama kok. Lagian aku juga baru aja selesai, aku kesana sebentar lagi. Tunggu ya.” Alana menutup teleponnya, ia segera merapikan meja, lalu turun ke lantai bawah. Dari kejauhan ia melihat Gema yang tengah berbincang dengan satpam pabrik.


“Itu Non Alana, Mas,” ucap satpam pabrik itu ketika melihat Alana sudah keluar.


“Iya Pak, saya pamit pulang dulu ya. Selamat bekerja kembali.”


Setelah berpamitan Gema menghampiri Alana yang tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum.


“Hai, kamu nunggu lama ya?” tanya Alana seraya memakai helmnya.


“Enggak juga, kan ditemenin Pak Satpam. Aku kira tadi kamu yang nunggu lama karena kaku udah telat jemput,” ucap Gema seraya menyalakan vespanya dan Alana naik di belakangnya.


“Tadi aku masih ada kerjaan, sampai lupa nelpon kamu.”


Gema melajukan motornya keluar pabrik, di depan pos satpam mereka berdua tak lupa menyapa satpam yang tengah berjaga. Sang satpam pun membalasnya dengan senyum ramah.


Di perjalanan Alana sedikit gugup, meski bukan pertama kalinya bertemu dengan ibu Gema. Dulu kan belum menjadi kekasih Gema, jadi hanya sekedar menyapa saja. Namun kini, ia telah menjadi kekasih Gema, ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Gema yang menyadari Alana dari tadi diam saja mencoba bertanya.


“Alana, kamu kenapa diam aja dari tadi?”


“Emm, sebenarnya aku gugup mau ketemu ibu kamu?”

__ADS_1


“Ya ampun, aku kirain kamu kenapa? Udah santai aja, kamu kan udah pernah ketemu Ibu? Ibu gak menakutkan kan?”


“Iya juga sih, tapi dulu kan kita belum ada apa-apa. Tapi sekarang aku pacar kamu, ya beda keadaannya.” Alana masih sibuk meremas tangannya hingga berkeringat karena gugupnya yang berlebihan.


“Sini kamu pegangan , jangan gugup. Kan Ibu hanya ingin kenal lebih dekat aja sama kamu.” Gema meraih pelan tangan Alana untuk berpegangan pada pinggangnya agar lebih nyaman. Alana merasakan ia lebih tenang dari sebelumnya. Tak lupa mereka mampir ke toko roti langganan mereka untuk membeli oleh-oleh buat ibunya Gema, seperti biasa roti abon dan puding strawberry.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah yang sangat asri dan terdapat taman kecil pada pekarangan yang ada depan rumah itu. Taman kecil itu terlihat sangat terawat, banyak bunga-bunga yang tengah mekar di dalam pot-pot yang berjajar rapi di sekitar pekarangan. Di ujung pekarangan terdapat mobil tua milik Gema yang terlihat mengkilap. Meskipun rumah itu terlihat sederhana tapi tampak indah dengan dihiasi bunga-bunga di sekitar rumah dan dinding-dindingnya pun ditumbuhi tanaman anggrek berwarna-warni. Ibu Gema mengisi waktu luangnya untuk merawat bunga, Alana terpaku dan terpesona dengan keindahan rumah sederhana itu.


“Mau masuk atau di atas motor aja nih Neng?” ucapan Gema mengejutkan Alana yang dari tadi bengong.


“Eh, iya.. iya mau masuk dong.” Alana malu-malu, ia turun dari motor dan melepaskan helmnya.


“Yuk, Ibu pasti ada di dalam.” Gema menggandeng lembut tangan Alana dan membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci itu.


“Ibu, Gema pulang.” Gema setengah berteriak setelah melihat ruang tamu dan ruang tengah tampak kosong. Alana mengikutinya di belakang Gema, ia memandang sekeliling ruangan yang bersih dan rapi itu.


“Iya, aku akan tunggu disini, tapi kamar mandi kamu dimana? Aku mau numpang ke toilet nih.”


“Oh, ayo aku antar, kamar mandinya di samping dapur.”


