
Alana menghampiri Gema yang tengah tersenyum ke arahnya seraya melambaikan tangannya.
“Sayang, kamu kok bisa datang kesini. Bukannya....?”
“Iya, awalnya Pak Asep menerima kabar dari klien kita kalau beliau membatalkan meeting besok. Jadi aku disuruh balik sama Pak Asep, dan akhirnya aku langsung kesini. Masih belum ketinggalan kan?” jelas Gema.
“Syukurlah kamu bisa datang. Baru mau dimulai kok. Untung kamu nggak ketinggalan. Ayo kita kesana,” ajak Alana dengan sumringahnya, dia menggandeng tangan Gema menghampiri keluarganya disana.
“Selamat pagi Pak Alex, Bu Anne,” sapa Gema pada orang tua Alana yang tengah duduk di kursi tamu.
“Lho Gema, katanya kamu nggak bisa datang?” tanya Pak Alex.
“Iya Pak, tadinya saya berhalangan kesini karena ada pekerjaan mendadak untuk meeting besok. Ternyata meetingnya dibatalkan dan saya langsung kesini.” Gema menjelaskan kembali pada Pak Alex dan setelah mengiyakan mereka duduk bersama.
“Ibu kamu nggak ikut Nak?” tanya Bu Anne yang dari tadi melihat Gema sendiri.
“Ibu nanti datang di resepsi saja katanya, karena tadi Gema ke kantor dulu, selesai acara ini nanti Gema jemput ibu ke rumah.”
“Baiklah, sebentar lagi acaranya dimulai,” ucap Bu Anne dan Gema menganggukkan kepalanya.
Lima menit kemudian, acara ijab qabul pun dimulai. Pak Alex duduk di samping meja penghulu berhadapan dengan Pak Adi Lesmana, ayah Meta. Alka yang terlihat gelisah tidak tenang hingga keringatnya bercucuran. Sedangkan Meta juga terlihat grogi, ia tampak gugup juga. Karena acara ini sungguh sakral dan membuat semua orang terlihat tegang. Ketika pak penghulu mempersilakan Pak Adi Lesman untuk memulai ijab qabul, ayah Meta itu segera bergeser duduknya dan kini tengah menghadap Alka.
__ADS_1
Putri semata wayangnya kini akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat ia kagumi sejak awal bertemu. Alka, laki-laki yang sangat dicintai putrinya itu mampu memberikan kesan baik pada keluarganya, selain pekerja keras, Alka juga pintar dalam berbisnis. Alka pun tak pernah membuat putrinya bersedih atau meneteskan air mata sedikitpun. Karena itulah, ia percaya bahwa Alka akan menjaga dan mencintai putrinya dengan tulus.
Kemudian Pak Adi menyambut tangan Alka untuk segera melaksanakan ijba qabul. Alka dengan gugup mencoba menghembuskan nafasnya pelan-pelan agar lebih tenang. Dengan seksama ia mendengarkan calon ayah mertuanya memulai ijab qabul.
“Sudah siap Nak Alka?” tanya Pak Adi.
“Insya Allah saya siap,” jawab Alka mantap.
“Bismillahirrahmanirrahim. Alka Putra Jaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Meta Adi Lesmana dengan mas kawin cincin emas 24 karat dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Meta Adi Lesmana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Hanya dengan satu tarikan nafas, Alka mengucapkan ijab qabul dengan lantang dan lancar. Para saksi pun berkata,” Sah.”
Pak Alex dan Bu Anne terlihat berkaca-kaca, putranya kini sudah memiliki pendamping hidupnya. Begitu juga Alana, kakak tercintanya itu kini telah menjadi seorang suami dan akan segera berpisah dengannya. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi mereka saling menyayangi satu sama lain. Gema yang pertama kali melihat prosesi ijab qabul itu tadinya ikut gugup, namun perasaan itu kini telah sirna. Ia bangga pada Alka yang mampu mengucapkan kalimat sakral itu dengan tegas dan tidak ada kesalahan sedikitpun.
