Gema Di Hatiku

Gema Di Hatiku
Titik Terang


__ADS_3

“Jadi istri dan anak almarhum Pak Arya ada di Bandung, Bu Amalia?” Pak Alex sedikit terkejut mendengar penuturan Bu Amalia.


“Iya Pak Alex, setelah kejadian itu Bu Nani melahirkan putra mereka, lalu ia pindah ke Bandung dan tidak pernah kembali ke Jogja sampai sekarang. Dia juga membawa anaknya, kalau tidak salah namanya Gema. Saya sangat merindukannya Pak,” jawab Bu Amalia lirih. Sontak semua terkejut mendengar Bu Amalia menyebut nama Gema.


“Nama anaknya Pak Arya siapa tadi Bu Amalia?” tanya Pak Alex kembali.


“Namanya Gema Putra, Pak Alex. Mungkin usianya sekitar 27 tahun sekarang, saya kesulitan mencari keberadaan mereka Pak, karena ada saham Pak Arya yang ia tinggalkan dulu. Dan saya berkewajiban mengembalikan itu pada Bu Nani dan anaknya.”


“Jadi anak Pak Arya adalah Gema,” kata Pak Alex, Alka dan Alana bebarengan hingga membuat Bu Amalia dan anaknya saling menoleh.


“Apa kalian mengenal Gema?” tanya Bu Amalia heran melihat raut wajah mereka bertiga.


“Iya Bu, Gema itu pacar saya. Dia memang lahir di Jogja, tapi dia tidak besar di Bandung Bu Amalia. Gema dan ibunya baru 3 tahun tinggal di Bandung sejak Gema kerja di travel,” kata Alana.


“Benarkah itu mbak Alana? Jadi tetangga mereka waktu itu berbohong pada saya kalau Bu Nani dan Gema sudah pindah ke Bandung. Pantas saja saat saya mencari mereka ke Bandung tidak ada yang mengenal mereka.” Bu Amalia berucap dengan sedikit bingung namun ia lega karena orang yang selama ini ia cari akan segera ia temukan. Ia pun tersenyum pada anak-anaknya, mereka juga terlihat merasa senang melihat raut ibunya.


“Iya Bu, mungkin saja Bu Nani waktu itu masih berkabung hingga dia punya alasan untuk menyembunyikan keberadaannya,” imbuh Pak Alex.

__ADS_1


“Benar juga Pak Alex, mungkin ini juga bisa disebut keajaiban Pak. Saat saya bekerja sama lagi dengan Bapak, saya pun jadi tahu keberadaan Bu Nani dan anaknya. Terima kasih sekali lagi,” kata Bu Amalia.


“Iya Bu Amalia, kesabaran Ibu selama ini membuahkan hasil. Seperti pepatah yang mengatakan, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui,” kata Pak Alex seraya tersenyum.


“Bu Amalia, kalau Ibu berkenan, saya bisa mengantarkan Ibu ke rumah Gema, tapi saat ini dia sedang ada di Jogja untuk mendampingi rombongan karyawan kami yang sedang liburan kesana,” kata Alana.


“Benarkah mbak Alana mau mengantarkan saya kesana? Saya sangat berterima kasih sekali, tidak masalah jika saya tidak bertemu dengan Gema, yang penting saya bisa ketemu Bu Nani.” Bu Amalia sangat senang sekali, ia hampir menitikkan air matanya karena tidak menyangka akan adanya hari ini.


“Iya Bu, nanti saya akan mengantar Ibu kesana. Silakan dilanjutkan kembali makannya.”


Mereka semua melanjutkan makan siang yang penuh dengan cerita itu. Selesai makan, mereka berkeliling pabrik untuk melihat-lihat kegiatan pabrik tekstil itu. Bu Amalia dan anak-anaknya bangga terhadap Pak Alex yang mampu bertahan selama ini. Mereka berharap kerjasama ini akan berlangsung lama, bahkan kalau perlu sampai ke anak cucu cicit mereka nanti.


“Pak Alex, sekali saya ucapkan terima kasih atas kerjasama ini.” Bu Amalia berucap seraya menjabat tangan Pak Alex diikuti Bagus dan Ayu.