Gema mengantarkan Alana ke kamar mandi, dan meninggalkannya untuk mencari ibunya di kamar. Ketika akan mengetuk pintu kamar itu, ibunya keluar dari dalam kamarnya.


“Gema, kamu baru datang Nak?” ibunya tersenyum melihat kedatangan Gema.


“Iya Bu, Gema baru aja sampai. Tadi Gema panggil-panggil, tapi Ibu nggak dengar. Ada seseorang yang Gema ajak kemari. Ayo kita ke depan.” Ibunya sudah tahu pasti Alana yang diajak Gema ke rumah, meskipun Gema tidak bercerita sebelumnya karena semalam ibunya sudah tidur saat Gema pulang. Ketika sudah sampai di ruang tamu, mereka tak melihat siapa-siapa disana.


“Nggak ada orang Nak? Emangnya kamu ngajak siapa?” tanya ibu Gema.

__ADS_1


“Lho dia belum kembali dari toilet,” gumam Gema. “Ibu tunggu disini sebentar, tadi waktu Gema tinggal dia pamit ke kamar mandi.”


Gema menuju kamar mandi, ia melihat pintu kamar mandinya terbuka dan tidak ada siapa-siapa di dalam. Gema sedikit khawatir, apa benar Alana takut bertemu dengan ibunya? Ia memutuskan untuk kembali ke ruang tamu, bebarengan dengan Alana masuk dari pintu depan sambil membawa bingkisan yang mereka beli tadi.


“Aku kira kamu pulang karena takut bertemu dengan ibuku?” tanya Gema seraya mengelus dadanya, ia lega Alana tidak pulang.


“Ihh, kamu apaan sih? Aku hanya ke depan ngambil ini. Kamu lupa kan tadi?”


“Iya juga ya.. Hahaha. Yuk, kita ke ruang tamu, Ibu udah nunggu.”


Kemudian mereka melangkah menuju ruang tamu, ibu Gema tersenyum manis menyambut hangat Alana saat Alana mencium tangannya. Masih sangat ramah sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia mengelus rambut panjang Alana dan seketika memeluk gadis manis itu. Alana tidak gugup lagi seperti tadi, ia makin nyaman dengan sikap ibu Gema yang sangat baik itu.


“Ibu apa kabar?” Alana berkata dengan sopan.


“Alhamdulillah, Ibu baik Nak Alana, bahkan sangat baik. Mari duduklah Nak,” ucap ibu Gema seraya mengajak duduk Alana. Alana pun mengikutinya, ia duduk di samping ibu Gema. Dan Gema duduk di depan mereka.


“Oh iya ini sedikit bingkisan buat Ibu. Maaf Alana tadi tidak sempat beli apa-apa Bu.” Alana memberikan bingkisan yang ia ambil dari motor Gema tadi.


“Terima kasih Nak, kamu nggak usah repot-repot. Ibu udah senang kamu mau main kesini. Ibu buatkan minuman dulu ya.” Alana mengiyakan, beruntungnya ia bertemu dengan Gema dan ibunya yang baik dan sangat ramah itu.


Mereka kemudian berbincang-bincang, sesekali tertawa bersama. Tak terasa hari sudah malam, Alana berpamitan pada ibu Gema. Gema pun berpamitan untuk mengantar Alana pulang. Ibu Gema mengantar sampai ke depan rumah, Alana mencium tangan ibu Gema, begitupun dengan Gema.


“Kamu bawa mobil aja Nak, kasian Nak Alana,tapi jangan ngebut, bawa anak gadis orang nih. Awas kalau sampai lecet sedikit,” ucap ibunya Gema membuat mereka tertawa bersama lagi.


“Iya Bu, Gema bawa mobil aja. Gema juga akan mengantar pulang Alana tanpa aa lecet sedikit pun. Ibu tenang aja,” jawab Gema sopan.


“Alana pulang ya Bu, kapan-kapan Alana mampir lagi.”

__ADS_1


“Iya Nak, salam untuk orang tua kamu ya.” Alana mengiyakan dan Gema segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.


__ADS_2