Sang penghulu mempersilakan Alka dan Meta untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan dan buku nikah mereka. Kemudian saling menyematkan cincin pada jara manis masing-masing. Meta mencium tangan Alka, setelah itu Alka mencium kening istrinya itu dengan lembut. Tepuk tangan anggota keluarga dan tamu yang hadir mampu mengubah suasana yang begitu menegangkan dari tadi itu.
Acara selanjutnya adalah prosesi sungkeman pada orang tua mereka. Kini mereka bersimpuh di hadapan orang tua mereka. Memohon doa restu agar pernikahan mereka langgeng hingga maut memisahkan. Semua yang menyaksikan prosesi itu merasa terharu, Alana sampai menitikkan air matanya. Gema mengusap pelan lengannya dan kemudian memeluknya untuk memberikan sedikit ketenangan dalam diri kekasihnya itu. Baru kali ini ia melihat Alana meneteskan air mata, walaupun itu adalah air mata kebahagiaan.
Selesai prosesi ijab qabul dan sungkeman, mereka kemudian mempersilakan para tamu undangan yang hadir untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Dan tak lupa memberikan pengumuman bahwa resepsi di hotel akan diadakan dua jam lagi. Mereka akan berangkat bersama-sama menuju tempat resepsi.
__ADS_1
Alka dan Meta terlihat masih duduk di pelaminan sederhana yang dibuat di taman rumahnya itu. Raut bahagia tengah menghiasi wajah keduanya, senyum manis masih mengembang di antara keduanya. Setelah foto bersama keluarga, mereka bersantai sejenak sambil menunggu jam keberangkatan ke hotel untuk acara resepsi nanti.
Alka menggenggam erat tangan Meta dan berkata,”Sayang, terima kasih kamu sudah mau menjadi istriku, pendamping hidupku, penyejuk jiwaku dan penghangat hatiku. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, semoga aku bisa menjadi imam yang baik bagimu.” Alka menatap mata Meta yang berkaca-kaca itu kemudian memeluknya.
“Sayang, terima kasih juga karena kamu mau menerima aku sebagai istrimu. Aku juga sangat mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri.Semoga aku bisa menjadi istri yang baik untukmu.” Meta berucap sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi, ia sungguh bahagia kini ia dan Alka akan memulai hidup baru menjadi sepasang suami istri. Ia berharap rumah tangganya akan bertahan sampai maut memisahkan.
“Ehemmm.” Alana dan Gema berdehem mendekati pasangan suami istri baru itu yang tengah sibuk berpelukan. Alka pun melepaskan pelukannya, begitupun dengan Meta.
“Alana, Gema.. Kalian,” ucap Alka seraya memeluk adiknya itu.
“Selamat ya Kak, aku doakan pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek, sampai maut memisahkan.” Doa Alana untuk kakaknya dan ia juga bergantian memeluk Meta.
“Selamat Kak Meta, semoga kalian bahagia selalu.”
“Aamin. Terima kasih Alana. Aku doakan kamu cepet nyusul,” bisik Meta di telinga Alana dan itu membuat pipi Alana merona merah.
“Selamat menempuh hidup baru Mas Alka, semoga bahagia.” Gema bersalaman lalu disambut pelukan oleh Alka.
“Terima kasih doanya, dan makasih juga kamu sudah mau datang di acara ini.”
“Mbak Meta, selamat ya, semoga kalian cepat dikasih momongan.” Gema menyalami Meta dan doa itupun diaminkan keduanya.
__ADS_1
“Kalian cepat nyusul ya,” ucap kedua pengantin baru itu.
Gema dan Alana saling menatap mendengar ucapan Alka dan Meta, mata mereka saling mengunci satu sama lain. Terbesit satu keinginan untuk kesana, tapi mereka masih mau menjalani hubungan ini dengan santai dan tidak terburu-buru. Kemudian mereka hanya bisa tersenyum kepada Alka dan Meta yang dari tadi terus memberi kode pada keduanya.