“Sama-sama Bu Amalia, semoga pabrik kita akan semakin maju dengan kerjasama yang kedua kali ini. Oh iya Bu Amalia, saya mengundang Bu Amalia, mas Bagus dan mbak Ayu untuk datang ke acara pernikahan anak saya Alka minggu depan. Saya harap Ibu dan keluarga bisa hadir,” ucap Pak Alex setelah menyerahkan oleh-oleh kepada Bu Amalia.


“Oh tentu Pak Alex, saya dan anak-anak akan datang. Terima kasih atas undangannya. Lagi pula saya juga masih harus bolak balik ke Bandung juga Pak, selain urusan dengan Bu Nani, anak saya Bagus juga akan dapat orang Bandung juga,” kata Bu Amalia.

__ADS_1


“Benarkah mas Bagus? Wah selamat ya, semoga acaranya lancar,” ucap Pak Alex.


“Terima kasih Pak Alex doanya. Minggu depan kami pasti datang. Mas Alka dan mbak Alana terima kasih, kami pamit dulu,” kata Bagus seraya berpamitan pada Pak Alex, Alka dan Alana.


“Iya mas Bagus, Bu Amalia dan mbak Ayu, hati-hati di jalan,” kata Alka.


“Bu Amalia nanti malam saya antarkan Ibu ke rumah Bu Nani, saya jemput di depan hotel ya?” Alana hampir lupa untuk mengantarkan Bu Amalia nanti untuk ke rumah Gema.


“Tidak usah repot-repot mbak Alana, nanti dishare lokasi saja, mbak Alana bisa menunggu disana, kami akan datang nanti jam 7 malam,” kata Bu Amalia yang tak mau merepotkan mereka lagi.


“Baiklah kalau begitu Bu, saya langsung tunggu disana saja ya. Hati-hati di jalan semua.”


Akhirnya mereka bertiga kembali ke dalam kantor setelah Bu Amalia dan anak-anaknya meninggalkan pabrik. Harapan baru untuk mengembangkan pabrik ini akan segera terwujud. Bagaimanapun sebelum memutuskan untuk pensiun, Pak Alex ingin Alana fokus mengelola dengan baik pabriknya. Dan Pak Alex akan tetap memantau perkembangan pabrik baru di Bogor setelah Alka menikah nanti. Pabrik baru itupun nantinya akan kerjasama lagi dengan Bu Amalia sebagai pemasok bahan baku benang. Dan ini belum diketahui oleh Bu Amalia karena Pak Alex akan memberikan kejutan lagi untuk istri almarhum sahabatnya itu. Ia ingin menjalin persaudaraan kembali dengan mereka, dan ini adalah satu-satunya jalan yang tidak akan memutuskan tali persaudaraan itu.


Alana kembali ke ruangannya untuk menyimpan dokumen-dokumen kerjasama yang baru ia tanda tangani tadi. Karena pabrik sudah diatasnamakan Alana oleh Pak Alex setelah Alana kembali ke Indonesia meskipun masih dibantu oleh Alka. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya di sebelah ayahnya yang tengah bersantai di sofa ruangannya.


“Pa, aku bangga sama Papa, kerjasama yang Papa tunggu dari dulu akhirnya terwujud juga,” ujar Alana seraya mengacungkan dua jempolnya.

__ADS_1


“Makasih Nak, ini demi kalian. Papa tidak mau pensiun dini dengan sia-sia jika pabrik ini belum berkembang pesat seperti harapan Papa dan Mama. Ternyata, dunia itu sempit sekali. Dulu Papa mengenal baik Pak Arya, dan sekarang anaknya ada di tengah-tengah kita,” ucap Pak Alex.


“Iya Pa, aku juga nggak nyangka waktu Bu Amalia tadi bilang kalau anaknya Pak Arya itu Gema. Tuhan memang adil Pa, manusia yang bersabar pasti akan bertemu dengan ujung kesabarannya asalkan ia tidak putus asa, seperti Bu Amalia,” ucap Alana seraya menyunggingkan senyumnya.


__ADS_2